01

6 1 0
                                        

Ada begitu banyak pelarian yg bisa dilakukan. Semua tergantung pribadi tiap orang. Dan bagi lily, pelarian terbaik adalah musik dan gitar. Baginya petikan pada tiap senar gitarnya adalah segala perasaan duka yang dia lepaskan menjadi nada indah.

Maka, disinilah gadis bersurai hitam itu. Diatas panggung disebuah cafe. Memainkan senar gitarnya menguringi tiap lantunan merdu dalam nyanyiannya. "Lagu rindu" lah judul lagu yang ia nyanyikan saat ini.

Sebelum menyelesaikan bait terakhir pada part lagunya ia berhenti sejenak, menghela nafas dan memejamkan mata seolah menikmati perasaan dalam yang ia rasakan. Perasaan rindu.

Dan ya, Lily menyelesaikan nyanyiannya dengan sangat apik dan disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Lily kemudian tersenyum tipis mengucapkan terimakasih dan berjalan turun.

Di bawah panggung Liky sudah disambut oleh Tante Laras, yang tak lain adalah pemilik cafe tempatnya menyalurkan hobinya ini. "Selalu luar biasa lily kecil tante!"

"Eheheh, makasih tan." Jawab Lily cengengesn sembari menerima uluran amplop berisi bayaran dari penampilannya.

"Sudah mau pergi? Kenapa nggak tinggal bentar? Nanti tante yang izin ke bunda deh, lagian kita juga udah lama enggak ngobrol-ngobrol." Lily hanya menjawab dengan senyum tipis kemudian pamit pergi dan melangkah meninggalkan cafe.

Sepanjang jalan menuju halte tak hentinya bibir tipis anyelir bersenandung mengikuti irama lagu yang ia dengar dari headphonenya.

Tak berselang berapa lama bis yanh ditunggunya datang. Beruntungnya hari in bis yang ditumbanginya tidak ramai jadilah disini dia. Bagian paling belakang dekat jendela dengan headphone yanh setia menemaninya.

Waktu berjalan sangat lama disisi gadis itu. Lily sadar dia kesepian, diantara segala ramai yang selalu diharapkan orang-orqng tentang Lily dia sebenarnya justru adalah orang yang paling kesepian. Tapi bukan begitulah cara pandang bekerja? Membandingkan tanpa tau yang sebenarnya terjadi. Dasar manusia.

Diantara lamunannya tiba-tiba Lily tersentak saat tiba-tiba ada sebuah hoodie dipangkuannya. Dan saat menoleh dia mendapati seorang cowok duduk disampingnya dengan acuh yang justru asik bermain hp setelah meletakkan hoodienya dipangkuan Lily. Lily mengernyit heran, ini cowok gila ya? Kurang lebih begitulah kalimat yang berputar dikepala gadis mungil itu.

"lo pake rok kependekan, pake hoodie gue. Ga lo balikin juga gapapa. Lain kali jangan pake rok sependek iru dikendaraan umum kayak gini." kalimat itu mengalir begitu saja dari cowok asing disamping Lily setelah hampir 30 menit mereka saling terdiam.

Dan saat baru saja Lily ingin membalas cowk itu sudah beranjak turun. Ingin mengejar tapi dia harus pulang, akhirnya Lily memutuskan untuk membiarkannya saja. "yaudah sih ya lumayan dapet hoodie baru, eheheh"

Kurang lebih 10menit dari halte cowok tadi turun Lily juga turun. Dari sini dia memilih jalan kaki karena jarak rumahnya memang tidak terlalu jauh dari halte tersebut. Sebelum turun tadi Lily sedikit menimang tentang nasib hoodie dari cowok asing tadi sampai akhirnya dia memutuskan untuk memakainya saja.

Sesampainya dirumah Lily tiba-tiba menegang. Gerakannya terhenti di knop pintu depan rumahnya, gengamannya menguat. Setelah cukup pelik bergelut dengan hatinya Lily memilih melepaskan gengamannya pada knop pintu dan berjalan duduk dikursi samping depan pintu. Dikeluarkannya lagi headphone kesayangannya yang tadi sudah masuk saku hoodinya saat sampai digerbang rumah.

Lily tidak benar-benar menyalakan musik. Dia justru meresapi teriakan-teriakan dari dalam rumah sambil memejamkan matanya. Manusia kadang memang senaif itu, memilih pura-pura tidak perduli saat hatinya hancur berantakan hanya agar tidak dipandang lemah. Dan selama 17 tahun hidupnya Lily selalu bersembunyi dari kenyataan dengan seolah tidak perduli padahal nyatanya dia tau segalanya. Baginya lebih baik diam dan jadi pengamat ketimbang terlibat dan menghancurkan segalanya. Tapi sekali lagi, dia salah. Pilihannya berdiam diri hanya bagaikan bom waktu yabg siap meledak kapan saja.

Lily terlonjak saat pintu depan rumahnya dibuka dengan kasar. "Lily? Lo udah balik?" ucap seorang cowok yang baru saja keluar dari rumahnya.

"belom, ini penampakan." ucap Lily acuh sambil berdiri untuk masuk.

"li? Jangan bilang bokap." mendengar itu Lily berhenti diambang pintu dan untuk sekali lagi lily menghembuskan nafasnya.

"gue bisa buta dan tuli kak, tapi waktu dan semesta enggak. Gue gak tau sampe kapan kisah menyakitkan ini bakal berlangsung. Tapi lo selalu tau gue bakal disisi lo, selama lo ga ngecewain gue." Saat Lily hendak beranjak tiba-tiba dia merasa dipeluk dari belakang,

"Li gue minta maaf." sekali lagi, sekali lagi Lily harus mendengar kata maaf dari Rajendra Yudhistira, kakaknya. Mendengar pilunya suara sang kakak Lily berbalik dan menatap kakaknya.

"Rajendra Yudhistira dengar! Saya Anyelir Gita Yudhistira bakal selalu ada buat lo, dengan catatan lo ga bakal kecewain gue." ucap Lily memberi keyakinan pada sang kakak.

Mendengar ucapan adiknya barusan seperti hatinya disiram air es, Jendra tau bahwa Lily selalu bersedia menerimanya. Bahwa sebagaimanapun ternoda dirinya selalu ada Lily gadis kecilnya yang bersedia membersihkan segala noda dan lukanya. Sambil ngomel-ngomel batinnya menambahkan.

"jangan lupa makan dan transfer duit ke atm gue, gue mau mandi." setelahnya Lily langsung masuk dan Rajendra pergi dengan mobilnya kembali ke apartemnya.

Ya begitulah. Semenjak bekerja Rajendra memutuskan untuk tinggal diapartemennya sendiri. Tentunya dengan alasan yang tak pernah mampu Lily jelaskan. Kemudian pikiran Lily mengulang kejadian setahun yang lalu.

"apa fasilitas dirumah kurang samapi kamu mau pergi?" ucap Bundanya.

"Rajendra udah gede Bun, Jendra mau mandiri." ucapnya sekali lagi untuk meyakinkan sang Bunda yang masih setia memegang kopernya.

"udahlah Bun, biarin aja si kakak nyebelin ini diapartemen. Bunda bisa kesana kalo kangen, dia juga pasti pulang lah. Ya sebulan sekali udah alhamdulilah kalo itu. Hahaha." kali ini Lily mencoba meyakinkan sang bunda. Sebenarmya Lily tau alasan sebernya sang kakak memilih pergi. Tapi biarlah.

"yaya tuh si adek setuju juga. Ayah juga udah ngizinin bun."

"ok bunda izinin. Tapi inget ya kak gak boleh nakal!" akhirnya Bunda Ayu mengizinkan, catat: dengan berat hati.

Setelah mendapat izin Jendra pun memeluk bunda ayah dan lily kemudian pada permpuan yang sedari tadi hanya diam menyaksikan mereka berdebat. Dalam diam, dia hanya pengamat.

"gue pergi ya? Jaga diri baik-baik Lintang." kemudian dipeluknya erat gadis yng juga adiknya itu.

Setelah kesadaranny kembali Lily menghembuskan nafasnya. "udah pulang dek?" sapa Kak lintang.

Mau tidak mau Lily menoleh kesamping, kearah kakaknya yang berjalan mendekat dari dapur. Melihat penampilan kakaknya yang berantakan Lily sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tak mau kakaknya sadar bahwa Lily tau dia kembali menarik kesadrannya dan kembali jadi adik kecil yang usil untuk kakaknya.

"yaelah perhatian banget si lu kak bikinin gue minum segala." ucap Lily asal kemudian meminum, lemon tea buatan Lintang.

"kan kebiasaan kamu tuh dek! Cepet mandi terus kemeja makan! Kakka tadi udah masak makanan kesukaan kamu." Lily hanya memutar bola matanya jengah sembari berjalan kekamarnya dengan tetap meminum lemon teanya.

"Lily berhenti!" baru dia ingin menoleh kakaknya sudah ada didepannya.

"apa sih kak lintang ku sayang?"

"Kamu pacaran ya?" tanya lintang penuh selidik sambil mengambil gelas kosong ditangan Lily

"heh? Lo gila? Mana ada gue pacaran? Ngaco lu kak." Lily sendiri bingung darimana kakak cantiknya ini mendapat teori dirinya berpacaran.

"Ini hoodie cowok kan? Bau parfumnya juga bau parfum cowok. Wah bilangin jendra nih." Lily hanya mengumpat dalam hati dia lupa Lintang juga mata-mata Jendra dalam mengawasinya.

"ok gak usah ngomong kasar dek. Gue ga bilang Jendra tapi lo harus bilang sendiei sama dia, sebelum dia tau sendiri dan gue yakin lo tau resikonya." setelah selesai dengan dongengnya Lintang pergi dan Lily pun kembali acuh.

"gue gak kenal sama yang punya lo, jadi jangan nyusahin gue ya?" ucap Lily pada hoodinya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 10, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SceneryWhere stories live. Discover now