Dia...
Nyata dimimpiku, namun mimpi dinyataku.
Dia adalah pria yang tak bisa ku bersamai.
Tutur katanya lebih manis dari glukosa, yang dapat membuatku hiperglikemi sewaktu.
Aku bersyukur bahwa tuhan masih memperhitungkan eksistensi ku di dunia nyata karena melalui mataharinya, aku terbangun siang ini.
Haahhhh.... Siang?!!!!!
"duh...Apa yang akan kamu isi di ujian mu nanti kalo kamu masih bermalasan begini.huuftttt~"
Dengan mengumpat dan penuh rasa bersalah aku mengutuk diriku yang berani-beraninya tidur padahal ujian sudah semakin dekat dan aku belum mempersiapkan segala sesuatunya dengan persiapan yang matang.
"seharusnya aku ngak tidur."
Dengan nada kesal aku menyalahkan kelalaianku.
Dringg...!!!!
(you have a new message)
"guys.. Gimana kalo besok kita belajarnya berkelompok saja biar lebih mudah mengingatnya."
temanku menawarkan solusi bagus untuk manusia dengan sistem belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) seperti aku.
Hmm by the way...
Aku mempunyai 6 orang sahabat yang sangat aku sayangi, kami menyebut hubungan ini "till jannah" insyaallah.. Aku yakin bahwa setiap doa baik akan di kabulkan dengan jawaban terbaik pula, begitu pula dengan persahabatan kami.
Amin...
Seperti kataku..
Siang itu langit dengan gagahnya mempersembahkan matahari untuk menyinari bumi indah jambi, kami berkumpul untuk mulai belajar kelompok dan membahas slide demi slide bersama.
"semangat guys.. Pokoknya ujian kali ini harus one shoot!"
Kata semangat ini sejatinya yang ku perlukan daripada umpatan-umpatan keji akibat rasa bersalahku kepada diriku. Aku menyadari memang betul sistem kebut semalam membuatku kewalahan. namun apalah daya, slide dengan IT (integrated teaching) yang membludak ditambah tugas yang bertubi-tubi, belum lagi praktikum sana-sini, memaksa ku harus menumpuknya satu-persatu dan harus bersedia kewalahan serta mabuk slide di akhir.
Untuk mahasiswa lama sepertiku, seharusnya aku sudah paham pola belajar yang baik itu seperti apa, namun kelalaian ini masih saja membuatku ingin menyalahkan diriku.
"Stopppppp......!"
Aku mencoba berdamai dengan diriku, mencoba menata ulang ruang fikiranku dan menetralkan ketidak seimbangan ini. Butuh vasopressor rasanya melihat slide yang menggunung ini.
Hari ini aku ingin rasanya menamatkan semua slide yang ada, dan mulai beranjak membahas soal agar lebih terbiasa di ujian nanti.
Yah... Kita semua tahu bahwa setiap maksud baik pasti ada saja perdebatan antara saiton dan diri ini.
Godaanpun dimulai ketika hp ku berdering.
Dringgg.....!!!!
(you have a new message)
"kamu kenapa? Apa salah aku?"
Oh my... Please don't distrub my consentration!
Sebenarnya aku menyesal karena telah melayani perdebatan yang sia-sia itu. Tapi entah mengapa, belum clear rasanya jika ini tidak benar-benar dituntaskan dengan baik aku takut akan menganggu konsentrasi belajarku.
Dengan perasaan yang tak bisa ku terjemahkan aku membalas pesan singkatnya.
"aku gpp, hanya saja aku akan lebih tenang jika kita berakhir. Aku yang harusnya bertanya , ada apa dengan kamu!."
Yang benar saja, menjelang ujian ku yang tinggal 2 hari lagi, manusia ini harus mengacaukan konsentrasi belajarku. sikapnya yang mencoreng kepercayaanku membuatku merasa jera mengenalnya.
Pesanpun berlanjut dengan panggilan pembelaan.
Kringggg...kringggg....kringg!!!
Lama aku berfikir apakah aku harus mengangkat panggilannya dan menyudahi semua ini?
"hey...! Hp mu berdering, melamun aja, Mau ujian kok fikirannya masih buyar sana-sini.." sambar sahabatku.
Panggilan pertama terlewat.
Kringg...kring...kringgg..!!!
Hmm...
Baiklah.... Ku relakan telingaku mendengar setiap pembelaannya.
Aku menjawab panggilannya tanpa memulai untuk bersuara.
"kamu kenapa, aku salah apa?"
Masih saja dengan pertanyaan polos seolah dirinya yang teraniaya.
Aku masih bungkam, berharap pertanyaan lain muncul.
"pokoknya aku ga mau hubungan kita berakhir karena persoalan yang gak jelas ini." tahannya.
"loh, enggak jelas gimana? Sudah jelas kamu berbohong sama aku, kenapa tidak mengaku saja kalo kamu memang bermain dibelakangku selama ini. Bisa-bisanya kamu bilang kamu sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa pada wanita yang baru kamu kenal hari ini, lantas sekarang pura-pura bertanya aku kenapa. Bagian mana yang tidak jelas? Sini aku perjelas, kita cukup sampai disini. Cukup jelas? "
Akupun terpancing amarah yang sebenarnya aku enggan berlarut dalam klise-klise manisnya.
"yaampun.. Aku dari tadi ngerjain tugas dari seniorku, hp ku aku letakkan diatas meja sedangkan aku hanya fokus ke komputer dihadapanku. Kapan aku sempat membalas chat wanita yang kamu maksud? Itu siapa aku pun ngak kenal."
Oiya.. Rey adalah pacarku sebelum negara api menyerang, dan sebelum dia menghianati hubungan kami. Dia merupakan seorang perwira dengan pangkat letnan dua di salah satu batalyon di bandung.
Aku tahu betul bagaimana persis caranya dalam membalas chat untuk berinteraksi dengan orang lain, begitupun gaya bahasa dan tanda baca yang ia gunakan, namun ia menyangkalnya. Lagi-lagi aku tak ingin berlarut dalam alasannya yang tak bisa kupercaya ini, aku lebih memilih untuk mematikan panggilannya dan mencoba menatap kertas print yang ada dihadapanku ini berharap aku meresapi setiap kata yang lebih bermakna dari sekedar kata cinta yang ternyata bualan semata.
Kringgg...kring...kring!!!!!
Ternyata rey adalah prajurit yang tangguh. Dia kembali menelpon ku setelah panggilannya aku matikan.
Oh god....
Aku tak ingin lagi bertemu dan berhubungan dengan orang seperti dia. Bisa-bisanya dia bermain dibelakangku, belum lagi hal yang tidak aku ketahui entah sebagai apa diriku di hatinya.
Aku menyadari perubahan sikapnya sejak sebulan yang lalu. Dia menjadi lebih sibuk dan jarang ada kabar, aku tak begitu mempermasalahkan hal yang demikian karena akupun sadar bahwa 24jamnya adalah untuk berbakti kepada sang merah putih.
Tapi sikapnya berubah, dia menjadi seorang pelupa bahkan terhadap pertanyaan yang sudah ditanyakannya 5 menit lalu.
Aku kesal setiap kali dia menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, dengan intensitas pertanyaan yang lebih dari 2x.
Dering panggilan pun berganti menjadi pesan.
"pokoknya aku tetap ingin mempertahankan hubungan ini, aku ngak mau putus. Sekarang kamu tenangin diri kamu dulu, nanti kamu bicara sama temanku bahkan ibu ku. Aku mau nunjukin kalo aku serius sama kamu."
Oh no, Cukup !!!!!
Sayang, maafkan aku...
Aku tak bisa berlarut dalam bualan manismu.
Ku akui bersama kata-kata indahmu aku bahkan bisa menyelami dalamnya lautan.
Bersama kata-kata indahmu pula, bahkan aku bisa menjelajahi langit ketujuh.
Tapi sejatinya hakekat mimpi ialah yang berada dibawah alam sadar, dan ruh ku pun telah kembali dalam penjelajahannya.
Ku akui kamu hanya pelangi yang berbaur bersama hujan, indah tapi sementara.
Kini siangku cerah menyapa, aku harus bergesas menapaki jalanku sendiri dengan bermodal kompas yang berupa naluri.
Maaf, tapi berhentilah saling mencari.
