PAGI DAN CINTA
____
Sedikit pun, aku tidak pernah tertarik padamu. Pria jangkung bermata sipit, dengan hidung mancung dan bibir tipis yang kemerahan.
Wajahmu memang tampan, itu bisa disadari meski hanya sekali pandang. Mungkin, anak-anak alay akan memanggilmu 'Oppa korea'.
Sungguh, aku tidak pernah berpikir akan menyukaimu suatu hari nanti. Terlebih, ketika teman dekatku Dian memberi tahu tentang sisi buruk dirimu padaku.
Dia bilang, kau hanyalah seorang playboy. Tukang main wanita. Tak pantas untuk kusayangi. Karena aku adalayíh perempuan perasa yang sangat sulit jatuh cinta. Kau tahu 'kan, ketika seseoyÎrang sukar jatuh cinta, itu artinya ia memiliki perasaan istimewa. Ia takkan sembarangan menjatuhkan hati, dan ketika hati itu jatuh padamu, ia takkan mudah pula menghentikannya.
Berawal dari sapaan biasa di gerbang sekolah, untuk pertama kalinya kita bertatap muka.
"Pagi," sapamu, dengan senyum yang menerbitkan lesung pipit kecil di pipi sebelah kanan. Dan dari dekat sini, aku bisa melihat setitik tahi lalat di dagumu, tepat di bawah bibir yang membuat senyum itu bertambah manis.
Sebenarnya aku tak berniat menjawab. Tapi itu tidak sopan. Jadi terpaksa kujawab, "Iya".
Kau tahu, saat itu, aku mati-matian menyembunyikan wajah darimu. Takut akan kau goda karena paras yang kata Ibuku 'ayu'.
"Kenapa sih nunduk terus? Sepatunya baru ya?" tanyamu dengan nada seolah mengejek. Dahiku seketika mengernyit, dan kualihkan pandangan ke wajahmu. Wajah berkulit putih dengan beberapa buah jerawat yang baru tumbuh di sekitar pipi.
Kau langsung tersenyum lagi.
"Nah, jadi kelihatan deh muka barbie-nya!" Serumu sambil menaik-turunkan alis. Iseng.
Aku berdecih, lalu membuang muka. Pikiranku sibuk mengira-ngira kau mau apa. Maksudku, tidak seperti biasanya kau dan aku bisa berbarengan menuju kelas. Biasanya aku selalu melihatmu kumpul bersama teman-temanmu di warung kecil dekat parkiran siswa.
"Nanti kita pulang bareng ya?" Aku tidak tahu, apa itu ajakan atau bukan.
"Maksudnya?"
"Gak ada maksud apa-apa. Pokoknya nanti siang kita pulang bareng. Titik."
'Ihh, apa-apaan? Siapa elo seenaknya bilang gitu! Lo pikir gue mau pulang bareng elo? Berdua doang? Hih, sasar playboy kelas teri!' batinku memberontak.
"Gini, Micin, maksud gue nanti siang kita pulang bareng itu, karena kita satu sekolah. Saat bel pulang berbunyi, itu artinya semua murid harus pulang.
Lo dan gue, kita sama-sama murid di sini. Jadi kita bakal pulang bareng saat bel itu berkumandang."
Mataku membulat seketika. Jadi gitu maksudnya?
"Iya, geer banget sih!" ucapmu menjulurkan lidah, saat aku menyuarakan isi pikiran. Aku tertawa geli karena pikiran burukku, dan mungkin, tawaku itu langsung menghipnotis dirimu. Yi
Sejak saat itu, pagi-pagi selanjutnya kau jadi lebih sering berada di dekat pintu gerbang. Seolah menungguku datang dan kita akan menuju kelas bersama-sama.
******
Di suatu pagi yang basah, aku heran karena tak menemukanmu di dekat gerbang. Angin bulan November mengibarkan rambutku, dingin.
Rintik gerimis kembali turun setelah tadi sempat turun pula saat aku masih di rumah.
"Kemana kamu, Ki?" Ada yang kosong dalam hati. Setelah berhari-hari kita saling bicara, lalu kini kau tak ada.
Jangan-jangan, kau hanya permainkanku saja? Maksudku, kau hanya penasaran denganku lalu setelah mengetahui bahwa aku ... membosankan, kau memilih pergi?
Hah! Apa dayaku, aku hanya gadis biasa yang tak bisa untuk tidak luluh menghadapi pria sempurna (sepertimu).
"Hei! Maaf, aku kesiangan!" suaramu tiba-tiba menggelegar dari arah belakang. Aku menoleh, dan kau ... memayungiku dengan sweater cokelat.
Warna yang senada dengan irismu yang terang.
Aku mendongak, dan hidung kita hampir saja bersentuhan. Senyum tersungging di bibirmu.
Itu ... sungguh adegan yang klise. Tapi romantis!
Tiba-tiba, "Ki ...?"
"Iya, Sha?"
"Kapan terakhir sweater ini dicuci?!"
Aku menutup hidung karena seromantis apa pun adegan ini, aroma di sweater-mu terus saja mengganggu.
"Elah, Sha! Jangan rusak adegan romance ini dengan pertanyaan yang menyinggung perasaanku!"
******
"Sashmita Lilliana?" Tiffany, anak kelas sebelah yang sangat populer karena menjadi wakil sekolah di olimpiade Matematika se-DKI dan jadi pemenangnya.
Dia dan kau berada dalam satu kelas, dan gossip tentang kedekatan kalian, sudah lama sekali terdengar telingaku.
"Iya?" Aku mengangkat alis.
"Dengar ya, cantik. Saya mohon sekali sama Anda, jauh-jauhlah dari Kiki. Kau pasti tahu hubunganku dengan dia itu seperti apa? Jangan jadi orang ketiga di antara kami!" Dia berucap dengan penekanan di setiap kata.
"Baiklah, Kak. Lagi pula, saya tidak pernah sengaja mendekati dia. Dia-lah yang melakukan itu, jadi, seharusnya Anda mengatakan itu ke Dia," jawabku enteng, sambil mengangkat kedua bahu.
"Well, setidaknya Saya sudah memperingati. Tahu diri ya, cantik." Dia mengakhiri percakapan menjengkelkan ini sambil mengibaskan rambut.
Kau tahu, itu adalah salah satu bagian yang tidak kusukai dari kisah ini! Dan sejak saat itu, aku tidak pernah mau bertemu lagi denganmu.
Benar kata Dian, kau hanyalah seorang playboy!
Aku benci kau! Kenapa harus ada hari di mana kita saling bicara? Jika boleh memilih, lebih baik aku hanya ditakdirkan untuk mengenalmu saja dan tak perlu lebih!
"Sasha!" Kau mengejar ketika aku lari menjauh. Pagi ini dan untuk pagi berikutnya, aku akan membiasakan diri tanpamu.
Aku tidak mau dekat-dekat dengan siapa pun yang suka tebar pesona.
"Sasha ih! Capek!" Akhirnya kau menarik paksa pergelangan tanganku.
"Lepasin!"
"I'll never do it!" Genggamanmu semakin erat.
"Please, Ki!"
"Why?" Genggaman itu melonggar.
"'Cause I hate you!"
Dan genggaman itu akhirnya terlepas.
"Apa alasanmu membenciku?"
Tidak, aku tidak boleh luluh pada tatapan tajam yang menghujam jantung hati ini, tidak!
"Karena elo, PLAYER, Ki! Jangan berani-berani mendekati gue lagi, karena Tiffany juga punya hati!"
******
Kenapa harus ada luka ketika aku mulai merasakan cinta? Sesingkat itukah kebahagiaan yang boleh kunikmati?
Dian, dia pantas menganggapku bodoh. Karena sebelumnya ia pernah bilang bahwa kau adalah pemain wanita. Dan aku malah menjatuhkan hati ini padamu.
Adalah sakit ketika kita menjatuhkan hati pada orang yang salah.
Namun ada hal yang lebih merepotkan dari pada merasakan sakit ini yaitu, rindu.
AyÍku rindu melewati pagi yang berembun bersamamu, aku rindu mendapat senyuyÍmmu yang serupa dengan mentari pagi; menghangatkan, aku rindu pada kejadian konyol yang selalu terjadi di antara kita, Ki.
"Sha, you know my name, but not my story. Jangan kenali aku dari pembicaraan orang lain, nilai aku sesuai dengan apa yang kau lihat," ucapmu ketika aku baru keluar kelas. Bel pulang sudah berbunyi dan kita pulang bareng lagi.
Kau mensejajari langkahku, dan kita beriringan melewati koridor kelas dalam keheningan.
Kau dekat, tapi terasa jauh. Tubuhmu tinggi mejulang, ingin sekali kurengkuh.
Aku mendogak, memandangmu dari samping. Kau terlihat seperti lukisan maha indah karya maestro profesional. Ditambah dengan biasan cahaya selepas hujan, kau ... sempurna.
"Sha! Kenapa bengong?" Kau balik melihatku. Senyum manismu senantiasa terbit, indah bagai pelangi.
"Uhm--" aku menggeleng kikuk, lalu mengalihkan pandangan ke arah dinding.
"Sha ... " Kau menghentikan langkah, dan aku mengikuti.
"Iya?"
"I love you."
******
Kau benar, aku tidak boleh menilidyíyíai seseorang berdasarkan 'pembicaraan' orang lain.
Karena mungkin orang lain tersebut memiliki maksud tertentu berbicara itu. Dan yang dia bilang belum tentu benar.
Tiffany ternyata sangat terbobsesi padamu, dia ingin memilikimu dan dia sengaja membual.
Dia dan kau tidak memiliki hubungan khusus apa pun. Dia hanya ingin aku menjauhimu.
Sekarang, aku merasa jadi manusia paling berharga dalam kehidupanmu. Aku merasa bangga karena dicintai pria sempurna. Dan aku bahagia!
Meski bahagia, perjalanan kisah kita selalu ada orang ketiga. Selalu ada orang lain yang ingin perpisahan di antara kita.
"Memang susah, sayang sama laki-laki yang disukai banyak orang." Dian memberi tanggapan.
"Ya, begitulah. Kadang aku merasa lelah, Di. Tapi sekaligus bangga," ucapku sambil tersenyum. Di dalam benakku, menari-nari sosokmu sedang menatap ke arahku. Sementara belasan wanita berdiri di sekelilingmu.
"Sha, aku ingin membuat pengakuan." Tiba-tiba nada suara Dian yang semula santai dan cuek berubah serius.
"Pengakuan apa?"
Dian terlihat berpikir keras, dia diam untuk beberapa saat.
"Pengakuan apa?" Kuulang pertanyaan.
"Sebenarnya aku ... jatuh cinta pada Kiki."
Aku mengangkat alis, otakku berusaha mencerna arti dari perkataannya. Dia ... Dian ... Menyukaimu juga?
"Dan Kiki mengajakku selingkuh di belakangmu. But I swear, aku menolaknya Sha. Meski hatiku berontak ingin, tapi aku menghargai persahabatan kita."
Tiba-tiba kepalaku sakit. Seperti ada batu puluhan kilo gram menempa di sana.
Aku marah dan kecewa, sekaligus sedih.
Bulir bening bergumpalan di kelopak mata. Mereka saling mendesak ingin keluar.
Lalu tangisanku pecah.
******
"Terserah, Sha. Aku lelah repot-repot meyakinkanmu bahwa yang orang lain katakan itu tidak benar.
Dian, Tiffany atau siapa pun, aku tidak pernah menyukai mereka. Aku mencintaimu, dan itu sudah jelas. Aku mendekatimu, berusaha meyakinkanmu tentang perasaan ini, lalu apa? Kau malah mendengarkan ocehan mereka yang belum tentu benar. Samar.
Sha, perlu aku bilang bahwa Dian juga terobsesi padaku? Agar kau percaya lagi?
Lalu bagaimana nanti, bila ada gadis lain yang mengaku jadi kekasihku lagi? Kau akan marah lagi, merajuk lagi? Dan aku akan menjelaskan lagi?
Itu sungguh melelahkan.
Sekarang, ambil jalanmu sendiri. Biar aku meniti jalanku sendirian. Kita harus terus berjalan, meski dengan arah berlainan.
I love you, Sha. But I can't be with you.
Forget me, but don't my memories."
Ki, itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan. Aku benci pada kenyataan bahwa Dian ternyata bukan sahabatku lagi. Dia sama seperti pengagum fanatikmu yang lain.
Dan yang paling kubenci adalah, kau memilih pergi.
Kau berhenti. Kau berhenti berjuang.
Kini, siapa lagi yang akan menerbitkan seutas harapan di pagi hariku yang dingin? Siapa lagi yang akan membuatku bahagia karena merasa memliki hal berharga?
Siapa?
Pagi-pagi berikutnya hanya kulewati bersama kenangan.
____
End
