1

20 4 0
                                        

Matahari mulai menampakkan cahayanya. Aktivitas pagi di ibukota sudah mulai terasa. Kondektur metromini berteriak-teriak  memanggil penumpang, Gerombolan anak sekolah yang berceloteh riang, para pekerja yang mulai sibuk dengan gadget di tangan mereka, dan berbagai kegiatan lain yang dilakukan para penumpang metromini jurusan Rawa badak.
Di ujung jalan besar, seorang gadis dengan setelan kerja berwarna marun, sepatu berheels 7 cm dan rambut sebahu yang ditata sempurna, melambaikan tangannya untuk menghentikan metromini. Sepintas tak ada yang spesial dengan  gadis tersebut, hanya saja orang-orang pasti akan dua kali meliriknya karena tas ransel butut yang digendongnya. Tanpa banyak kata, gadis itu bergegas naik saat metromini menepi dan segera memilih tempat duduk.
"Tarik piiiiiiiir" seruan kondektur memberi aba-aba agar metromini segera berangkat dan bergabung dengan kemacetan ibukota.
Para penumpang yang lain tampak masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Di bangku paling ujung, gadis yang baru naik memilih membuka iPad dan mendengarkan musik sembari memejamkan mata.
Tanpa ia sadari, metromini terus Bergerak membawanya menjemput rezeki di kantor baru yang akan ditempatinya.
"Sentuuul... Akhir sentulll ayo turun" teriakan kondektur membangunkan gadis itu, dan segera ia pun turun dari metromini setelah membayar ongkos pada sang kondektur.
" Ambil aja kembaliannya bang" serunya sambil berjalan cepat menembus kerumunan orang yang keluar dari metromini.
" Si eneng bisa aja bercandanya, uang pas gini, mana ada kembalian? " Gerutu sang kondektur dengan wajah kusam.

***

"Stooop, stop tolong tunggu saya, please tunggu....!" Abriani, gadis beransel butut itu mencoba menghentikan laju lift dengan teriakannya.
Beruntungnya, di dalam lift tersebut hanya terisi 1 orang sehingga tubuh langsing Abriani masih muat dalam lift tersebut.
"Ting"
Seorang laki-laki berpakaian perlente tersenyum sejenak sambil memencet tombol lift agar menutup dan naik ke lantai yang dituju.
"Makasih mas, sudah mau nungguin saya. Ini hari pertama saya kerja disini. Mas juga kerja disini ya? Kenalin, saya Abriani, staf baru divisi Marketing, Mas siapa? Dari bagian mana? " Cerocos Abriani menghilangkan kecanggungan sambil mengulurkan tangan.
"Emh, Oh, iya sama-sama. Saya Miko, divisi marketing juga." Sahut pria tadi dengan agak terbata-bata, mungkin sedikit terkejut karena disapa oleh orang asing.
" Wah, kebetulan ya, Mas, mohon bantuannya ya Mas, saya kan junior disini, dan sekali lagi terima kasih" Abriani mengangguk sembari menutup obrolan.
"Kaku banget nih orang kayaknya!" Batin Abriani berseru.
" Eh iya, mba eh dik eh apa ya saya manggil nya? " Kata Miko masih dengan terbata-bata.
" Di rumah saya dipanggil Riani, kalo teman-teman manggilnya Bri, Mas juga boleh manggil saya Bri aja, supaya akrab" seru Abriani sok akrab.
" Oh iya Bri, Abriani, ya" kata Miko canggung dan seperti terpaksa.
" Mas Miko, Bri boleh minta tolong?" Abriani memohon dengan puppy eyes dan tangan ditangkupkan ke dada.
" Kenapa dik, eh Bri?" Seru Miko.
" Boleh ga, nanti Bri dianterin ke ruangan manager? Bri belum tau soalnya" masih dengan posisi memohon Abriani mencoba membujuk Miko.
" Oh iya eh ya boleh deh". Miko menjawab masih dengan terpatah-patah.
" Makasih ya, Mas" Abriani menghentikan aksi memohonnya dan matanya mulai sibuk memperhatikan isi kantor.
Saat ini, mereka sudah sampai di lobi kantor dan tanpa membuang waktu mereka langsung menuju ruangan manager marketing.
" Itu ruangannya mba eh dik, eh Bri..." Miko menunjuk salah satu pintu yang bertuliskan marketing manager.
" Kayaknya Bri belum datang, kamu tunggu aja di dalam!" Tanpa permisi Miko segera berlalu meninggalkan Abriani terbengong dengan kata-kata terakhirnya.
" Gue kan udah disini, maksudnya Bri belum datang apa ya? " Abriani berbicara sendiri.
" Anu Ah elap. Mending gue liat-liat aja kantor pak Manager, kan disuruh nunggu di dalam."
Segera Abriani masuk dan duduk di salah satu sofa di ruangan manager marketing.
Tak lupa, ransel butut yang sedari tadi bertengger di bahunya, dia hempaskan ke sofa.
"Lama banget pak Manager, jam segini belum nongol, untung gue sabar orangnya." Abriani pun mengeluarkan iPad dan mulai menyalakan musik sambil menunggu kedatangan manager marketingnya.

***
"Ya Amplop...  gilingan deh yey... Itu sofa Maharani Eike tercemar ransel butut yey nan bau aduhai..oh jijay markijay deh...  Ihhhhh yey, sapose... Sih? Beraninya itu mukadima manggut-manggut? Suara Eike gak kedengaran ya? Yey pake headset? Ya Amplop.. gilingan dobel gilingan deh yey.... Miko,, Miko yey dimenong sih, Eike jijay nih sama pere satu,,,, mikoooooo" Suara melengking milik seorang banci mengganggu suara musik yang sedang di dengar Abriani.
"Astaghfirullah, kok bisa ada bencong disini? " Serunya tak kalah kaget.
Di depan Abriani berdiri seorang pria tinggi, berwajah oriental dengan jas pink dan kemeja putih, berdasi kotak-kotak biru serta rambut berponi dengan pita senada jas yang dipadu celana  flanel pink fuschia.
"Sapose yey panggil bencong? Ih najis tralala... Miko, sapose nih Indang? " Tangannya yang berjari melentik dan penuh batu antik menunjuk muka Abriani dengan mata  mengarah ke Miko.
" Eh ini staf baru, Bri, namanya Eh tanya sendiri deh, Bri" Miko yang baru datang ke ruangan menjelaskan dengan terbata-bata.
" Mas Miko ini siapa sih? Kok bisa ada bencong sih disini? Terus kok lama banget pak Manager datangnya? " cerocos Abriani.
" Yey dasar pere gak tahu diri. Eike merekah nih Miko. Kepelong akika mendadak migrain denger kata bencong-bonceng.. Tolong yey aja yang jelasin ke desye.. siapa akika yang sebenarnya. Cussss" si bencong pun berlalu dan akhirnya hanya mereka berdua yang tinggal di ruangan.
" Eh Bri, ini gimana jadinya, jangan marah dong Bri" seru Miko sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ih mas Miko biarin aja si bencong pergi, udah bahasanya geje, datang terus marah-marah, ngehina ranselku lagi, ih sebel banget, Awas aja kalo ketemu lagi tak Jambak rambutnya! Heh mas Miko, tunggu, temani Bri disini yukkkk " Gerutu Abriani tanpa jeda. Tangannya refleks menarik Miko yang hendak keluar ruangan.
Miko yang seperti orang linglung akhirnya berbalik dan mencoba berbicara.
"Anu mba, eh Bri, itu tadi Bri, Britanny manager marketing disini." Tegas Miko.
" A-a-p-a?" Abriani melongo.

Tbc

Manager Marketing a

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Manager Marketing a.k.a Britanny 😍

Hai gaeees... Ini cerita pertamaku. Mohon kritik dan sarannya ya.
Trims.
😍😍

Putri peach.

Bra Dan BriStories to obsess over. Discover now