|1|

33 2 0
                                        

Cerpen ini dipersembahkan untuk sirhayani

Sore yang cukup memikat bagi seorang lelaki bernama Davian Elvano, dimana langit mendung penuh awan abu-abu terarak lambat di atas kepalanya diiringi hembusan angin kencang yang dingin. Ia berbeda, di saat teman-temannya tengah gelisah dengan keadaan seperti ini, keadaan yang akan membuat mereka basah karena sebentar lagi hujan turun. Elvan justru tenang, menikmati setiap detik yang berjalan. Mengamati ingar bingar lalu lintas di depannya dan para manusia berseragam serupa dengannya yang semacam lebah keluar dari sarangnya. Ramai. Sebab bel pulang sekolah sudah berdentang sejak sepuluh menit yang lalu.

Elvan suka mengamati segala sesuatu yang ada di hadapannya, tak terkecuali sekolah yang berhadapan persis dengan sekolahnya. Lelaki dengan postur tubuh tinggi dan cukup berisi itu, suka sekali mengamati sekolah yang berada di seberang jalan itu. Sekolah yang diisi oleh manusia-manusia luar biasa, yang membuat dirinya senantiasa mensyukuri arti sebuah hidup.

Bagi Elvan, hidup adalah misteri. Yang ada di dalamnya memiliki dua sisi serta bayangan yang semi. Bagi Elvan pula hidup adalah perjalanan. Tidak ada jalan buntu kecuali mati, hanya ada ujung yang berkelok. Terakhir, hidup adalah sesuatu yang harus dinikmati. Entah jatuhnya atau terbangnya. Memiliki banyak definisi, itulah hidup menurut Ervan. Tapi setidaknya Ervan tahu apa pengertian hidup untuknya.

Tidak seperti cinta. Kata itu terlalu abstrak baginya. Di usianya yang sudah menginjak tujuh belas tahun, juga tengah menginjak kelas dua di sekolah menengah kejuruan tak membuatnya bisa mengerti apa itu cinta. Seringkali ia mencari, bukan jawaban yang didapat melainkan kebingungan.

"Pulang dulu ya Van!" teriak salah seorang temannya, membuat Elvan menarik seluruh pemikiran dan lamunannya. Ia tersenyum seraya mengangguk pada lelaki bernama Danny Ernanda yang barusan menyapanya.

Setelah Danny pergi, ia kembali terfokus pada sekolah di seberang sana. Huh, melihat wajah Danny ia selalu teringat masa-masa praktek kerja lapangannya dulu saat semester dua awal. Awal mula ia mengenal sosok Danny, seorang lelaki yang digilai para perempuan di sekolahnya di SMK Bina Nusa. Memang, ada sedikit keuntungan yang dia dapat begitu dia kebagian tempat praktek yang sama dengan dia dan membuatnya seringkali bercengkrama dan berbagi cerita selama tiga bukan penuh, membuat keduanya berakhir menjadi karib yang akrab. Kesimpulan yang ia ambil adalah jangan menilai seseorang dari luarnya, nyatanya waktu tiga bulan itu berhasil membalik seluruh sugestinya mengenai Danny yang selama ini ia kenal.

Sudahi tentang Danny, kini Elvan tengah melayangkan senyum pada sesosok yang ditunggunya sejak tadi. Sosok yang selalu ditunggu setiap kali ia pulang sekolah dan alasan baginya untuk lebih memilih duduk di halte sekolahnya selama belasan menit daripada harus pulang lebih dulu. Perempuan itu keluar dari gerbang dengan raut wajah datar yang sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikannya. Ia berjalan dengan sahabat karibnya menuju halte sekolahnya.

Setelah puas melihat perempuan berambut sebahu itu, Elvan mengambil kamera DSLR yang ia kalungkan di lehernya. Bersiap membidik targetnya.
Tapi ia tak perlu terburu-buru, masih ada lima belas menit berharga yang akan membuat perempuan itu menetap di sana sebelum sebuah mobil hitam metalik menjemputnya kelak.

Memandangi perempuan itu dengan kamera di tangannya secara bolak-balik nyatanya mampu membuat dirinya sedikit terhibur. Ya, bagi Elvan perempuan di seberang sana adalah masa depannya, sementara benda ditangannya ini ada memori baginya.

Sudah lama, hampir dua tahun ia bersama kamera ini. Meski ada berbagai model baru, tapi ia tetap setia pada benda ini. Benda ini terlalu epik jika dijual. Kamera ini adalah benda yang menemaninya untuk mengambil memori dengan keluarga, teman bahkan seseorang yang ia suka di seberang sana, juga sebagai modal untuk ia mengikuti berbagai kompetisi fotografi, pula membantunya dalam pembelajaran, sebab seorang anak smk dengan kompetensi keahlian atau jurusan multimedia yang tengah ia tekuni cukup membutuhkan benda ini.

Potret Cinta #GAPersonaStories to obsess over. Discover now