Didedikasikan untuk kak sirhayani
•••
Ara sedang berdiri tidak jauh dari Tama, memperhatikan segala gerak-gerik cowok itu dengan seksama. Sementara tangan kirinya terkepal dan berkali-kali memukul ke arah sebuah pohon yang cukup rindang, tepat di sebelah dia berdiri saat ini. Kakinya juga ikut ambil peran dengan menghentak ke tanah sesekali.
Ara kesal, marah, dan tidak terima saat melihat Tama-mantannya yang baru dia putusin seminggu yang lalu- beberapa kali meladeni adik kelas yang mendekatinya. Cowok itu sedang kebagian tugas menjaga stan pendaftaran ekskul jurnalistik, ditemani oleh seorang cewek yang menurut Ara sama menyebalkannya dengan adik-adik kelas genit yang mampir ke sana. Nama cewek itu Kezia, teman sekelas Tama yang digosipkan terlibat cinlas alias cinta sekelas dengan cowok itu.
Bagi Ara, Kezia adalah tipe cewek muka tembok. Sudah tahu kalau Tama saat itu masih berpacaran dengan Ara, dia masih saja menempel-nempel bak cicak di dinding pada Tama. Tidak punya malu dan tidak punya rasa solidaritas terhadap sesama cewek. Memangnya dia tidak marah dan gundah jika seandainya pacarnya selalu di tempelin cewek lain?
"Ish, ngapain pakai pegang-pegang rambut Tama?!" Ara berseru kesal saat dilihatnya Kezia sedang menyentuh rambut Tama, seolah-olah sedang membenarkan rambut cowok itu.
Di posisinya, Tama hanya tersenyum simpul. Menikmati perlakuan manis dari cewek yang duduk di sebelahnya. Lalu, cowok itu kembali meladeni adik-adik kelas yang sedang bertanya ini itu mengenai ekskul jurnalistik. Senyumnya ia buat semanis mungkin. Tutur katanya ia buat dengan begitu bijaksana. Matanya tidak henti melirik kesana-kemari ketika menjelaskan. Namun, bukannya mendengarkan dengan seksama objek yang tengah dibicarakan, siswi-siswi itu malah terfokus kepada subjeknya.
"Ish! Genit banget jadi cowok! Heran, kenapa gue bisa jatuh cinta sama playboy kayak lo sih?!"
Ara kembali berseru. Jauh dari apa yang diharapkannya, Tama malah adem ayem saja setelah mereka putus. Berbeda dengan dirinya sendiri yang harus nangis sesenggukan selama sehari penuh, ditambah dengan otaknya yang tidak mau fokus menerima pelajaran, lalu hatinya yang selalu berdenyut tidak keruan ketika melihat wajah Tama.
Sempat terlintas penyesalan dalam dirinya karena sudah memutuskan Tama. Tapi itu buru-buru ditepis Ara, karena hatinya sudah benar-benar lelah menghadapi sikap player cowok itu yang tidak menghargai perasaannya.
"Ngapain pake ngelapin keringat Tama sih?! Dasar cewek muka tembok!"
Bugh
Kepalan tangannya kembali mendarat pada pohon di sampingnya. Seandainya pohon itu bisa bicara, mungkin sejak tadi dia sudah protes karena terus-terusan dipukul oleh Ara. Sayangnya, dia sudah ditakdirkan untuk tidak bisa bicara.
"Ish," Ara merasakan nyeri seketika langsung mendera tangannya, hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Sialan, sakit banget lagi," keluh Ara sembari mengusap-usap tangannya. Dia berbalik ingin pergi dari sana. Namun, saat badannya sudah berbalik sempurna, dia spontan terpekik kaget ketika dilihatnya sudah ada seorang cowok yang berdiri di hadapannya dengan jarak begitu dekat. Saking dekatnya, ujung sepatu miliknya dengan ujung sepatu milik cowok itu sampai bersentuhan.
Reaksi kagetnya kemudian hilang, berganti dengan geraman kesal. Sedangkan kedua tangannya terkepal.Salah satu reaksi alamiah pada dirinya ketika dia sedang kesal atau marah.
Kemudian jari telunjuknya terangkat, mengarah pada wajah cowok yang sedang berdiri dengan ekspresi tak terbaca.
"Lo!" mata Ara menyipit menatap cowok itu sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Mata-matain gue ya?! Ngaku lo!" tuduh Ara tiba-tiba.
ESTÁS LEYENDO
Ara #GAPersona
Novela JuvenilPunya mantan yang suka tebar pesona? Kalau iya, artinya kamu senasib dengan Ara. Lalu, apa yang kamu lakukan ketika ternyata hatimu masih terpaut dengannya? Apa kamu perjuangin dia lagi? Belajar buat move on dari dia? Atau... Kamu pasrah terima t...
