"Tugas pertama dari cinta adalah mendengarkan". - Paul Tillich
*************
Hari ini adalah acara aqiqah putri kedua kami. Kebiasaan di kampung, aqiqah dilaksanakan dengan memanggil bapak-bapak yang tergabung dalam kelompok yasinan pada malam hari.
Oh iya, hingga melahirkan putri kedua, kami nasih tinggal dirumah mertuaku, tepatnya ibu mertua. Alasan suamiku karena beliau sudah tua. Aku tidak keberatan karena ibu, begitu aku biasa memanggilnya sangat perhatian padaku, dan juga anak-anakku. Bahkan mungkin beliau lebih perhatian padaku daripada suamiku sendiri yang notabene adalah anaknya.
Kembali ke acara aqiqah tadi yah, Ristie-anak pertamaku yang berusia 4 tahun sangat senang karena dirumah banyak keluarga yang berkumpul. Tapi Ristie lebih senang lagi dengan kehadiran kakak-kakak sepupunya.
Saat makan bersama kakak-kakak sepupunya di depan televisi Ristie tersenyum padaku.
" Mamah....be - i - ta mah"
"Iya...makan sama mba Lita ya?", kataku sok tau. Kupikir saat itu Ristie ingin memberitahuku bahwa dia sedang makan dengan Lita- kakak sepupunya.
Muka Ristie tampak berubah.
" Be-i-ta", ulangnya lagi.
"Iya...mba Lita. Ayo dihabisin makannya kaya mba Lita"
Melihatku yang belum juga memahami maksud perkataannya membuat Ristie histeris.
"Be-i-ta", ulangnya lagi. Kali ini sambil menangis dan menunjuk-nunjuk ke televisi.
Ristie memang tidak suka bila apa yang disampaikannya tidak dipahami. Dan itu membuatku merasa bersalah.
Mendengar tangisan Ristie, ibu mertuaku (eyangnya Ristie) serta pakde dan budenya Ristie yang saat itu ada di ruang tamu jadi ikut bergabung dan berusaha menerjemahkan kata " be-i-ta" yang diucapkannya sambil menunjuk-nunjuk televisi.
Sebagian berusaha menenangkannya, sebagian lagi berusaha menerjemahkannya. Yang jelas "be-i-ta" itu bukan berarti mba lita seperti tebakanku semula.
"Be-i-ta....be-i-ta....", Ristie masih saja menangis.
Setelah berpikir sejenak akupun bertanya. " Maksud kakak berita? Ada berita di televisi?" tanyaku memastikan.
Ristie mengangguk. Tangisannya pun berhenti dan berganti menjadi senyuman. "Be-i-ta', ulangnya lagi.
"Iya...berita...pinter ya...makan sambil nonton berita". Ristie tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
Yang lain tertawa geli. Oalah...gara-gara be-i-ta orang satu rumah sampai dibuat heboh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Kecil Seorang Ibu
SpiritualMenjadi orangtua bukan berarti anda telah dewasa. Karena masih banyak orangtua yang bertingkah kekanakan. Namun ketika berinteraksi dengan anak-anak, anda akan menyadari bahwa terkadang anak-anak dapat bersifat lebih dewasa dari orangtua. Tulisan in...
