AlyaPratiwi

9.8K 407 126
                                        

Hallo, Assallamualikum. Namaku ALYA PRATIWI. Aku gadis desa yang baru saja menyelesaikan sekolah ku di SMA "pancasila". Satu-satunya SMA yang ada di desaku.
Aku hanyalah gadis sederhana yang memiliki cita-cita setinggi langit.

Orang tuaku hanyalah seorang guru ngaji di desaku, mereka selalu memberikan ilmu Agama kepada murid-murid mereka dengan gratis. Ya gratis! Siapa pun yang ingin mengaji dan belajar ilmu agama, bisa langsung datang ke rumah ku yang sangat sederhana.

Aku memiliki seorang adik laki-laki yang bernama HABIB MALIK. Sekarang dia masih SMP, dan aku sangat ingin membantu orang tuaku untuk menyekolahkan adikku hingga sarjana.

Hmmm jujur saja, aku sudah sangat bosan dengan kehidupanku yang serba kekurangan. Kami hidup dari hasil kebun Abi yang kecil. Kapan waktunya panen, abi dan umi akan menjualnya di pasar kaget yang buka setiap hari jumat.

Ingin rasanya aku pergi ke kota, bermodalkan ijazah SMA aku rasa aku bisa mendapatkan pekerjaan. Tapi apalah daya, abi tidak setuju. Dengan alasan aku anak perempuan.

"Ayolah bi, alya janji akan jaga diri,"rengekku kepada abiku yang sedang memetik pucuk daun singkong di kebun.

Abi nampak menghela nafas,"bagaimana mungkin abi bisa percaya? Disini saja kamu sering ceroboh,"ujar abiku lembut.

Aku langsung cemberut, kenapa orang tua ku tidak percaya denganku? Aku ke kota kan untuk merubah nasip, masa tidak di izinkan, batinku.

"Alya kan sudah dewasa abi, alya janji tidak akan macam-macam. Alya mohon bi,"pujukku lagi.

Abiku meletakkan kantong asoy hitam berisi daun singkong ke atas meja, lalu abiku duduk di sampingku.

"Abi cuma takut kamu salah pergaulan disana,"ujar abiku sambil menatap lekat ke manik mataku.

Aku menghela nafas,"abii, alya sudah besar. Alya sudah tau mana yang baik dan yang buruk. Alya tidak mungkin ikut pergaulan disana,"ujarku meyakinkan abiku.

"Ya sudah, kamu temui umi mu di kamar. Kalau umi mu mengizinkan, abi juga mengizinkan,"ujar abi pasrah.

Aku sumringah,"benar abi? Yeyy terima kasih abi ku sayang,"ujar ku girang sambil memeluk tubuh abiku yang penuh oleh keringat.

Abi menggeleng lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Aku setengah berlari menuju kamar umiku, berharap kalau umi ku juga mengizinkan.

"Umi sedang apa?,"tanyaku kepada umi yang nampaknya sedang kebingungan.

Umi ku terkejut lalu langsung menyimpan kertas putih yang tadi dia pandang.

Aku menatap umi curiga, lalu merebut kertas itu dari tangan umi ku.

"Bukan apa-apa alya,"seru umiku panik.

Aku tetap tidak percaya, dan berusaha untuk merebut kertas tersebut.

Hap!! Dapat!!, batinku.

Aku segera membaca tulisan rapi yang ada di kertas itu. Lalu raut wajahku berubah murung.

"Jelasin ke alya umi! Ini gak benar kan?,"tanya ku sedih.

Umi ku menangis,"jangan kasih tau abi dan habib ya alya. Cukup kita yang tau,"jawab umi ku.

Aku menggeleng,"gak bisa umi. Abi dan habib harus tau, alya tidak mau umi kenapa-kenapa,"ujar ku sudah ikut menangis.

Umi memelukku erat,"umi tidak ingin abi dan habib kepikiran. Sudah cukup abi mu pusing memikirkan biaya sekolah habib dan biaya hidup kita,"ujar umi ku sambil mengelus kepala ku yang terbalut jilbab panjang dan tebal.

Aku menghapus air mataku yang mengalir deras,"umi, alya janji. Alay janji akan cari uang yang banyak dan bawak umi berobat ke rumah sakit di kota,"ujar ku meyakinkan.

Umiku menggeleng,"tidak alya, kamu disini saja bantu umi mengajar ngaji,"ujar umiku.

"Umii! Mengajar ngaji itu tidak mendapatkan uang! Bagaimana alya akan bawak umi ke rumah sakit,"ujar ku kesal.

"Iya, kita memang tidak dapat uang alya, tapi in shaa Allah kita dapat pahala yang berlimpa. Miskin di dunia tapi kaya di akhirat lebih baik nak, dari pada kaya di dunia tapi miskin di akhirat nanti,"ujar umiku masih pelan.

Aku menggeleng,"mi, percaya sama alya. Alya akan buat keluarga kita kaya di dunia dan kaya juga di akhirat. Izinkan alya ke kota mi. Alya akan merubah nasip di sana,"ujar ku yakin.

Nampak umi ku terkejut,"tidak-tidak! Umi tidak izinkan,"ujar umiku khawatir.

Aku sudah duga, pasti susah meminta izin kepada umiku.

"Alya mohon mi, demi kehidupan kita. Habib harus sekolah tinggi. Dan umi harus sembuh,"ujarku lirih.

Umi ku nampak diam sejenak, aku menghapus air mata yang mengalir di pipi umi ku. Lalu aku menciumnya.

"Percayalah pada alya mi, alya bisa jaga diri,"ujarku lagi.

Umiku memelukku erat,"bagaimana nanti kalau umi rindu?,"tanya umiku.

Aku tersenyum,"alya bisa telfon umi lewat handpone buk kepala desa,"ujar alya.

"Akan umi fikirkan lagi. Nanti malam sehabis shalat magrib, akan umi beri keputusannya,"ujar umiku.

Aku sumringah,"iya umi. Terima kasih mi,"ujarku.

Umi ku mengangguk,"ingat alya, tentang penyakit umi, cukup jadi rahasia kita berdua,"ujar umi ku.

Aku mengangguk patuh.


-----

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 06, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

JilbabKuWhere stories live. Discover now