Setahun yang lalu setelah bibir kita saling beradu untuk pertama kalinya, kau pergi tanpa kabar dan entah ke mana. Saat itu kau bilang hanya pergi sebentar, dan aku percaya. Sejak kepergianmu, aku selalu mencoba mengabarimu, menelpon, mengirim pesan dan selalu memohon agar Tuhan selalu menjaga dirimu.
Namun tak pernah sekalipun kau membalas kabar dariku saat itu. Tak ada jawaban pasti. Sudah kutanyakan tentang dirimu pada orang tuamu, namun mereka seolah tidak tahu. Kerabatmu? Sudah juga! Hasilnya pun mengecewakan! Tanpa kabar sedikitpun, Aku mampu percaya.
Lewat Sembilan bulan tanpa kejelasan di mana kau berada, hanya selembar kertas kau kirimkan kepadaku. Selembar kertas tentang kabar duka.
Ninda-ku tersayang, maaf telah membuatmu menunggu lama. Mungkin ini keputusan terburuk, tapi ini akan meringankan bebanmu. Selama Aku pergi jauh, Aku ingin kita menghentikan hubungan yang sudah kita rajut ini hingga Aku pulang. Namun, Aku tak tahu kapan akan pulang, tapi kurasa inilah yang terbaik untuk kita saat ini. Maaf.
-Y.S Gunadi
"Kenapa kamu menangis, Nin?" Ucap Gunadi lemah. "Maafkan Aku yang terlalu mendadak memberikan kabar buruk ini. Tapi Aku masih punya kabar ba–"
"Dasar kau Egois! Tak pedulikah kau dengan penderitaanku menunggu kabar darimu! Tiga bulan lalu! Ya Tiga bulan lalu hidupku berantakan karena surat darimu! Aku sangat merindumu, dan Kau! Kau!" Amarahku meledak-ledak ria, menari-nari penuh api dan meluluh-lantahkan keheningan waktu. Ah! Aku hanyalah wanita bodoh yang terlalu berharap!
"Dasar kau lelaki brengsek!" Tuntasku, dan Aku menangis sekeras-kerasnya.
Dalam tangis yang tak terbendung, Gunadi memelukku erat. Kurasakan badannya bergetar saat mendekapku dan aku membalas sergapannya. Bodohnya Aku. Ya, cinta itu suci, dan aku tidak bisa membohongi diriku kali ini. Tangisanku meredam dan pelukanku semakin erat karena Aku tahu kalau inilah pelukan terakhirku dengannya.
"Kamu tuh ya kebiasaan, kalau orang lagi ngomong tuh dengerin sampai habis dulu." Bisiknya. "Kabar baiknya ..." Pria brengsek itu melepaskan peluknya lalu menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya.
"Kabar baiknya ... Aku akan menikahi kamu," wajahnya memerah merona.
"Maksud kamu, Gun?" tanyaku gugup.
"Hmm ..." Gunadi merogoh saku celananya dan menyodorkan sebuah cincin kepadaku. "Kalau gini kan romantis, hehe. Nah, gimana? Kamu mau ga menikah denganku, Ninda Putri?"
Aku mengangguk tegas lalu menyergap tubuh Gunadi untuk ke sekian kalinya. Air mataku kembali menetes. Bukan air mata kesedihan dan kekecewaan, ini adalah air mata terindah yang pernah aku keluarkan selama hidupku.
"Kenapa kamu gak bilang dari awal? Kan ga perlu ada pementasan drama kayak gini!" kataku dengan manja.
"Jangan marah kalau kugoda ... Sebab pantas kau digoda ... Salah sendiri kau manis ... Punya wajah teramat manis ..." kicau lelaki yang tidak bisa menyanyi itu sembari menirukan suara khas ala Iwan Fals.
Menyebalkan.
YOU ARE READING
Menunggu
RomanceAkhirnya hubungan Ninda kandas, ditengah ia sangat menyayangi kekasihnya tanpa sebab yang jelas. Kesal ... Sedih ... Bingung ... Bahkan tak dapat tergambarkan oleh awan kelabu pertanda hujan kan turun sore itu. Beberapa bulan berlalu. Bangsat! Kek...
