Wanginya bunga yang dibasahi embun masih terasa dijalan. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai indah. Berlari kecil untuk menghindari genangan air. Suasana pagi Ibukota dinikmati seorang Arinda Melvana. Panggil saja Dinda. Dia suka jogging, apalagi waktu pagi ditambah dengan alunan musik dari earphone yang dia pakai di telinganya. Dinda selalu berharap kepada Tuhan. Dinda sangat menginginkan seseorang yang selalu ada untuknya, yang selalu membuatnya tertawa, dan mewarnai hari-harinya. Dinda juga sering melampiaskan rindunya dalam suatu kegiatan. Ya salah satunya ini. Dinda sedang rindu dengan masalalunya, walaupun untuk mengingatnya akan membuat Dinda sakit hati. Namun ingatan Dinda tak bisa lepas dari Daniel. Mantan terindah Dinda. Lebih tepatnya, mantan yang paling dinda benci. Mungkin suatu hari nanti, Dinda mampu menemukan seseorang yang tak akan pernah bisa Dinda lupakan.
Dinda berhenti di salah satu cafe favoritnya untuk sekedar membeli minum dan beristirahat setelah jogging yang lumayan lama. Dengan jarak yang dekat dari sekolahnya, Dinda jadi terlalu sering untuk berlama-lama di cafe itu. Dinda mengambil benda pipih yang ia letakkan diatas meja yang sudah dikeluarkan dari kantong trainning nya. Dia mencari sebuah nama yang berada dikontaknya.
"Ketemu!" seru Dinda yang telah menemukan nama kontak yang ia cari di ponselnya.
"Halo, Ri?" ucapnya kepada seseorang yang ia sebut "Ri".
"Apa din?"
"Temenin gue dong, dicafe biasa ya"
"Lo galau ya?"
"Nggak sih, gue lagi jogging trus istirahat disini, lo buruan kesini deh, temenin gue"
"Nggak, males gue, ini minggu, waktunya gue tidur"
"Please Ri" mohon Dinda dengan puppy eyes nya, walaupun yang diajak bicara nggak akan tau.
"Gue belom mandi"
"Gak usah mandi sih, gue juga belom mandi, lo jangan lupa bawa mobil ya. Gue tunggu, buruaan dateng yaa, sayang deh"
"Tap-"
Dinda memotong pembicaraan dengan memutus teleponnya. Sambil menunggu orang yang dia tunggu datang, Dinda membuka aplikasi instagram agar tidak bosan menunggu sendiri. Seketika raut wajah Dinda berubah ketika melihat postingan milik Dava bersama pacar barunya. Sepertinya Dinda kenal dengan wanita itu. Tapi siapa? sudah, Dinda tidak mau tau dan tidak mau berurusan lagi dengan Dava. Dinda beralih ke akun milik laki-laki kesayangannya. Ya, Iqbaal Diafakhri Ramadhan atau biasa di sebut Balee. Dinda stalking lagi akun Balee, walaupun sudah ratusan kali dia melihatnya, namun dia tidak bosan. Balee bisa menstabilkan mood Dinda.
"Woi!" seru seseorang yang ditunggu Dinda sambil menggebrak meja mengagetkan seluruh orang yang berada didalam cafe. Terutama Dinda.
"Lo gila, senyum-senyum sendiri gajelas" kata Ri yang langsung duduk dihadapan Dinda.
Inilah Ri. Riani Adilla. Sahabat terdekat Dinda. Saking dekatnya, tidak ada yang mereka tidak tau satu sama lain. Riani orangnya asik, baik, tapi kalo dia lagi males, ekspresi mukanya yang datar paling bisa bikin Dinda ketawa. Kali ini Riani memakai kaos hitam bertuliskan Girl, bercelana jeans yang bagian bawahnya sengaja digulung sedikit, ditambah sepatu cats berwarna putih tulang, dengan rambut panjangnya yang mungkin sengaja di curly.
"Lo kali yang gila, ga sadar lo diliatin orang, malu gue" balas Dinda tidak terima dikatakan gila.
Hanya muka datarnya Riani sebagai respon dari perkataan Dinda.
YOU ARE READING
Mis Jouself
Teen FictionMimpiku hanya satu. Aku sudah mendapatkannya. Namun kau buat aku sendiri merindu dengan mimpiku. Iya, mimpiku adalah kamu.
