Prolog

247 22 1
                                        



"Jika kamu mau mendengarkan melodi yang indah, mainkanlah sesuai dengan perasaanmu. Masukan semua getaran yang berasal dari perasaanmu ke dalam melodi yang dimainkan sehingga melodi itu akan melatunkan seadanya kepada pendengarnya. Jika jatuh cinta, sedih, marah, kesal, bosan, terluka, gembira, mainkanlah semua itu di dalam musikmu. Berbagilah dengan pianomu, biarlah jari-jarimu yang berbicara, aku jamin itu akan membuatmu menjadi sangat baik. Aku mengatidakan ini agar kamu akan menjadi anak yang dapat memainkan semua melodi yang bagus, ani.. bukan hanya bagus tapi sempurna. Aku berharap aku akan dapat melihat kamu menjadi seorang pianis yang sangat terkenal dengan melodi yang dapat menyentuh pendengar dengan permainan melodi yang sangat fantastik. Tapi aku hanya bisa berharap. Maafkan aku, anakku. Sekali lagi, mianhe.. eomma tidak dapat lagi melihatmu diatas panggung memainkan jari-jarimu diatas pianomu. Maafkan eomma.. ini salah eomma karena eomma memiliki tubuh yang lemah, anakku. Aku tahu kepergianku akan membuatmu terluka tapi tolong, janganlah karena kepergianku, kamu akan melepaskan keahlianmu itu. Jangan anakku.. kamu adalah satu-satunya anak eomma yang sangat eomma cintai dan eomma banggakan. Biarlah eomma pergi dengan tenang dan dapat mengukir senyum di wajah eomma nanti. Terima kasih Jiyong-ah.. karena sudah menjadi anakku dalam hidupku yang menyedihkan ini. Saranghaeyo. Eomma."

Untuk kesekian kali, Jiyong membaca surat yang ia dapatkan di kamar eommanya waktu ia tiba di kamarnya setelah ditelepon dari salah seorang pembantunya, pembantu yang sudah lama bekerja di rumahnya, kang Hye Jung.

*Flasback*

"tuan Jiyong?" Hye jung menarik napas lega karena untuk kesepuluh kali, ia menghubungi Jiyong tapi tidak diangkatnya.

"ya? Ada apa adjuma?" jawab Jiyong cepat dengan nada khawatir.

"Nyonya.. sepertinya sekarat tuan. Daritadi saya sudah mencoba membangunkannya tapi nyonya hanya bergumam nama tuan. Tubuhnya panas dan dan sulit untuk bernapas tuan."

"Apa?! Sudah memanggil dokter Dong?"

"Sudah tuan. Dia yang menyuruh saya untuk menelepon tuan. " Jiyong tidak menjawab. "tuan, tolonglah pulang sekarang. Mungkin nyonya sedang menunggumu,tuan" lanjut Hye jung dengan suara yang bergetar dan serak karena tidak dapat menahan airmata kekhawatiran terhadap majikannya. Majikannya adalah wanita yang sangat baik. Ia adalah wanita biasa yang memiliki bakat sebagai seorang pelukis handal. Tapi sayang karena penyakitnya, ia harus menghentikan semua aktifitasnya dan hanya di tempat tidur. Ia menderita kanker otidak selama 10 tahun. Itu membuat Jiyong sangat frustasi, ia berhenti memainkan piano dan ke sekolah hanya untuk merawat ibunya, keluarga satu-satunya yang ia miliki. Tapi ibunya tidak mau, anaknya akan menjadi menyedihkan seperti dirinya, ia berhasil membujuk Jiyong agar tetap bermain piano. Akhirnya ia dapat masuk di salah satu sekolah seni yang terkenal di Amerika,Harvard University. Dan sekarang ia telah menjadi seorang pianis yang sangat hebat dan dipuja oleh musikawan di seluruh dunia. Itu satu-satunya yang dapat ia lakukan untuk melihat ibunya bahagia.

"Aku akan disana segera." Hye jung tersadar dari pikirannya ketika mendengar suara Jiyong. Baru hendak ia mau menjawab tapi dipotong oleh Jiyong "Adjuma, tolong, pastikan eomma tetap sadar hingga aku tiba disana. Tolong adjuma.." kata Jiyong dengan sangat cepat dan penuh dengan kekhawatiran dalam suaranya.


"Saya akan usahakan yang terbaik untuk tuan. Tenanglah tuan, nyonya tidak akan pergi tanpa melihat putranya." Jawab Hye jung menenangkan.



"Saya akan usahakan yang terbaik untuk tuan. Tenanglah tuan, nyonya tidak akan pergi tanpa melihat putranya." Kata Hye jung dengan suara tenangnya sebelum Jiyong memutuskan panggilan.

Melody of the PaintHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora