Aku menggerutu sepanjang jalan. Ibu benar-benar menyebalkan, seenaknya mengganggu tidur cantikku hanya untuk membeli telur.
Dia, kakakku itu pria maniak telur. Entah sarapan makan siang maupun makan malam, menu telur tak boleh absen. Apapun alasannya, harus tersaji diatas meja. Dari segala bentuk, asal berbahan dasar telur, itu harus ada.
Ck! Benar-benar si pria idiot!!
Saat mata tajam itu tak menjumpai hal berbau telur, sifat kekanakannya akan muncul. Marah dan diam, bahkan mogok makan.
Oh astaga! Dia bahkan hampir berumur 26 tapi masih saja menyebalkan. Tentu saja, ibu akan menurutinya.
Ibu lebih sayang padanya. Pada dasarnya, dia tulang punggung keluarga kami. Diumurku yang baru 21 tahun ini, aku masih saja pengangguran. Tak ada hal membanggakan pada diriku.
Kakak lebih baik dariku. Dari segi otak maupun keahlian. Kami jauh berbeda, itu faktanya.
Selama 15 menit aku berjalan sambil membandingkan kasih sayang ibu padaku, kurasakan ponselku bergetar.
"Yak, apa kau membeli telur di negara sebelah? Kakakmu akan sampai rumah setengah jam lagi!"
Aku mendengus kesal. Ibu mungkin lupa jarak minimarket dengan rumah kurang lebih 1 kilometer. Cepat? Haruskah aku naik pesawat supaya lebih cepat??
Belum sempat protes, ibu menutup panggilan seketika. See... menyebalkan!
Aku menggerutu lagi dan lagi. Kurasa aku melupakan sesuatu. Oops!
Tada!! 2 botol susu fermentasi untuk menghilangkan kesalku kali ini. Aku berjalan sambil mengeluarkan sebotol susu dari kantong plastik.
Eh??? Aku terkejut. Genggamanku terlepas hingga botol tersebut jatuh menggelinding.
Terhenti dan segera kuambil. Huh, untung tidak pecah!
Mataku tanpa sadar menangkap sosok pria berwajah manis sedang menatapku, berdiri tepat dihadapanku.
Ng.. tatapan apa itu? Menyedihkan sekali.
"Ah mohon maaf tuan, aku tidak sengaja." Ucapku sembari membungkukkan badan.
Aku hendak pergi, tapi sesuatu menahanku. Hatiku sedikit menghangat saat menatap matanya. Aneh sekali.
Ia masih menatapku diam. Melihat segala gerak-gerikku dengan tatapan sendu.
"Seona, kau kah itu?"
Suaranya lembut menyapu runguku. Aku sedikit terlonjak kaget.
Dia tahu namaku? Dia siapa?
Bersamaan dengan itu, tangannya berusaha menyentuhku. Aku mundur, mengelak. Tangannya terkepal di depanku.
Aku tak ingat siapapun, kecuali ibu dan kakak.
Aku tersenyum entah kenapa dan bagaimana bisa, hangat menjalari hatiku. Kepalaku menggeleng perlahan seperti sedang berharap ini bukan mimpi. Seseorang mengenalku selain keluargaku.
Detik itu pula, ia terdiam kaku. Matanya menahan airmata yang hampir tumpah di depanku. Aku tahu, mata sipit itu terlihat berkaca-kaca.
Ponselku kembali bergetar, merusak suasana saja huh!
"Iya-iya bu. Aku hampir sampai."
Klik. Kumatikan panggilan dan kembali menatap pria manis dihadapanku.
Wajahku merengut tanpa sadar. Aku harus pulang sebelum ibu kembali menelpon untuk mengomel.
"Sepertinya anda salah orang, maaf ya. Aku harus pergi sekarang. Sekali lagi mohon maaf."
Aku pergi meski hatiku terasa ganjil. Ingin tahu lebih soal dirinya tapi entahlah, rasanya sungguh aneh. Ada yang membawaku pergi dari sana.
Aku berjalan cukup cepat. Bersamaan dengan desah angin, aku mendengar sesuatu meski kurang jelas layaknya bisikan.
".... aku merindukanmu"
Aku tak bisa berbalik untuk memastikan apa yang ku dengar. Rasanya sulit berhenti berjalan. Dan, sebesar apapun keingintahuanku dan sebesar itu pula ada sesuatu yang menahanku untuk tidak penasaran. Sungguh sulit untuk ku pahami.
Akhirnya, jalan terus adalah pilihanku.
Aku tidak munafik. Hatiku menghangat kembali, mendengar suaranya meski terdengar mustahil dia merindukan gadis sepertiku.
Kau pria tampan tuan, merindukanku? Gadis idiot sepertiku? Rasanya tuan sedang mabuk atau mungkin terkena gagar otak??
Aku senang entah mengapa, karena ada seseorang yang merindukanku. Aneh, meski kenyataannya dia sedang depresi karena ditinggal kekasihnya atau kemungkinan wajahku yang terlihat pasaran karena mirip mantan kekasihnya? Hm.. itu kemungkinan benar adanya.
Aku berpikir seolah ini materi ujian. Benar-benar rumit. Kuharap pria tadi bisa hidup lebih baik lagi. Aku tersenyum berdoa untuk kebahagiaannya meski aku sedikit ada rasa penasaran.
Aku bahkan hampir tersandung di depan pagar rumah. Dan yah, sepertinya seona akan kembali mendapat omelan dari ibu negara.
Mataku menatap malas mobil kakak di garasi. Oops, selamat malam seona. Malam ini akan penuh uji pendengaran.
Kakiku memasuki ruang tamu. Terdengar malas, kuseret kaki menuju dapur. Kulihat ibu sedang sibuk dengan pisau.
Ia menatapku kesal. Kuabaikan, segera kutaruh kantong plastik berisi telur di depannya.
"Kau bertemu jimin? Dia tadi menyusulmu, hendak berpamitan katanya. Dia sudah lama tidak menemuimu setelah kau kecelakaan." Ibu berucap pelan dan kembali sibuk dengan wajan penggorengan.
Aku diam mencerna kalimat ibu. Jimin? Hm entahlah aku tidak ingat sama sekali.
Mungkinkah, yang tadi...
"... Jimin, kau kah itu?"
Hanya kalimat itu yang terlintas di otakku.
End.
