Bagaimana dia sekarang?
Apa dia jadi orang yang kejam? Apa dia menjadi pria yang hangat? Apa senyumannya sudah kembali, dan senantiasa bertengger di bibirnya? Apa dia sudah bergerak maju meninggalkan masa lalunya yang kelam? Masa laluku juga kelam, dan aku sedang bergerak membuat sosok yang baru. Aku bukan lagi perempuan yang mudah jatuh cinta. Tapi, yap, aku masih mudah menyukai pria lain. Hanya suka, okay?
Mungkin dia juga sudah bergerak. Bedanya, aku masih sering menatap ke belakang sedangkan dia tidak. Aku sering melihat-lihat masa lalu yang tak ingin ku kubur seburuk apapun itu. Kejadian dimana aku dilecehkan dalam sebuah percakapan bersama seorang pria yang kusukai untuk waktu yang lama, kejadian saat aku tahu kalau teman dekatku berpacaran dengan pria yang kusukai duluan, dan kejadian dimana aku yang hanya sekadar bertanya, namun berangsung-angsur malah menjadi dekat dengan seorang pria selama sebulan, dan setelah itu, semuanya menghilang.
Aku tidak ingin mengubur semua ingatan itu. Mengingat bahwa hal itu pernah terjadi padaku, dan mengingat bahwa aku pernah sekuat itu menahan sakitnya, membuatku terkagum dan memiliki rasa percaya diri menyambut hari esok.
Pernah kukira dia akan hadir untuk keesokan harinya, lalu kemudian keesokannya, dan terus menerus seperti itu. Kupikir mungkin dia tersinggung oleh perkataanku, bahwa aku hanya datang padanya saat bosan, karena setelah aku menyadari bahwa kalimatku itu kasar, dia dan aku jadi putus kontak.
Aku sudah mencoba beberapa kali untuk menghubunginya. Namun responnya amat cuek, dan kupikir itu salahku. Aku ingin meminta maaf tapi tidak tahu bagaimana. Aku juga tidak ingin dia menyadari bahwa aku menyukainya.
Fakta bahwa dia tidak tahu kebenaran yang sebenarnya membuatku cukup risau. Yah, meskipun dia tahu kebenaran itu, aku yakin itu tidak akan terlalu berpengaruh. Kebenaran itu adalah fakta kalau aku menyukainya lebih dulu daripada temanku, yang kini sukses menjadi 'mantan terindah' pria itu. Dulu, saat kelas 7, aku menyukainya, pria itu. Dan si teman itu, kita sebut saja Vina, saat itu menyukai kakak kelas.
Kami sering bertukar cerita, tentang bagaimana hari-hari kami dalam menyukai seorang pria. Vina tahu betul aku menyukai pria itu, tapi...akhirnya malah... Meski aku tidak mengerti mengapa Vina berpacaran dengan pria yang dia tahu dengan sangat bahwa aku menyukainya, dia tetap menceritakan kisah menyakitkan itu padaku. Aku terpaksa tersenyum dan pura-pura excited.
Aku masih sangat polos. Aku membuang perasaanku pada pria itu, dan menjadi penggemar couple mereka. Sangat bodoh, bukan? Berhubung aku masih muda dan masih jadi orang baik, saat itu pilihan tersebut merupakan satu-satunya pilihan. Tapi pada akhirnya mereka putus dalam waktu sekitar enam bulan. Aku terlanjur menyukai mereka sebagai pasangan, meskipun setiap Vina menceritakan kisah romantisnya dengan pria itu padaku, aku merasa seperti kertas yang disobek-sobek.
Saat itu aku sedang menyukai pria lain, bukan pria itu. Tapi aku hanya tidak menyadarinya saja. Perasaan untuk pria itu selalu ada, di dasar hati, tertelan kenyataan yang pahit, dan tertumpuk oleh kisah romantisnya bersama Vina.
Aku memilih untuk tidak peduli hingga kelulusan. Dan disanalah perasaan itu berakar dan mulai merambat ke permukaan, seolah seluruh rasa sakit yang menimbunnya menjadi pupuk dan menumbuhkannya dengan subur. Perasaan itu terlihat. Namun aku masih saja menjadi gadis yang baik, yang polos, yang hanya menginginkan hubungan pertemanan. Perasaan yang tumbuh itu masih kecil soalnya.
Disaat percakapan singkat itu menjadi lebih singkat, dan singkat, hal itu menyakiti perasaanku. Satu lagi karung pupuk di hati. Lalu kemudian, satu tahun berlalu tanpanya, perasaan itu sudah tumbuh menjadi pohon kecil. Setiap kali aku melihat kembali masa lalu itu, bunga-bunganya bermekaran dan buahnya mulai bermunculan dengan ukuran yang kecil.
Semakin sakit yang kurasakan, perasaan itu semakin membesar. Namun aku tidak memerdulikan perasaan itu. Aku cenderung mengabaikannya, agar aku tidak jadi berlebihan. Aku sudah sampai pada tahap 'lelah mencintai duluan'. Aku tidak lagi ingin memperjuangkan apa-apa padanya. Dia seorang pria yang telah menjadi mantan teman palsuku, dan sudah tidak tersisa lagi takdir untuk bertemu dengannya.
Aku tidak berkata bahwa hanya sampai sini perasaan itu akan ada. Aku mengakuinya, aku mengakui bahwa aku menyukainya. Tapi aku menyukai dirinya yang ada di masa lalu, dan perasaan itu akan ada selamanya, meski tidak ditujukan pada dirinya selamanya. Mengerti maksudku?
Aku menyukai dia yang dulu karena aku tidak tahu bagaimana dia sekarang. Rasa sukaku akan ada selamanya untuk sosoknya yang berada di masa lalu. Karena kini dia berbeda. Dan kini aku berbeda.
Kami berubah, dan takdir tidak suka kami bersama dalam waktu yang lama.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Pieces of My Life
RastgeleDia itu manusia; hidup dan bernapas. Punya paru-paru dan jantung. Tapi kadang kala dua-duanya terasa sesak dan menyakitkan. Untung dia punya lambung, karena gawat jika tidak ada yang menampung snack sialannya. *** Sepatah kata curahan hidup author. ...
