Pecahan 1 : Kenangan Sang Ulat Kecil

159 2 4
                                        

Sebanyak buku cerita yang pernah saya temui, hanya beberapa yang saya baca. Jelas bukan kalau saya bukanlah sosok yang suka membaca, kecuali jika ada gambarnya. "Si kancil" yang cerdik mengelabui beberapa predator ganas yang dikemas dengan sesuatu yang menyenangkan dibaca ketika ada ilustrasinya. Seperti itulah mungkin gambaran sebagian besar kita yang malas membaca buku matematika yang penuh dengan rumus-rumusnya,yah cukup membosankan.  Terus terang kosa kata aburadul tidak sesuai kalimat yang baik ini, hanya pengisi kebosanan saya kuliah atau terlalu mengerikannya bentuk kuliah yang sampai sekarang saya tetap tidak mempunyai banyak teman, bukan berarti sombong, tetapi lebih adanya rasa kurang nyaman dengan keramaian yang membuat telinga sedikit berdenging-ingin mengajak jalan-jalan ke tempat yang adem ayem seperti kamar kosong di kostan.


Panjangnya intro pengenalan karakter utama disini memang terasa aneh,  bila anda mulai merasakan kebingungan cerita apa ini maka... yang sedang membaca berarti setia dan penasaran. Sudah tertebak karakter saya seperti apa? ya benar, Saya seorang introvert, suka gambar, tak suka repot, dan sedikit aneh, sisanya sifat umum karakter utama.. sederhana, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, patuh kepada kedua orang tua, berbakti kepada nusa dan bangsa, hafal pancasila dan pembukaan UUD 1945 nya. Terima kasih yang masih mau membaca tulisan orang yang tidak suka baca ini.

Nama saya KOMAR (jelas nama ini bukan nama asli penulis) dari daerah kecil diantara hutan sawit dan karet , Desa Cahaya Mas, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan (Silahkan kopas dan cek sendiri di Google Maps kalau penasaran). Saya mahasiswa jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain di kampus Institut Teknologi yang ada di daerah Bandung. Nah mari kita susun pecahan-pecahan kecil ini menjadi sebuah gambaran hidup tokoh utama di cerita ini.

Tinggal di desa kecil terkadang membuat sebagian orang berfikir hidup tidak bahagia. Lucunya saya justru lebih bahagia di desa ini dari pada di kostan ini sendiri nulis tulisan ini, dan setelah dipikir-pikir kalimat yang saya tulis "lucunya" ini ga lucu, ditambah malas menekan backspace menghapus kata "lucunya" itu.  Di desa inilah saya lahir dan dibesarkan oleh 2 kesatria kuat yang gagah berani, terutama tokoh heroine-nya(ibu).

Singkat cerita ibu saya adalah seorang pejuang tangguh dan mungkin sosok paling tangguh yang pernah saya temui dalam hidup. Bagaimana tidak dia datang hidup sendiri untuk menjadi seorang bidan di sebuah desa yang dahulu kala jalan nya lebih cocok dipakai ajang balap off road dari pada disebut jalan. Kondisi desa saya dulu ketika ibu saya bercerita saat datang pertama kali masih banyak babi berkeliaran dan hewan-hewan yang sekarang banyak jadi tontonan, motor yang sangat terbatas, mobil hanya bisa dihitung dengan jari dan sangat terpencil menghabiskan waktu yang lama untuk sampai dari jalan utama jalan Lintas Timur.

Hidup seorang diri tidaklah baik maka datanglah kesatria satu lagi... yup sang tokoh hero-nya seorang guru yang menyebarluaskan ilmu yang bermanfaat di sekolah. Entah bagaimana kisah romansanya dulu yang jelas aku ada karena mereka. Nah jika kita teruskan kisah mereka maka kita ganti karakter utamanya(untuk boswati dan bos yang baca maaf yak).

Tole, nduk, cah, as*, ndj**c*k, tenan, ngenkel, cangkem  lebih dulu kuketahui dari pada bahasa kebangsaan sendiri, bahasa Indonesia. Kenapa demikian? karena di desa ini mayoritas bukanlah orang melayu, melainkan orang jawa. Iya benar sekali aku orang sumatera yang bisa bahasa jawa karena lingkungan itu. Jadi jangan sembarangan ngatain diriku pakai bahasa jawa mentang-mentang aku orang sumatera.

Masa kecilku disini luar biasa menyenangkan karena teknologi informasi masih sedikit minim saat itu. Bayangkan aku kelahiran 99 ini masih menikmati asiknya menonton tv berlayar hitam putih yang bila antenanya goyang atau dihinggapi ayam maka acara tv nya jadi acara film dokumenter, semutan tuh layar. Listrik belum menjangkau daerah ini, kami mandiri menggunakan diesel atau jenset sebagai pemenuh kebutuhan listriknya dimalam hari mulai dari pukul 6 sampai jam 10/11 malam. Itupun tak semuanya mampu, bila tak ada alat tersebut maka lampu strongking/petromax, dimar, obor, bahkan lilin pun satu satunya penerangan dimalam hari.

Seperti di awal jalan masih belum berwarna hitam, sepeda kendaraan populer nomor satu setelah sepeda motor saat dulu. Bermain di desa tak banyak polusi, kelayapannya jauh jauh di kebun karet, kampung sebelah, maennya masih ngumpul asik bareng temen-temen tetangga. Diem-diem berenang di kali karena ga di izinin orang tua, ikutan nonton temen maen bola karena aku nggak suka main nya, banyak lagi permainan tradisional yang menurutku itu permainan pengaruh budaya jawanya.

720 kata sudah kutulis sampai titik ini. Luar biasa aku bertahan nulis sejauh ini, okeh lanjut.

Nah tak seru rasanya bila bermain terus tanpa sebuah konflik. Maka saat mendebarkan terpaksa berbagi waktu untuk beraktivitas di tempat yang bernama sekolah dengan alasan biar jadi orang pinter, masuk sekolah pertamaku dalam hidup, dan bukan Taman Kanak-kanak aku memulai tapi langsung SD! di SD inilah banyaknya cerita seru dengan teman berbagai tempat(padahal beda kampung aja).

Sekolah, belajar, pintar, juara 1, lalu naik haji(lho?). Itu tahapan umum anak cukup usia untuk menerima pendidikan dari orang asing yang disebut guru ini. SD Negeri 1 Cahayamas merupakan tempat pendidikan resmi pertamaku setelah TPA(Taman Pendidikan Al-Qur'an). Hebat bukan SD Negeri nomor 1? yah... bukan karena pintar tapi karena memang tidak ada lagi SD yang lebih dekat dengan rumah.

Hari pertama cukup menegangkan, hari ke dua lumayan beradaptasi, hari berikutnya tenang dan aman, beberapa minggu kemudian muncul masalah. Untuk anak kelas 1 SD berantem di kelas merupakan hal yang tak wajar, bukannya beradaptasi dengan teman teman baru malah adu kekuatan fisik. Masalahnya kecil sih, senggol-senggolan doang, kenal juga baru, sama-sama songong, alhasil beberapa gengam tangan mendarat di pipi masing-masing. Kulit biru memar mewarnai wajah masing-masing. Selayaknya pertandingan fighting, kami dikelilingin dengan sorakan-sorakan penyemangat tim.

*Dab *dab *dab... Sejenak kelas hening, sosok tinggi dengan sedikit urat di kepala dan tatapan tajam membunuh menatap kedua mempelai ini. Gerakan tangan patok ular sang guru langsung mengenai telinga imut yang sok-sokan ini. Kami dipanggil masuk ke ruang guru, ketika didalam wajah guru semua autolock kepada kami. Fiks anak ibu bidan desa ini membuat sejarah yang buruk di awal sekolahnya.

Sepulang sekolah bocah ini menyesali perbuatannya karena takut orang tua di panggil. Terlambat sudah para guru sudah tau nomor darurat desa ini jika ada kecelakaan dan gangguan kesehatan. Benar sesuai dugaan, orang tuaku sudah mengetahui terlebih dahulu sebelum diri hadir dirumah. Sejak saat itu hal mulai berubah secara perlahan.


Metamorfosis hampir sempurnaHistórias para pegar e não largar. Descubra agora