tentang kopi yang pahit memang mengandung banyak cerita. sama halnya seperti yang ku alami malam ini.
bukan seperti niatku yang ingin menikmati waktu luang di sela-sela kesibukanku, ada saja yang menyentuh di hati. ya seperti bertemu denganmu dalam keadaan resah. resah tentang pekerjaan dan ditambah bertemu dengan mu yang jelas adalah masalalu ku. walau pada dasarnya masalalu memang tidak bisa di ungkit kembali. tapi, cinta memang tidak bisa di paksakan, namun perasaan memang harus jujur.
sebuah prinsip mengatakan "kau tetap jadi bagian hidupku, meski kau tak harus berada disampingku" . haruskah ku khianati sebuah prinsip? akankah waktu bisa di ulang kembali agar kelak masih bisa bersamaku?. jujur saja itu bukan bagian dari isi hati.
melainkan dari ini aku hanya berfikir kenapa dulu aku bisa se-egois itu. bertingkah semaunya. mengatasnamakan cinta diatas segalanya, hingga aku jatuh diantara puing-puing perasaan yang begitu lunak.
mengemis rasa di ujung malam. hingga ku terima pesan singkat darimu yang hanya sebatas menghargai sebagai teman. hanya teman. itu kemauanmu, bukan yang kumau.
Jujur saja aku sedang menikmati kopi malam ini. menatap layar handphone dengan wajah hinata yang kujadikan latar dinding. rasanya ingin sekali aku teriak, merasakan dunia yang seharusnya aku ada disana. merasakan sensasi bahwa aku adalah satu-satunya yang berharga bagimu. namun, kenyataan berbanding terbalik. aku hanya seorang teman yang begitu bajingan dimatamu.
