Suasana kantin ketika jam istirahat begitu padat tapi mampu membuat sepasang mata kelam Nala terpaku pada satu sosok yang tengah duduk selang lima meja darinya. Sosok yang juga mampu membuat beberapa pasang mata ikut melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya. Tanpa dilakukan musyawarah bersama sosok itu mendapat gelar everyone's favorite di sekolah. Si sosok yang diperhatikannya seakan tidak peduli atau memang terbiasa dengan tatapan tak diundang terhadapnya dan sibuk mengetik sesuatu di handphonenya hanya sebentar sebelum kembali fokus ke obrolan teman-teman semejanya.
"Tinggal keluar aja tuh bola mata. Ngeliatin Eigo segitunya banget." Ucap Haneen, cewek yang duduk di seberangnya lalu menertawakan Nala.
Bibir Nala pura-pura mencebik kesal sebagai respon. Tapi sepasang matanya kembali jatuh ke sosok Eigo Mahesa, Tuan everyone's favorite. Satu sosok yang mampu membuatnya tertawa kecil atau tersenyum sendirian ketika mengingat interaksi mereka yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Satu sosok yang bukan hanya mampu membuat dunia seorang Nala yang awalnya monokrom berubah menjadi penuh dengan bias merah muda.
Tinggi? Check list. Wajah yang menarik? Check list. Jago olahraga? Check list. Pintar? Hm, sebenarnya tidak terlalu pintar-pintar amat tapi dia anak IPA-2 yang dikenal sebagai salah satu kelas yang isinya anak pintar. Pintar main alat musik? Check list, Eigo menjadi bassis di band yang selalu tampil di setiap event sekolah dan tentu saja menjadi band yang ditunggu-tunggu. Baik? Check list. Memang baik itu relatif tapi dari cara Eigo berbicara dan tersenyum kepadanya, Nala bisa menilai Eigo itu cowok yang baik, setidaknya untuk saat ini. Ya, memang kesempurnaan hanyalah milik Tuhan tapi untuk seukuran manusia Eigo bisa dikatakan mendekati sempurna. Penjabaran singkat ini bisa menjelaskan bagaimana seorang Nalara Kiyandra bisa menyukai—memang siapa yang tidak jatuh ke dalam pesona seorang cowok seperti Eigo?
"Gue ngerasa kayak peter parker deh." Gumam Nala sembari memainkan sedotan di gelas minumnya.
Peter Parker and Mary Jane. Sebuah analogi sempurna antara Nala dan target cinta monyetnya selama berbulan-bulan. Tentu saja dirinya bukan Mary Jane—meskipun dia cewek, Nala tidak memesona itu seperti tokoh rekaan milik Stan Lee. Nala lebih menyerupai Peter Parker, si nerd—Nala memang tidak sekutu buku si cowok laba-laba itu tapi mereka memiliki kemiripan tentang menyukai seseorang yang total berbeda dari diri mereka. Si populer dan si eksistensi yang abu-abu.
Haneen semakin tertawa, "terus si Eigo Mary Jane? Makin mudah dong kalau gitu, lo jerat si Eigo dengan jaring cinta lo." Tanpa menghilangkan tawanya dia memperagakan bagaimana spiderman mengeluarkan jaring dari telapak tangannya dan mengarahkannya ke Eigo.
"Neen, please." Ucap Nala lalu memukul telapak tangan ala spiderman milik Haneen dengan sedotan teh dinginnya yang basah.
"Jorok ih." Gerutu Haneen melihat telapak tangannya sudah kotor oleh cipratan teh dingin yang lengket. "Lo liatin mulu juga dia gak bakal tahu kalau lo naksir dia."
"Ya terus gue harus ngapain? Nembak di kantin pas jam istirahat pake toa?"
Haneen tertawa. "Lo nyapa terus ngobrol lama aja udah usaha paling mentok"
"Nah itu lo tahu."
Hanya karena lingkar sosialnya tidak terlalu besar bukan berarti dia sosok yang pemalu dan dia sebenarnya adalah seorang yang cukup banyak bicara kepada orang asing. Entah kenapa kemampuan verbalnya berubah jeblok jika berhadapan dengan Eigo. Semua topik yang sudah dipersiapkannya menguap cepat seperti uap air mendidih di dalam teko teh. Apakah semua orang yang berhadapan dengan orang disukainya akan bersikap begitu bloon? Atau memang dia saja?
YOU ARE READING
Orphic
RomanceSeperti remaja tanggung pada umumnya yang sering menyukai seseorang yang menarik secara fisik begitulah bagaimana Nala awalnya menyukai Eigo, si favorit semua orang , selama nyaris setahunan. Tentu saja dia memilih untuk menyukai dalam diam---ya, di...
