Harapan

4 0 0
                                        

"Jangan pergi."

"Kumohon."

"Tolong aku."

Aku meringgis karena menahan sakit di kepala. Pusing hebat di titik pukulan membuatku tersungkur di lantai. Orang yang yang sangat kucintai berdiri gagah di hadapanku dengan sepatu pantofel yang kuberikan untuknya sebulan yang lalu. Aku memohon belas kasihan. Tetapi, Orang yang yang sangat kucintai itu jugalah yang telah menghantam kepalaku dengan panci teflon paling besar. Aku terus meyakinkan diriku bahwa yang terjadi barusan bukanlah perbuatannya.

Ia hanya kerasukan sesaat.

Aku yakin sekali itu bukan dia.

Aku terus berharap demikian sampai rahangku sudah terlalu gemetar kumintai berucap tolong. Badanku hanya terbaring lemas di atas lantai dapur dengan keramik lantai motif kayu.

Tapi, langkah kakinya malah terdengar menjauh dariku.

Kepalaku terlalu pening untuk mengamati keadaan. Napasku semakin pendek. Dadaku semakin sesak. Suara keran air dari kitchen sink mengalir terdengar di telingaku bersama denting panci teflon yang ia gunakan untuk memukul kepalaku beberapa saat yang lalu.

Padahal, seharusnya malam ini yang terjadi adalah dinner spesial kami untuk merayakan ulang tahunku.

Bahkan masih terasa dengan jelas bagaimana senyumnya yang maskulin. Rambut cepak dan sudut dagunya yang lancip dengan janggut tipis selalu berhasil membatku selalu tergila-gila. Ditambah pelukan hangatnya yang datang dari belakang beberapa saat yang lalu. Bahkan hidungnya hampir menempel di tengkuk. Membuatku merinding saat merasakan napasnya menderu. Ia mengecup dari belakang hingga ke daun telinga. Lalu membisikan pujian dengan kata-kata yang manis dari belakang telinga.

Caranya datang tiba-tiba dan memujiku saat sedang fokus memasak di dapur membuatku hanya bisa pasrah.

Ia memegang pinggangku dengan kedua tangan dan menjauhkanku dari depan talenan tempatku memotong-motong wortel. Pisaunya tanpa sengaja jatuh ke lantai. Namun aku tidak perduli. Ia memutar tubuhku. Mataku sekejap terpaku kepada manik mata hitam kecokelatannya yang selalu membuat jantungku berdebar lebih cepat. Bibir kami bertemu. Ia menciumiku seperti kehausan. Aku membalas ciumannya saat dia mendorong dan menaikan badanku yang mungil ini ke atas meja makan.

Keripik jagung yang rencananya kupersiapkan sebagai condiment jatuh dari meja akibat tergeser oleh tubuhku. Permainanya semakin mendebarkan saat ia membuka ikatan apron di belakang dan menarik choker yang melingkar di leherku hingga terlepas.

Kami saling berpelukan saat ia menciumi seluruh leherku hingga bibir kami saling bertemu lagi. Keganasannya meraba tubuhku makin membuatku penasaran. Dan lagi-lagi aku menggigit bibirnya terlalu kencang karena lepas kendali.

Saat itulah kecupan mesra kami berakhir. Ia menarik mundur kedua tangan yang sedang ia gunakan untuk mengejutkan buah dadaku. Penolakan itu membuat tubuhku yang sedang tegang terbawa suasana menjadi panas dingin tidak karuan. Aku lagi-lagi melanggar kesepakatan dan dia terlihat sangat murka saat bibirnya kubuat luka.

Pertama kalinya aku tau ia tidak suka digigit adalah tiga tahun lalu. Waktu itu kami tidak sengaja bertemu saat aku bekerja sebagai housekeeping di salah satu hotel bintang lima di Jakarta.

"April Sekarningtyas?" Sapanya dengan ramah saat aku sedang menganti seprei seperti permintaanya beberapa saat yang lalu lewat telepon di kamar tempatnya menginap. "Kamu kerja disini?"

Awalnya aku malu karena kami bertemu lagi setelah pertemuan terakhir kami di acara perpisahan sekolah menengah pertama. Ditambah aku tidak sengaja menemukan dua pasang celana dalam pria saat aku menarik seprei serta bed cover dari tempat tidur.

"Iya." Jawabku dengan canggung karena tampaknya ia hanya menggunakan handuk kimono dan rambutnya yang masih basah tipikal habis mandi.

"Kita selalu bertemu di saat-saat seperti ini." Ia tertawa.

Lalu aku teringat dengan masa-masa sekolah di jam ekskul selepas pulang sekolah. Ia tidak sengaja masuk ke kelas dan menangkap basah diriku yang sedang berciuman dengan pria yang tidak lain adalah ketua di kelas kami.

Sejak saat itu ia menyimpan rahasiaku rapat-rapat walaupun pada kenyataanya aku putus hubungan dengan ketua kelas dua minggu setelah kejadian itu. Ketua kelas kami juga diganti karena ketua kelas yang menjabat mendadak pindah sekolah. Tidak lama kemudian tersebar kabar bahwa mantan ketua kelas yang tiba-tiba menghilang ternyata telah menghamili seorang gadis di sekolah lain. Sejak saat itu aku sangat merasa bersyukur kepada pria di hadapanku ini yang tidak sengaja datang ke kelas waktu itu.

"Sudah beres." Aku akhirnya selesai mengganti bed cover serta seprei dengan yang baru sesuai dengan permintaanya. Walaupun terpaksa memindahkan celana dalamnya ke atas nakas di samping tempat tidur.

"Terima kasih April."

"Sama-sama." Jawabku saat mencoba melipat seprei dan bed cover yang kotor.

"Sini biar kubantu." Pria itu menawarkan bantuan. Aku tidak sempat menolaknya karena kedua tangannya telah menyambar bed cover besar yang berada di kedua tanganku.

Saat ia mendekat. Terciumlah wangi khas yang berhasil membuatku tergila-gila. Di malam itu, akhirnya kami bercerita tentang banyak hal. Tentang kehidupan setelah lulus sekolah menengah pertama, tentang sulitnya mendapatkan pekerjaan pertama, serta tentang hubungan percintaan sampai akhirnya ia mengaku bahwa ia menginap di hotel malam ini untuk hubungan satu malam namun wanita yang telah dibayarnya kali ini ternyata menipunya. Jadi karena sudah terlanjur memesan tempat di hotel, ia hanya menggunakannya untuk bermalam.

"Kenapa kamu ngga mengajukan refund aja?" Tanyaku padanya.

"Aku dapet yang promo, jadi ga bisa refund."

"Ah, begitu rupanya!" Aku menggunguk.

Malam itu akhirnya berakhir dengan nomor kontaknya yang tersimpan di ponselku begitupun sebaliknya. Kami akhirnya sering bertukar kabar untuk sekedar saling menyapa dan bertemu untuk mencari wanita panggilan yang telah menipunya itu.

Setelah sebulan berlalu, kami akhirnya berhasil menemukan wanita penipu yang kebetulan tidak sengaja menginap di hotel tempatku bekerja. Kami merayakan kegembiraan di tangga darurat. Berpelukan dan tanpa sengaja kakinya terpeleset di tangga. Aku menariknya agar ia tidak terguling dan bibir kami tanpa sengaja bersentuhan. Akhirnya aku terbawa suasana hingga berakhirlah pada persetubuhan pertama kami yang terasa canggung di salah satu kamar kosong.

Aku baru mengetahui sisi lain dari dirinya yang ganas saat tidak sengaja menggigit bibirnya waktu melanjutkan ronde kedua. Ia mencekik leherku sampai kesadaranku hampir hilang dan segera meminta maaf hingga menangis dihadapanku.

Seperti yang terjadi di hari ini. Aku memohon agar dia meminta maaf atas perbuatan kasar yang telah ia lakukan dan menolongku mengobati lukanya. Namun di sisi lain, aku sadar bahwa ini juga salahku dari awalnya.

Namun kali ini, ia bahkan mengacak-acak meja makan. Menumpahkan minuman soda merah yang telah kutuang di dalam gelas. Membanting piring ke lantai sehingga pecahannya ada yang terburai menusuk di pergelangan lenganku. Aku mulai berdarah saat langkah kakinya terus menjauh.

"Dimas... kumohon maafkan aku." Rintihku dengan sisa sisa tenaga yang ada. Namun suaraku yang lemah kalah oleh suara air yang terus mengalir dari kitchen sink.

Pengelihatan dari tempatku terbaring menampakan kekacauan di dapur. Apalagi air dari kitchen sink sudah mulai meluber ke lantai hingga membasahi kripik jagung yang berserakan beserta blouse berwarna krem tipis dan leging putih bercorak kembang yang kupakai. Di antara pecahan piring kaca ternyata nampak juga anting-antingku yang jatuh dan sebuah pisau dapur yang kugunakan untuk mengiris wortel beberapa saat yang lalu.

Saat hidungku mencium aroma darah yang berbau seperti besi berkarat, aku sadar kalau aku sungguh tidak sanggup lagi menghadapi sisi dirinya yang kejam.

[1]

April TearsStories to obsess over. Discover now