Ini bukan cerita sedih.
Ini hanya cerita tentang aku lelah sudah mengirim beribu-ribu rindu.
Ini bukan agar merasa dikasihanimu.
Tetapi,
Ini agar menarik perhatianmu dan membuatmu menerima segala rasa rindu yang sudah sejak dulu menggebu-gebu.
Dan kau tak pernah sadar akan itu.
Bandung, 20 juli 2018
Maura Ayu Wulandari
Maura memejamkan mata sebentar sebari menghela napas. Berat rasanya jika harus mengingat semua kejadian yang sudah berlalu tersebut. Masa-masa indah yang harus hilang dan lenyap .
Seseorang pernah bilang padanya; masalalu dibuat bukan untuk dilupakan, tapi untuk dijadikan pelajaran agar tidak terulang dikemudian. Dan ya, ia meyakini hal itu.
Malam sudah hampir larut. Maua merapihkan semua peralatan dimeja. Dan segera beristirahat untuk melakukan aktivitas diesok hari.
Baru ingin melangkah, ponselnya berdering. Tak langsung di angkat. Kebiasaanku selalu menebak-nebak siapa yang meneleponnya malam ini. Apakah dia? Tanpa pikir panjang lagi segera ia lihat nama penelepon itu. Dan lagi-lagi Maura kecewa.
"lo belum tidur? Ngapain? Besok pagi buta lo harus udah bangun ya!" Suaranya terdengar begitu nyaring, sontak membuatnya harus sedikit menjauhkan ponsel dari telinga.
"iya, gue tau"
"lo masih nunggu telepon dari dia?"
Pertanyaan dari Dinda sedikit membuatnya terdiam. "ah, engga."
"ck, udahlah, Ra. Sampe kapan lo begini terus. Nunggu telepon dari dia juga gak mungkin lagi, yang ada lo capek sendiri."
Teman-teman Maura selalu bilang begitu. Tapi hanya mempan 2-3 hari aja. Setalah itu ya gak mempan lagi. Batu banget gak sih, haha.
"I know. Yaudah, gue mau istirahat." ia memilih untuk mengakhiri perbincangan ini dibanding harus mendengar ocehan lagi. "jangan lupa bangunin gue supaya gak kesiangan ya ."
"oke"
Setelah selesai berbincang dengan Dinda via telepon, ia meletakkan kembali ponsel di meja dan segera berbaring di tempat tidur.
Sebelum benar-benar terlelap, matanya terarah pada sebuah bingkai foto diatas meja yang berada tepat disamping ranjang tidur. Hari yang indah, pikirnya. Dan tak sadar ia kembali meneteskan air mata. Sudah berapa kali Maura menangisi seseorang yang sudah tak memikirkannya? Bodoh sekali.
Tak mudah bagi Maura untuk tidak memikirkan hal itu. Setiap kali ingin memejamkan mata, ada saja hal-hal yang terlintas dipikirannya, membuatnya menjadi sulit tertidur. Maura kembali membayangkan bagaimana pertama kali ia bisa kenal dengannya, melewati hari-hari dengan penuh dengan bahagia, hingga akhirnya perpisahan itu tiba.
-----
YOU ARE READING
Hello, Goodbye.
RomanceRasa cinta yang hadir memang tak bisa kutolak, namun menjadikanmu milikku bukanlah kuasaku. Saat ini namamu tak ada lagi dalam do'aku dihadapan tuhan. Dan keputusan yang kupilih tetap mencintaimu dalam keikhlasan melepasmu. Andaresta230.
