"Jangan jadi pengecut, siapa kau? " ucapku dengan bergetar,
ku langkahkan kakiku menuju kebelakang secara perlahan untuk mencari benda yang dapat ku jadikan sebagai senjata
"Aku pelindung seseorang yang kau hianati, bung. Ah.. pelindung, itu memang agak berlebihan sih hahaha" ucapnya bangga sambil memainkan pisaunya yang tajam dengan santai seolah olah itu adalah barang mainanya,
Dia sedikit demi sedikit berjalan kearahku dengan seringainya yang mengerikan, walaupun ruangan ini masih dalam keadaan remang aku masih bisa melihat seringainya "sialan.." umpatku dalam hati bahkan tubuhku serasa kaku, kakiku bergetar dengan hebat, dengan segenggam keberanian ku ambil vas bunga di belakangku "akan ku pukul kepalanya dengan cepat, setelah dia lengah dengan kepalanya yg terluka akan ku hajar dia dengan tinjuku" ujarku dengan taktik yang kurang menyakinkan, karena saat ini terpaku dengan rencana tolol jauh lebih baik dari pada mati pasrah seperti pecundang.
Dia sudah setengah meter dari ku, "ini saat nya" batinku
Prankkk.. aku mengenainya, dengan semangat yg menggebu ku arah kan tinjuku kearah pelipisnya dengan sigap dia berhasil menangkisku "sekuat apa tengkoraknya, apa dia titisan dari hulk" ujarku dalam hati sambil sedikit terkejut dengan tindakamya
"What the hell, apa yang kau lakukan" ucapku dengan sedikit terkejut saat aku melihat wajahnya dengan jelas
"Aku sedang mengiris perutmu " balasnya dengan senyum yang manis
"Tunggu!,apa?" Dengan reflek aku melihat perutku, tanganku gemetar aku memasukan ususku kedalam perutku, darahku keluar dengan deras sekali "jadi inikah bentuk usus asli manusia" ucapku dalam hati sambil menangis
"Ak..." bahkan belum sempat aku menjerit dia sudah membukamku dengan tanganya yg terbungkus sarung tangan hitam,
"Diam, kau sialan" bentaknya dengan mata melotot, tanpa basa basi lagi dia mengarahkan pisaunya yang masih berlumuran darah, menusuk mata kananku
Rasanya sakit, sangat sakit
Bagaiman mungkin dia melakukan ini padaku, pada sahabatnya sendiri
"Seorang lelaki tidak boleh menangis, kau kan yang bilang begitu dasar penghianat" bisiknya di telingaku suaranya rendah, penuh intimidasi dan mengerikan.
"Apa maksudmu?" Tanyaku dalam hati
Tanpa babibu lagi dia menggorok leherku dengan santai, seketika itu darahku menyembul dengan deras seperti mata air yang menyembul dati padang pasir.
Rasanya sakit, sangat sakit,
menyakitkan aku tak bisa bernafas. Tubuhku kejang, aku menggeliat
Aku melihatnya, dia tersenyum padaku sambil menunjukan jari tengahnya pada ku "sialan" umpatku, seketika itu tubuhku lemas tetapi rasa sakit ini masih ada, pandanganku mulai kabur dan menghitam.
YOU ARE READING
SIDE
Mystery / Thriller"Dia selalu membunuh seseorang yg aku sayangi, dia selalu mengatas namakan tindakanya adalah sebuah perlindungan, Omong kosong. Dia benar benar iblis." -Zaki. "Dia benar benar pecundang, bisa apa dia tanpa aku! Bukankah seharusnya dia bangga punya p...
