Pagi itu di kota Madrid, cuacanya indah. Suasananya begitu menenangkan. Meskipun ada sedikit orang yang berjalan terburu-buru, mengingat hari ini adalah hari yang sibuk. Sebagian orang tentunya bekerja, tetapi tidak denganku. Seorang gadis yang duduk terdiam di depan sebuah toko roti. Seperti gelandangan yang duduk menikmati pemandangan-pemandangan di depan mataku tanpa bisa berbuat apa-apa. Lebih tepatnya tidak tahu.
Karena terlalu lama melamun, aku sampai tak sadar kalau sang penjual tokso roti sudah ada di hadapanku. Seorang lelaki paruh baya yang tingginya tak lebih dari dadaku yang seksi ini, perut buncit, alis mata yang saling bertautan ketika melihatku, dan ditambah lagi dengan kumis tipis anehnya yang menambah aura mengerikan terhadapnya. Kemudian terbesit sebuah ide gila di benakku. Aku pun menatapnya dengan pandangan sedikit memelas, seperti anak anjing yang meminta dikasihani. Aku yakin pasti hatinya akan luluh dan memberikanku beberapa roti setelah melihat tampang konyol-ku ini. Tapi ternyata aku salah besar. Jangankan beberapa roti, satu buah roti-pun tak diberikannya. Ia malah menendangku, dan mengusirku layaknya aku seekor anjing. Benar-benar manusia yang tak tahu sopan santun! Aku-pun bangkit, kemudian menamparnya. Tak puas dengan itu, aku menarik kumisnya sampai terlepas beberapa helai, lalu berlari meninggalkannya. Setidaknya aku puas bisa membalas perbuatannya yang biadab itu.
Setelah merasa kelelahan, aku pun berhenti di sebuah lorong yang bisa dibilang kumuh. Astaga, aku melihat sepotong roti di sudut lorong tersebut. Tanpa sadar aku langsung berlari menuju roti tersebut, kemudian aku mengambilnya, lalu memakannya. Ya ampun, sungguh rasanya aku ingin muntah. Tapi tetap saja mulutku terus mengunyah lalu menelan roti busuk menjijikkan itu. Cukup, aku sudah sangat tak kuat lagi. Ini benar-benar, menjijikkan. Ya Tuhan, semoga inilah ujian terberatmu kepadaku.
Lalu aku pun berlari, entah kemana. Cukup sudah, aku tak tahan dengan semua penderitaanku ini. Baru tiga hari aku di kota ini, rasanya sudah seperti tiga tahun. Astaga, aku mulai depresi! Seandainya, gelandangan keparat itu tak mengambil-ralat, mencuri semua barang-barangku, pasti aku tidak akan menjadi seperti ini. 'Sial, sial, sial.' Rutukku dalam hati.
Entah apalagi yang harus kulakukan. Makan? Jika makan makanan seperti roti tadi, terimakasih banyak! Tidur? Kau tak akan bisa tidur di sembarangan tempat seperti seorang gelandangan. Menonton acara kesukaanku? Tolong, jangan gila. Tidur saja susah, bagaimana dengan menonton? Uh, pergi Shopping? Bodoh, aku tak punya apa-apa selain baju kotor yang melekat di tubuhku ini. Ya Tuhan, aku tak kuat lagi. Seharusnya sekarang aku pasti sedang membaca majalah-majalah favoritku. Jangankan majalah, koran bekas pun tidak ku temukan disini. Aku benar-benar sudah lelah dengan semua ini!
Aku berjalan dengan gaya seperti orang yang putus asa. Tapi memang itulah adanya, aku sedang ber-putus asa. Entah Tuhan masih mendengarkanku atau tidak, aku hanya ingin Dia berbaik hati mau menyurh bumi untuk menelanku sekarang juga. Aku benar-benar tidak tahan lagi akan semua ini.
Entah sudah berapa lama aku berjalan sempoyongan seperti ini, dan tanpa kusadari aku menabrak seorang lelaki.
TBC
.
.
Hey..
I'm a new author. I know if there are some mistakes in that story.
Hope you like it!
YOU ARE READING
Damn
RomanceI dont want to lose you. Please, wherever you are just take me with you. - Adam . . Hello guys! I'm a new author--in wattpad. Well, sebenernya saya sudah lama berkecimpung di dunia tulis menulis. Saya dulu merupakan bagian dari fanfiction, dan dikar...
