Laki-laki tua itu beranjak dari kursinya, melemparkan cangkir teh yang isinya telah habis tepat di layar televisi tabung yang telah 15 tahun menampilkan wajah dunia.
"Brengsek!" Serunya.
"67 tahun aku hidup, tapi kalian hanya membual dan membuatku muak! Brengsek!" Lanjutnya mencaci maki televisi yang tidak lagi menyala.
Pria tua itu dulunya pegawai negeri di kota itu. Jabatan terakhirnya adalah staf di sebuah lembaga milik negara yang mengurusi keuangan daerah.
Laki-laki itu tinggal sendiri di rumahnya yang telah ia tinggali berasama mendiang istrinya yang meninggal karena sakit kanker rahim. Pengobatan penyakit istrinya membuat ia harus menjual tanah yang telah diinvestadsikannya sejak muda.
Mereka hanya memiliki anak angkat yang kini tinggal di luar kota setelah meikah. Anak angkatnya itu bekerja sebagai kepala sekolah di SMA. Anak itu hanya dapat mengujunginya paling banyak tiga kali dalam satu bulan pada akhir pekan. Namun pernah dalam satu bulan tidak sekalipun ia mengunjungi pria tua itu.
"Halo! Apa kau tidak mengunjungiku minggu ini?" Kata pria tua itu yang menghubungi anak angkatnya melalui telepon.
"Maaf, ayah. Aku baru bisa menemuimu satu minggu lagi. Minggu ini aku ada janji dengan rekanku untuk memancing. Aku mohon maaf" Jawabnya dengan nada menyesal.
"Baiklah kalau kau lebih memilih memancing dari pada menemui pria tua yang hampir mati seprrti ku ini?." Pria itu langsung menutup telepon dan meletakkannya di meja sebelum anaknya menjawab.
SENIN.. SELASA.. RABU.. KAMIS.. JUMAT..
SABTU...
Hari berkunjung anaknya.
Pria tua itu menyambut kedatangan anak angkatnya yang datang bersama istri dan anaknya yang berarti cucu dari pria tua. Pria tua itu langsung menggendong cucunya dan membawanya masuk.
"Ayah, televisinya..?"
"Oh! Aku melemparnya dengan cangkir teh." Kata pria tua.
"Apa? Kenapa?" Tanya anak angkatnya dengan heran.
"Aku muak melihat berita di televisi. Para pejabat itu selalu saja mencuri uang." Jawabnya
"Tapi ayah tidak harus merusak televisinya, kan?"
"Kau tau berita yang paling aku benci? Tikus politik." Sambungnya. Ia mengoceh dengan cepat.
"Maksud, ayah?"
"Kau tidak menonton berita? Orang-orang sok berpolitik itu tidak lebih pintar dari tukang sampah di jalanan. Mereka seenaknya mengambil apapun yang mereka sukai dan meninggalkan yang tidak menguntungkan mereka. Mereka suka menjilat. Dan aku benci penjilat. Kau tahu? Mereka mempunyai lidah yang dapat berputar 180 derajat. Mengucapkan janji dan melupakannya. Aku sudah 67 tahun hidup dan yang ku lihat hanya bualan saja." Pria tua itu mengoceh seperti kereta cepat buatan Jepang.
"Tidak semuanya seperti itu, ayah!" Sambut anak angkatnya sambil menarik napas panjang.
"Kau lihat tetangga kita, dia cuma pegawai biasa yang memilki rumah dua tingkat dan mobil. Aku yang telah bekerja sampai pensiun saja tidak mampu membeli sebuah mobil. Akhirnya di ditangkap karena bekerja sama dengan atasanya dalam pencucian uang." Katanay dengan wajah sedikit memerah.
"Baiklah ayah. Aku rasa tidak ada gunanya membicarakan ini sekarang ataupun nanti karena suara kita tidak terdengar. Lebih baik kita bermain catur di teras belakang. Aku sudah lama tidak main catur denganmu."
Setelah percakapan itu mereka pergi ke teras belakang dan bermain catur dengan ditemani secangkir teh hanga dan biskuit.
Besoknya merek pergi berjalan-jalan ke pantai dan menghabiskan sebagian waktu untuk benar-benar membersihkan pikiran dari debu kehidupan yang setiap saat mengotori saraf-saraf.
Kehidupan berjalan seperti biasanya. Berita-berita di televisi memang tidak pernah benar-benar menjadi hiburan.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Short Stories
Kısa Hikayebeberapa imajinasi yang melintas dipikiran mendesak jari-jari untuk menuliskannya.
