Aku duduk termenung di antara bebatuan besar milik pantai yang entah apa nama nya.
Rambut ku terhempas angin yang berasal dari ombak nan terus menerjang karang.
Suara burung berkerumun membentuk sekawanan, mereka terbang bebas menyusuri langit pantai, hendak pulang ke sarang.
Begitu pula dengan beberapa siput, berlari dengan kecang hingga sampai ke dataran tinggi kemudian masuk ke dalam rumah nya.
Melihat itu aku tersadar, semua makhluk harus pulang ketika sang mentari akan lenyap dan digantikan sinar rembulan.
Namun aku masih disini, bahkan setelah langit menggelap.
YOU ARE READING
ANDERSON
Horror"Aku tidak pernah benar-benar pulang, karena aku tidak punya rumah. Dulu, kau adalah rumah bagi ku. Aku harap akan terus begitu, hingga aku memiliki tempat untuk pulang dan melepaskan letih dari hari-hari yang menakutkan." ...
