ketika...

5 1 0
                                        


Alhamdulillah pesawat mendarat dengan mulus,aku tiba kembali di kotaku yang hampir setahun aku tinggalkan. Rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tua, nenek, teman dan sahabatku Mira.

"Titik....titik....", terdengar suara memanggil namaku dan suara itu sangat aku kenal, ketika aku telah keluar dari terminal kedatangan. Aku berusaha mencari arah dimana suara itu. Aku melihat orang melambaikan tangan dan mataku trus tertuju pada lambaian itu, ternyata Paman dan Bibiku, ya mereka yang menjemputku.

Aku balas melambaikan tanganku kepada mereka sambil tersenyum dan mempercepat langkah kakiku menuju ke arah mereka. Tiba dihadapan mereka aku langsung memeluk Bibiku. Kami pun terus menuju keluar untuk mencari taksi.

Tiba di depan rumah, aku langsung turun dari taksi dan bergegas menuju seseorang yg berdiri di depan pintu. "Ibu....!" aku langsung memeluk ibu,
"Titik kangen bu.....," gumamku dalam hati sambil terus menguatkan pelukanku.
"Tik...kamu agak kurusan,,,,??" terdengar suara lembut di telingaku. Aku segera melepas pelukanku dan memandang wajah ibu dalam-dalam, ibu tersenyum kepada ku.
"Ayo, masuk." Ibu menarik tanganku dan menuntunku masuk sampai ke ruang makan.
Ibu menyodorkan segelas air putih,"minumlah...!" pintanya. Begitu segar air yang  diberikan ibu, bukan karena airnya tapi siapa yang memberinya.
"Astaghfirullah," aku langsung berdiri dari tempat duduk dan berlari ke depan.
"Aduh... maaf paman bibi tadi Titik tinggalin begitu aja langsung turun," kataku sambil memegang tangan paman dan bibi. Sementara paman dan bibi hanya tersenyum.
"Gak apa-apa," terdengar suara paman membisikkan ditelingaku. Akhirnya bibi tertawa karena melihat candaan paman.
"Ayo, kita makan udah disiapkan tuch di meja makan!"ajak ibu sambil melangkah ke ruang makan. "Ayo....," dengan semangat paman menarik tanganku menuju ke ruang makan.

Suasana hari itu benar-benar membuatku bahagia, cuma kurang lengkap karena Bapak belum pulang dari luar kota. Abang dan adikku belum pulang dari pekerjaannya. Aku juga tidak melihat nenek ada diantara kami.
"Bu...nenek mana koq dari tadi tidak kelihatan?" Tanyaku sambil menikmati masakan kesukaan yang sengaja dibuat ibu untukku. "Di rumah Bi Wati," jawab ibu sambil memberikan sepotong ikan.

Aku merasakan ada yang berbeda, ya suasana rumah sudah sangat berbeda. Mungkin karena sudah lama aku tinggalkan. Selesai makan aku masuk kamar, tempat yang membuatku nyaman berlama-lama di dalamnya. Aku pandangi sekeliling kamar tidak ada yang berubah semua tertata rapi seperti saat aku tinggalkan. Tidak ada yang berubah dan tidak ada yang berkurang atau bergeser barang-barang yang ada di kamar.
Aku rebahkan tubuhku di atas kasur untuk beristirahat sejenak.

"Tik....bangun, udah sore sayang," suara lembut terdengar di telingaku. Perlahan aku membuka mata... "hmmm...iya bu...," jawabku sambil menggeliat. Ternyata cukup lama aku tertidur. "Udah jam berapa bu...?"tanyaku sambil melihat ke arah ibu yang duduk di tepi tempat tidur. "Udah jam 5 sore," ibu menjawab lalu keluar kamar. Setelah bersih-bersih diri aku keluar kamar dan duduk di teras depan, ternyata ibu juga duduk di teras. Kami berbincang-bincang cukup lama, tanpa terasa hampir maghrib.

Paman dan bibi sehabis makan siang, mereka langsung pergi karena paman ada urusan kantor, mendadak, pamit pulang ketika aku tertidur di kamar. Itu kata ibu waktu ngobrol berdua di teras sore tadi.

Sehabis makan malam aku duduk di teras depan rumah melihat anak-anak berlari ke sana kemari. Teringat masa kecil tidak ada beban apapun. Senyum-senyum sendiri melihat tingkah mereka yang lucu. Benar. Sesekali pandangan mataku ke arah langit, begitu banyak bintang bertaburan. Jadi teringat seseorang yang jauh. Tak terasa suasana sudah sepi, anak-anak yang bermain udah kembali ke rumah mereka masing-masing. Aku lihat jam di ponselku, sudah menunjukkan pukul 10 malam, pantas aja udah sepi.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar, aku tidak melihat ibu .... mungkin sudah tidur karena pintu kamar ibu sudah tertutup rapat.
Di kamar aku tatap langit-langit kamar kosong, fikiran menerawang jauh seakan menembus langit-langit kamar...jauh.....jauh....dan jauh..... sampai menemukan satu titik... seperti melihat suatu film di putar kembali. Film tentang diri saat diperantauan. Banyak yang aku dapatkan selama diperantauan, aku jadi lebih mandiri.... banyak makna kehidupan yang aku dapatkan yang tidak aku dapatkan di kota kelahiranku.

EIPWhere stories live. Discover now