Seketika suasana berubah, di acara pernikahan yang dihiasi langit biru yang begitu bersahabat.
Samar-samar kulihat wanita setengah baya itu keluar dari dalam mobil dengan terburu buru masuk menerobos ke dalam rumah kakek yang sedang berpesta.
Dengan langkah yang kecil aku mengikutinya masuk sampai ke dalam kamar. Ternyata dia ibu yang sejak kemarin menitipkanku ke rumah kakek.
"Adiva..kemarilah dan bantu ibu kemasi semuanya, kita pulang yah nak " Dengan suara yang gemetar, ibu memegangi kedua pundakku
Sambil mendekapku dengan erat ku lihat mata ibu sudah berkaca-kaca, seketika air mata itu jatuh, karena sudah tak mampu menampungnya lagi, ibu menangis sejadi jadinya dihadapanku.
(Apa yang sedang terjadi ?) Bisikku dalam hati,ibu kemudian menyuruhku untuk mengepak semua pakaian yang ada dilemari.
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan ibu, yang ku lihat air matanya terus menetes setiap kali memasukkan semua pakaian kedalam koper. Akupun dengan cepat menaati perintah ibu dan mengikutinya keluar.
"Kalian mau kemana, saya mohon jangan pergi nak"
Teriakkan nenek sontak membuat orang orang terdiam menyaksikan kejadian itu, mereka tidak memiliki kuasa apapun untuk menahan kepergian aku dan ibu, yang ada hanya isakkan tangis kepergian ibu
Dengan genggaman yang erat ibu membawaku keluar dari rumah besar itu, ibu tak mengelakkan teriakan nenek dan yang lainnya, dengan langkah yang cepat kami segera menaiki taksi yang sedari tadi menunggu di depan jalan. Kamipun berjalan meninggalkan pesta dan bergegas menuju pelabuhan
****
"Ibu kenapa? Kok ibu nangis?" Tanyaku dengan nada sedikit parau
"Ibu gak kenapa-kenapa kok, adiva ikut ibu aja ya, kalo disana..nanti gak ada yang jagain loh" jawab ibu.
"Adiva tidur lagi, nanti ibu bangunin kalo sudah sampai"
Aku tak menghiraukan ombak yang mendayu dayu dan suara mesin yang cukup mengganggu, sepanjang perjalanan aku tertidur dengan sangat pulas, dan saat aku terbangun kudapati suasana kota yang sangat asing bagiku...dan disitulah kehidupan baruku dimulai.
