Pembawa Sinyal

9 0 0
                                        

"Wooaaahh!!!" entah apa yang merasuki Joni saat memasuki kelas

"Apa!!!!!" seluruh penghuni kelas terkejut

"Apa? Aku belum memberitahu kalian apa-apa?" Joni bingung

Penghuni kelas memandang satu sama lain seperti orang bodoh, kecuali satu orang..

"Tanganku gatal sekali!! Rasanya ingin memukul seseorang yang berisik seperti anjing!!"

Sontak penghuni kelas terdiam...
Umpatan tadi berasal dari seorang wanita paling galak?, cantik?, pintar?, paket komplit menjadi satu dalam dirinya...

"Heeyy santailah Vay, ini masih pagi jadi kalem saja. Oke?" Ucap Darwin menenangkan Vaya. Darwin adalah sahabat Vaya sejak SD

"Hmzzz!!!. Tapi Joni!" Vaya bertanya pada Joni

"Sii.. Siiapp?!"

"Ada apa pagi-pagi sudah berisik?"

"Berita itu benar ternyata!!!"

"Be.. Berita yang itu?" Vaya ragu

"Iyaa yang itu.. Ituu...!!!"

Sekejap kelas menjadi senyap...
Apa jadinya jika anak cacat disatukan dengan anak normal?
Aneh? Berantakan? Hancur?
Itulah yang ada di pikiran para penghuni kelas

Berita ini sudah lama dicium para penghuni kelas, dalam rangka menjamin pendidikan orang-orang cacat Kepala Sekolah memasukkan seorang anak cacat kedalam kelas mereka

Setelah memdengar pemberitahuan Joni, seluruh penghuni kelas berkumpul untuk berunding...

"Jadi... Bagaimana menurut kalian?" Ucap Darwin sang ketua kelas

"AKU TIDAK TERIMA!!" Rose, paling matre di kelas

"Aku sih tidak masalah, asal dia tidak mengganggu saja..." Erik, kurang kerjaan di kelas

"Aku harap meskipun cacat dia tetap tampan..." Poly, Princess di kelas

"Tapi cacatnya seperti apa, apakah tangannya buntung, kakinya 3, rambutnya dipenuhi ular?" Tom, pemikir kritis/bodoh? Di kelas

"Apakah dia anak orang kaya????????" Gary, preman di kelas

Seluruh penghuni mengemukakan berbagai pendapat mereka namun...

"Kenapa kalian seperti menolaknya? Bukankah bagus punya teman baru?" Vaya

"Tapi dia kan cacat?" Ucap Poly

"Bukan berarti kita harus menolaknya! Apa hanya karena dia cacat kita harus menolaknya, entah dia cacat atau apapun dia tetap manusia bukan?" Jawab Vaya

"Hm... Terserahlah..." Ucap seluruh penghuni kelas

Tak beberapa lama kemudian bel masuk sekolah berbunyi...

"BERI SALAM!" Teriak sang ketua kelas

"SELAMAT PAGI PAK!!!!!" Seluruh murid berteriak lebih keras daripada ketua kelas

"Ya.. Ya.. Ya... Bapak tahu kalu saya sudah tua dan akan pensiun tapi kuping saya masih berfungsi dengan baik. Tidak perlu berteriak!!!" Amukan kecil dari Pak Robert. Wali kelas 1-A

"Pfft....." Tawa kecil penghuni kelas

........

Setelah selesai menyapa muridnya, Pak Robert melambai-lambaikan tangannya mengisyaratkan seseorang untuk masuk ke kelas

"Masuklah..." Ucap pak Robert

Para penghuni kelas mencoba mengintip ke arah pintu kelas, penasaran bagaimana wujud anak tersebut

Pria itu masuk ke kelas...

Rambut sedikit berantakan, sedikit tampan, berjalan sedikit membungkuk, namun pandangannya hanya melihat ke lantai tempat dia berjalan

Setelah masuk, Pak Robert langsung merangkulnya...

"Anak-anak inilah kawan baru kalian... Nah perkenalkan dirimu..." Suruh Pak Robert sambil menepuj pundak anak baru

"Ha.. Ha.. I perkenalkan aku Atreus" Memperkenalkan diri dengan nada ucapan seperti robot

"Seperti yang kalian lihat, dia bukannya gagap, robot, atau apapun sejenisnya. Dia adalah teman baru kalian. Namun teman baru kalian ini menderita down syndrom, tidak perlu bapak jelaskan kalian sudah tahu...
Mungkin kalian berpikir anak ini merepotkan, butuh perhatian khusus, menjengkelkan. Namun dia disini sama seperti kalian yaitu untuk belajar........... "

"Tapi pak!? Bagaimana bisa anak seperti itu sekolah disini?!! " Rose memotong pembicaraan

"Ssttt.... Bapak belum selesai berbicara, dia bisa sekolah disini karena dokter telah menyatakan bahwa ia sudah hampir sembuh....."

"Tapi pak!? Kenapa dia masih seperti robot?!" Rose memotong lagi

Kumis Pak Robert bergerak-gerak seakan menahan marah

"Itu merupakan tugas kalian sebagai teman sekaligus keluarganya untuk membantunya beradaptasi dan sembuh..."

Ditengah perdebatan itu. Atreus tidak memperdulikannya, ia hanya menatap ke arah jendela

"Hhmm... Atreus kau baik-baik saja?" Pak Robert melambai-lambaikan tangannya di depan mata Atreus

Sekejap Atreus terkejut

"Aa. Aa. Aahh Maafkan sa sa ya pak"

"Kenapa kamu menatap jendela?" Tanya Pak Robert

"Cuacanya cerah..."

.......................





SignalDonde viven las historias. Descúbrelo ahora