KOPI DAN HUJAN

209 27 5
                                        

A Short Story | @komjongeen & @jenddeuggi

Kim Jongin

Pagi ini hujan turun dengan deras, membuat orang berbondong-bondong mencari tempat berteduh. Termasuk aku, yang mencari perlindungan di Klinik Kopi yang kebetulan tak jauh dari tempatku biasa menghabiskan waktu bersama teman sekelas untuk melakoni hobiku memainkan bola besar berwarna oranye. Aku masuk dan memilih tempat duduk dipojok dekat jendala agar aku bisa merasakan dinginnya suasana hujan yang tercipta.

Tak lama setelah aku duduk, ada sepasang kekasih yang masuk kedalam kedai sambil melontarkan umpatan kasar. Entah karna apa, samar-samar kudengar lagi merutuk karna hujan turun saat mereka berkencan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengarnya. Seorang pelayan wanita mengalihkan pandangan ku dari dua sejoli itu. Ia menawarkan pilihan kopi untuk menemani soreku yang sendu ini. Aku memilih - milih cukup lama hingga pilihanku jatuh pada kopi yang disarankan oleh pelayan.

Kau tahu? sejujurnya aku tak suka kopi, tidak ada alasan khusus hanya tidak suka saja. Lalu, aku mengambil ponsel dari sakuku, dan membuka aplikasi chat. Kuketikkan pesan untuk sahabatku Jennie Kim, memberitahu untuk membatalkan janji kami untuk jalan ke mall karena hujan.

[LINE]

Jen

Gue lagi di Klinik Kopi dekat taman tempat kita janjian

Lo masih dirumah?

Batal ngemall deh tapi

Susul gue sini kalo udah reda nanti

[send you a picture]

Tak berselang lama suara notif berbunyi, kubaca pesan darinya dan tersenyum puas. Setidaknya dia menyetujui perubahan rencana ini, jadi aku tak absen untuk melihat wajah manisnya. Hujan sudah reda, kulirik jam tanganku. "Sudah 15 menit," gumamku pelan. Suara gemerincing bel tanda ada pelanggan datang, aku langsung menoleh dan melihat ada sahabat kecilku, dia sedang mengayun-ngayunkan tangannya sambil tersenyum ceria. "Kekanakan," ucapku dalam hati sambil terkekeh pelan. Tubuhnya pendek dan wajahnya manis, dia duduk didepanku setelah memesan kopi pada pelayan.

"Kai, lama ya nunggu gue? seharusnya gue udah bisa nyampe dari 5 menit yang lalu tapi karena gue salah pake lipstick jadinya ngaret deh," ucapnya mulai bersuara. "Salah pake lipstick?" tanyaku heran. "Iya, lipstick yang pertama ga cocok warnanya sama sepatu yang mau gue pake ini," cengrinya. Aku hanya meggelengkan kepalaku "Ribet lu, dasar cewek!" Dia memanyunkan bibirnya dengan tambahan muka yang dibuat seunyu mungkin. Aku menghela nafas. Lemah.

"Apa manyun-manyun? mau gue cium lo?"

"Ish apaan sih lo, gue bukan cewe lo!"

"Jadi cewe gue makanya."

"Berhenti godain gue, dasar item!"

Kim Jennie

"Hujan bulan juni bukan lagi hanya untaian bait.

Hujan bulan juni bukan hanya kiasan pahit.

Hujan bulan juni datang dan pergi tanpa pamit."

Pagi ini langit begitu mendung. Jennie, gadis berusia 16 tahun, masih terbaring di atas sofa di ruang tamu apartemennya. Setelah menghabiskan minggu malam dengan maraton serial favorit, ia tanpa sengaja tertidur di sana. Tinggal di apartemen seorang diri membuat waktu tidurnya tidak beraturan, ditambah libur musim panas yang panjang membuat jadwalnya semakin berantakan.

Hari-hari yang ia lalui selama jauh dari keluarga tidaklah mudah. Ada masa dimana Ia merasa hidupnya begitu berat. Sangat berat. Tapi tidak seberat beban yang Ia tanggung di perutnya saat ini. Iya, di perut. Jennie membuka matanya perlahan merasakan seonggok bola bulu berdiri di atas perutnya. "Hai, Kai. Udah bangun?" Anjing yang diberi nama sesuai panggilan teman kecilnya itu mulai menjilati pipi Jennie. "Iya, ini mau bangun. Masih pagi juga, mau ngapain sih?"

[ A SHORT STORY ] KOPI DAN HUJANDes histoires addictives. Découvrez maintenant