Ya Ampun Kinderjoy!

23.1K 537 20
                                        


"Heh, itu lu ngapain malah balik badan sih? Gue belum selesai ngomong." Tama refleks menarik kerah anak buahnya itu agar berbalik menghadapnya lagi.

"Lah, kirain tadi udah kelar Mbak." Jawab Riana dengan suara cempreng khasnya. Tanpa rasa bersalah, dengan sorot matanya yang membulat, Riana menghadap kearah Tama dengan santai.

Riana sudah setahun lebih bekerja di bawah kepemimpinan Tama di divisi penjualan. Sedikit banyak Riana tahu bagaimana watak Tama yang meski marah besar, ia tak akan sampai berbuat kasar.

"Siapa bilang? Belum kelar!" Teriak Tama kesal dan melotot kearah Riana untuk memintanya duduk kembali.

"Iya Mbak, maap. Takut ih."

Sikap Riana yang tengil terkadang membuat emosi Tama goyah, namun bukan gayanya jika dia langsung akan tertawa begitu saja.

"Lu pikir gue setan? Ini kerjain dulu baru lu keluar. Dasar Kinderjoy." Tama menyerahkan tumpukan form laporan harian yang masih kosong pada Riana lalu meminta gadis tengil itu mengerjakannya.

"Ya ampun Mbak, ini segini banyak di kerjain semua?"

"Iya, kelarin besok."

"Ya ampun Mbak, ini mah nggak kuat. Nggak sanggup aku tu."

"Gue tambahin mau?"

"Jangan Mbak, kek pelajaran matematika aja."

"Yaudah kerjain."

"Sekarang?"

"Gue masih ada dua bendel lagi kalo lu mau."

"Enggak Mbak, ampun. Ampun." Riana menangkupkan dua tangannya seperti memohon lalu berjalan mundur ke belakang. Berbalik membuka pintu lalu berlari pergi.

Tama mengulas senyum tepat setelah pintu ditutup. Riana adalah salah satu alasan mengapa ia masih bertahan hingga sekarang.

Tama, dua puluh empat tahun. Supervisor di sebuah perusahaan makanan dan minuman, single (?), manis, tegas, namun berhati rapuh. Tak mudah di tebak.

Telponnya berbunyi saat ia akan mulai mengerjakan dua bendel laporan bulanan penjualan yang seharusnya dikerjakan oleh Riana semuanya.

"Halo?"

"Halo, bisa bicara dengan Tama?"

"Iya saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya Ibu Thomas, kira-kira saya bisa dapat laporan penjualan setengah tahunan kapan yah?"

"Oh itu, besok siang saya usahakan Bu Thomas." Jawab Tama setengah heran mengapa Bu Thomas, owner perusahaan ini berbicara langsung padanya. Bukankah ada Direktur dan Manager yang biasanya menjadi penghubung antara manajemen dengan karyawan recehan seperti dirinya?

"Ok, saya tunggu setelah jam makan siang besok ya Tama."

"Iya Buk."

Tama melirik laporannya yang bisa seharian menghabiskan waktunya jika harus di kerjakan dalam satu waktu. Namun harus bagaimana lagi? Riana memiliki banyak pekerjaan juga di lapangan, jadi untuk sementara Tama yang harus melakukannya. Meski Tama selalu memarahi Riana, bukan berarti Tama membenci. Bagi Tama, Riana adalah anak baik yang salah gaul. Tapi, justru karena salah gaulnya itulah yang membuat Riana lebih menarik dari anak lainnya.

"Mbaaaaakk!" Tiba-tiba saja Riana sudah ada di depan wajah Tama lagi. Menyunggingkan senyum miring khasnya dan menyerahkan dokumen yang tadi Tama minta ambilkan.

"Bisa ketok pintu dulu nggak sih Ri?"

"Maaf Mbak, aku tuh buru-buru. Ini baru ada barang masuk lagi, aku harus ngecekkin satu-satu."

"Oh, barangnya udah datang dari kantor pusat?"

"Sudah Mbak. Mbak mau ikut ngecek?"

Tama menggeleng. "Bu Thomas minta laporan yang dua ini di kelarin maksimal besok siang. Gue mau ngerjain ini dulu."

Dan Tama melihat raut wajah Riana yang girang mendadak menjadi murung.

"Muka lu kenapa?"

"Maaf ya Mbak, gara-gara aku lambat, jadi Mbak yang nambah-nambah kerjaannya."

"Oh itu, ya kalo gitu lu belajar manajemen waktu lebih baik lagi dong. Biar kerjaan lu nggak gue mulu yang back up. Biar lu naek level. Biar lu kedepannya makin baik lagi."

"Iya Mbak, aku juga tahu. Tapi aku nggak bisa."

Tama menautkan alis. Jawaban macam apa ini? Masih dua puluh tahun dan sudah pesimis? Mau jadi apa negara ini?

"Duduk."

"Tapi Mbak, aku ada kerjaan. Nanti aku naek lagi aja yah kalo kerjaanku di bawah sudah selesai?" Mohon Riana yang memang kini sedang di ruangan Tama, di lantai dua.

Tama mengangkat telpon dan seperti menelpon seseorang. "Riana lagi sama gue bentar ya, sepuluh menit aja. Kerjaan di bawah pending sebentar."

Tama kembali menutup telponnya dan beralih kembali ke Riana.

"Lu kenapa tadi bilang nggak bisa?"

"Ya gimana ya Mbak, aku udah setahun tapi kayak nggak ada perkembangan yang signifikan. Kerjaanku gini-gini aja, kadang aku ngerasa nggak ngaruh kerja di perusahaan ini."

"Lah, kenapa punya pikiran kayak gitu? Kalo lu nggak penting, ngapain gue ngasih kerjaan ke lu? Ngapain perusahaan bayar elu? Jangan mikir kayak gitu hanya karena posisi lu disini belum tinggi. Kita sama-sama kerja dengan tujuan yang sama."

"Tapi Mbak Tama itu pinter, apa-apa bisa di kerjain. Lah aku? Aku di angkat jadi karyawan aja karena Mbak rela debat sama Manager. Padahal aku tahu Mbak itu nggak suka debat orangnya. Tapi, setelah aku di terima, aku kerjanya gini-gini aja."

"Jadi, kayak gitu penilaian lu sama diri lu sendiri?"

Riana yang tadinya menunduk, kini mendongak memandang takut-takut wajah Tama. Tak ada aura kemarahan disana, yah Tama memang selalu terlihat tegas dan siaga. Tapi bukan marah, apalagi mengeluarkan aura permusuhan.

Tak tega dengan raut wajah Riana yang memucat, Tama menghembuskan nafasnya keras sebelum memulai pembicaraan kembali. Kali ini lebih lembut.

"Ri, gue selalu percaya setiap orang itu baik. Punya potensi. Dan punya kelebihan yang berbeda-beda. Dan lu tahu nggak kenapa gue ngotot lu di angkat jadi karyawan tetap disini?"

"Enggak Mbak, mungkin memang karena Mbak kasihan kalo aku nggak diangkat sendirian sedangkan yang lain diangkat. Mungkin, memang Mbak memang orang baik."

Tama terkekeh. Bahunya naik turun mendengar jawaban menggelikan Riana. Riana terkadang tak tahu bagaimana menjadikan sesuatu terasa lebih berharga. Termasuk dirinya sendiri.

"Kok malah ketawa sih Mbak? Aku lagi serius nih." Celetuk Riana yang melihat Tama tertawa tak berhenti.

"Lah lu pikir gue Ibu Peri? Gue ngotot ngangkat lu karena gue lihat lu bisa. Cuman kurang motivasi aja. Asal lu tahu, gue salut sama cara lu menghadapi anak-anak di bawah. Iya, anak-anak yang kerjanya kebanyakan pakai otot daripada otak. Bukan gue ngerendahin mereka karena mereka di bawah gue, tapi gue nggak srek aja sama mereka. Dan lu, bisa handle supaya gue nggak sering-sering ketemu mereka. Ibarat kata, gue udah cocok sama kepribadian lu yang receh."

"Ya ampun Mbak, di awal-awal udah di terbangin akunya, eh di kalimat akhir langsung di banting. Emang aku receh banget yah?"

"Iya. Tapi orang-orang pantang menyerah dan nggak gampang sakit hati kayak elu lah yang cocok buat tuh anak-anak keras kepala di bawah. Dan gue nggak mau siapapun gantiin elu."

"Beneran Mbak?" Tanya Riana bersemangat, senyum sunringahnya melegakan di hati Tama.

Tama mengangguk.

"Yaudah deh, kalo Mbak aja percaya sama aku, aku akan lebih percaya diri lagi."

"Nah gitu dong. Kalo gitu, ngapain lu masih disini?"

"Lah Mbak?"

"Turun sana ah, bosen gue lihat lu!"

Dan dengan wajah pasrah, Riana pun undur diri meninggalkan Tama yang tersenyum tipis.

Tbc

Sugar Mommy (Selesai) Stories to obsess over. Discover now