Satunggal

77 18 19
                                        

Sebuah mobil hitam melesat di tengah jalan yang tidak begitu lebar di sebuah desa kecil kabupaten Semarang.

Hamparan sawah hijau yang begitu luas di sisi kanan dan kiri jalan. Tak lupa, orang-orangan sawah yang bergerak ke sana ke mari mengikuti hembusan angin di petang ini.

Semua buruh sawah yang mulai menyibukkan diri untuk bersiap-siap pulang ke rumah menemui keluarga tercinta.

Tara sungguh merindukkan keadaan yang membuat hatinya terasa tentram. Tidak ada lagi jalan yang macet, tidak ada lagi kebisingan kendaraan. Semua itu ia dapatkan di desa kelahiran ayahnya ini.

"Pak, mama sama papa udah tau kalo aku mau ke rumah?"

Pak Kasman, yang menjabat sebagai supir di keluarga Tara. Melihat ke arah spion yang terletak di tengah atap mobil. Lalu beralih mengganti gigi mobil.

"Tenang, Non. Saya sama Bik Siti udah diem kok. Gak bakalan embher.." ujar Pak Kasman yang diselingi kekehan Tara karena logatnya yang terlalu medhog.

"Iya deh pak saya percaya, hehehe.." ujar Tara.

Lalu ia beralih menatap luar jendela. Matahari yang hampir ditelan oleh dua gunung. Pemandangan ini, jarang ia temukan di daerah perkotaan.

Namun pemandangan matahari yang akan tenggelam itu, digantikan dengan pemandangan rumah-rumah yang berjejeran. Namun tidak terlalu dekat, seperti yang ia sering lihat di kota.

Seiring dengan kecepatan mobil yang semakin memelan, jalan yang tak seberapa lebarnya ini, dipenuhi oleh penduduk yang tengah asik jalan-jalan di sore hari.

Tak lama kemudian, mobil hitam yang Tara tumpangi, masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun cukup dibilang mewah.

"Udah sampe, Non." Ujar Pak Kasman.

Tara mengangguk, lalu beralih membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil. Ia merenggakan tubuhnya yang sedikit pegal karena sempat macet saat keluar dari kawasan bandara.

Ayah Tara yang sedari tadi sibuk membaca koran beralih menatap siapa yang turun dari mobil hitam milik istrinya.

"Eh, ini Tara, kan? Lah mau kamu pindah sini?" Ayah Tara menurunkan kacanya lalu memperhatikan Tara dari atas hingga bawah.

"Iiiyaaaa, Paa.. masa iya aku Pak Kasman.." Tara tersenyum lalu menghamburkan pelukan ke ayahnya.

"Eh ini kena-LAH! Tara kamu ngapain di sini?" Tara yang sadar dengan kehadiran ibu kandungnya, lalu melepas pelukan ayahnya beralih memeluk ibunya erat.

"Kangenn.. aku tinggal di sini ya, Ma.." Tara beralih menatap mata mamanya.

"Pas banget. Besok kamu langsung masuk sekolah." Tara langsung melepas pelukannya. Menatap mamanya tidak percaya.

"Idih, kok cepet banget sih, Ma." Tara memanyunkan bibirnya dan pura-pura memasang ekspresi sedih.

"Lusa aja ya, Ma.. Aku juga baru nyam-"

"Elah. Bilang ae lu mau nongki-nongki dulu. Gaada starbak di sini." Tara langsung menoleh ke sumber suara yang sempat memutuskan obrolannya dengan ibunya.

"Eh! Lu ngapain di sini, Bang." Ujar Tara kesel.

Sebenarnya Tara kangen dengan saudaranya yang satu ini. Orangnya tuh diam-diam menghanyutkan.

"Mau ikut jalan-jalan ga?" Bang Suga sudah mengeluarkan sepedanya dari dalam garasi.

"Eh, mau dong.." Tara langsung lari kocar-kacir ndeketin Bang Suga.

"Eh! Mandi sama solat magrib dulu sana!" Bang Suga mendorong dahi Tara menggunakan jari telunjuknya sehingga, Tara mau gak mau ikutan mundur ke belakang.

"Tunggu ye!"

💦💦

"Eh, ngapain dah tuh orang jongkok di sungai." Sedari tadi, Tara mengoceh ngalur kidul tentang desa yang ia tempati sekarang ini.

"Ntar lu terbiasa sama orang di sini." Tara memanyunkan bibirnya lalu mengeratkan pelukannya di pinggang Bang Suga.

Semakin malam, angin yang berhembus pun semakin kencang. Padahal, Tara tidak menggunakan jaket, begitupun Bang Suga.

"Dek, mau tempura gak?"

Lah tumben manggil adek, biasa jugak manggil nyed.-Tara

"Hah? Apaan tuh tempura?" Suga berdecak kesal lalu membanting stir ke sebuah warung di depan Masjid yang cukup besar di desanya ini.

Bang Suga langsung turun, padahal masih ada Tara yang duduk di bangku belakang. Mau gak mau, Tara menahan sepedenya supaya tetap berdiri.

"Eh, buatin tempura goceng ae!" Sesosok laki-laki yang sedang main ML jadi beralih menatap Suga.

"Lah mas, nopo bengi-bengi malah neng kenei." (Kenapa malam-malam malah di sini?) Suga mendecak lalu menatap datar pemilik warung tersebut.

Pemilik warung tersebut, yang diberi nama Kuntanto oleh kedua orang tuanya, dengam segera menggoreng pesanan Bang Suga.

Tak lama, Kun menyajikan tempuranya lalu diberikan ke Bang Suga.

"Thanks." Bang Suga langsung ngacir ke sepedanya.

Karena Kun memiliki kekepoan yang cukup tinggi, dia mendekati sepedanya Bang Suga.

"Lah mas, niki sopo?" (Ini siapa?) Kun menunjuk sosok gadis yang sedang menatap balik dirinya.

"Oh adek gue." Bang Suga sudah siap mengayuh sepeda, tapi ditahan oleh Kun.

"Lah, kok aku gek wae nde-EH MAS! Lah malah wes dalan. Wasem tenan!"(aku baru ngeli-EH MAS! Lah malah udah jalan. Asem banget!)

💦💦

Bang Suga fokus terus mengayuh sepedanya. Sekali-kali ia iseng goyang-goyangin sepdenya, sehingga membuat Tara hampir nangis karena ulahnya.

"Bang, tadi tuh siapa?" Suga menoleh ke belakang lalu beralih menoleh ke depan lagi.

"Oo.. anaknya Pak Yanto." Tara mutar bola matanya malas. Lalu mencubit pelan lengan sebelah kiri Bang Suga, sehingga membuat empunya mengadu sakit.

"Lah ditanya yang bener, malah ngasal!" Bang Suga terkekeh lalu membelokkan stir sepedanya ke kanan, sehingga mereka saat ini memasuki pekarangan rumah mereka.

"Kun." Tara mengangguk lalu secepat mungkin turun dari sepeda karena Bang Suga ingin mengembalikan ke garasi.

Kok kayak pernah kenal ya?-Tara

💤💤

Hai gaes..

Makasih yang udah mau vomment.. 10Q bangett..

Gatau kok aku bikil cerita ngalur ngidul gini yaa..

Sekalian blajar bahasa daerah yaa

Maaf kalo salah, soalnya aku bukan asli orang jawa./gaada jugak yg nanya:3

Tolong dukungannya yaa💕

Èl Mismo-TaeyongStories to obsess over. Discover now