Matahari belum juga naik tetapi anak laki-laki bernama Theodore Naval ini sudah terbangun dengan nafas tersengal-sengal dan peluh sudah membasahi seluruh tubuh nya padahal musim panas baru saja lewat beberapa bulan yang lalu di Vennesla ibu kota Vest-Agder di Norwegia, tangan nya mencengkram pinggir tempat tidur dengan kencang hingga buku-buku jari tangan nya memutih.
Theo mendudukan dirinya lalu bersandar pada kepala tempat tidur, entah sudah hari keberapa ia selalu terbangun dengan keadaan seperti ini. Jantungnya sudah berdegup berirama, nafasnya juga sudah lebih baik dari beberapa menit yang lalu tapi pikiran nya belum berubah.
Mimpi itu, mimpi yang sama dengan mimpi dimalam yang sebelum sebelumnya hanya kali ini ia melihat didepan mata kepalanya sendiri, seorang laki-laki paruh baya bersayap yang tak pernah ia lihat di dunia nyata sedang menahan kesakitan kerena pedang perak panjang yang menembus tepat di jantungnya. Disekitar laki-laki itu bangunan pun sudah sebagian hancur, banyak orang-orang tak bernyawa bergeletakan diantaranya, hingga ia memutar balikan badan menatap laki-laki dengan seringai paling menyeramkan yang pernah ia lihat yang sedang mencoba menusuknya pedang perak yang sama, lalu ia selalu terbangun dengan rasa takut dan sakit dari mimpi sebelum kejadian itu terjadi.
Theo melirik jam yang ada di nakas nya, sekarang sudah menunjukan setengah lima pagi. Masih terlalu pagi untuk bersiap kesekolah tetapi untuk tidur lagi pun tak mungkin, ia menghela nafas kasar lalu menyibakan selimut dan turun dari tempat tidur nya menuju kamar mandi.
"Setidaknya aku punya waktu untuk menyiapkan sarapan untuk ibu" pikirnya.
•••
Theo masih berkutat dengan roti panggang yang ia buat, menyiapkan selai dan susu untuk sang ibu yang pasti belum bangun. Theo bukan anak laki-laki manja yang di setiap hidupnya selalu bergantung dengan orang lain, sejak kecil Theo sudah terbiasa sendiri ibu nya adalah wanita singleparent dan Ayahnya meninggal ketika ditugaskan ke Afghanistan 2 bulan sebelum ia lahir, itu yang dikatakan ibunya. Tidak mudah memang hidup berdua dengan ibu nya yang seorang jurnalis selalu banting tulang membiayai keseluruhan hidup mereka berdua ya walau sekarang Theo sudah ikut berkerja paruh waktu di Café. Dulu ketika ia bertanya mengapa ibunya tak menikah lagi, wanita cantik berambut coklat panjang bergelombang yang memiliki mata coklat terang persis dirinya itu selalu mengatakan
"Ayahnya mu itu masih terlalu sulit untuk di gantikan, lagi pula ibu tak pernah menemukan lagi laki-laki setampan ayah mu!"
Padahal jika di pikir ibunya masih terlihat muda di umur nya yang sudah kepala tiga, masih terlalu muda untuk dibilang ibu-ibu.
Brak!
Suara pintu yang di tutup kencang itu mengintrupsi lamunan Theo, jika saja ia tak memegang gelas susu nya dengan benar kemungkinan Theo hanya akan meminum air mineral saja untuk sarapan pagi ini
"Oh astaga Theo! apa ibu kesiangan lagi?" Ucap ibunya dengan suara khas perempuan itu bangun tidur dan rambutnya yang sedikit acak-acakan, Theo yang melihat hanya terkekeh kecil.
"Tidak Bu, ini masih jam 7 pagi" jawabnya yang sudah duduk di meja makan dan masih menatap ibunya yang bingung. "Sudah Bu jangan dipikirkan, duduk lah aku sudah menyiapkan sarapan"
Tak lama ibunya duduk didepan anak satu satunya bingung
"Kau kenapa bangun pagi? Ah tidak tidak maksud ibu kenapa akhir-akhir ini kau selalu bangun lebih pagi dari ibu?" Tanya ibunya yang mengaduk teh yang sudah disiapkan anaknya itu. Yang tanya pun tetap asik dengan sarapan nya.
"Tak apa, hanya ingin saja" jawab nya sambil menggigit roti panggang selai strawberry nya itu.
•••••
KAMU SEDANG MEMBACA
Infernum : WINGS
FantasiHidup seorang Theodore Naval semula hanya sebagai pelajar sekolah menengah biasa yang menjalani hidup sebagaimana mestinya--bersekolah, bermain, belajar, makan dan tidur. Tak ada yang istimewa dalam hidup yang ia jalani bersama Ibu dan ke tiga sahab...
