Hujan itu Aneh

12 1 0
                                        


Sekarang mendung.

Hujan Qiantra Aknata memandang langit dengan serius lalu menebak apakah nanti hujan akan turun atau tidak, kemudian ia tersenyum tipis, lalu ia memberi putusan untuk tebakannya kali ini bahwa hujan tidak akan turun. Sebenarnya Hujan tidak sepeduli itu pada hasil tebakannya, Hujan hanya akan senang bila tebakannya benar.

Tunggu, kalian berpikiran Hujan itu aneh? Atau hanya nama Hujan yang aneh? Sebab biasanya nama seseorang itu Rain atau Rinai tapi berhubung Mama Hujan adalah guru Bahasa Indonesia, ia mau anaknya bernama Hujan. Jangan menganggap Hujan aneh bila ia tahu hal itu Hujan malah semakin senang mendengarnya, ia Hujan memang seabsurd itu dan Hujan bahagia dengan dirinya sendiri.

"Ngapain sih mandang langit segitunya? Padahal gak ada yang menarik," ucap Lamera Gistyanca yang memandang Hujan dengan pandangan bosan.

"Kau tak tahu ya? Tadi aku melihat wajah oppa jungkook-mu di langit." Hujan megucap hal ngawur.

Lamera yang mendengar hal itu malah terlihat senang namun ucapannya berkebalikan dengan wajah cerianya , "Lucu banget loh, Ujang," katanya dengan nada sarkastik.

Hujan mendengus, "Sudah kubilang, jangan panggil aku Ujang, please."

 Lameraterkekeh mendengar ucapan Hujan, mereka berdua kini duduk di pinggir lapangan basket yang kosong walaupun saat ini jam pelajaran olahraga, anak cowok kelas mereka lebih memilih bermain sepak bola disbanding basket, baguslah, sebab lebih baik menonton mereka yang bertanding sepak bola disbanding menonton pertandingan basket yang taka da bagus-bagusnya sekalipun dimainkan oleh pemain inti basket, jangan kecewa begitu karena tak menemukan cowok ganteng yang jago basket sebab memang begitu fakta yang ada di sekolah ini, cogan masih ada walau populasinya Cuma menipis kalau ibarat oksigen miungkin kita akan sekarat.

"Main voli yok Hujan," ajak Lamera.

Hujan menggeleng, "Gak ah aku mager."

"Aduh sesekali main sama orang ni gak pa-pa kok, lagian jangan mager-mager lah, emang kau mau ngapain di sini? Mandangin langit yang mendung? Kayak hatimu?"

Astaga, kenapa Lamera berpikiran seperti itu? Hati Hujan tidak akan semendung langit sore kali ini walaupun baru diputuskan Aldan Wrunfa, sebab tidak ada gunanya. Kenapa malah temannya yang tampak frustrasi?

Hujan menghela napas, "Merah, aku tuh gak sedih, aku cuma butuh suasana sepi sambil memandangi orang-orang kayak gini."

Mata Lamera menyipit memandangi Hujan tampak menyelidik, "gak mungkin cewek yang baru diputusin malah gak sedih, gak usah bohong deh Hujan."

Rasanya Hujan ingin menyentakkan kepala Lamera ke dinding,eh, tapi itu terlalu sadis gak sih? Padahal Hujan memang baik-baik saja walau sedikit merasa sedih, yah, Cuma sedikit.

"Lagian kalau aku diputusin aku harus nangis darah terus guling-guling di lumpur gitu?" tanya Hujan

Lamera tertawa singkat mendengar pernyataan Hujan kini ia yakin Hujan baik-baik saja, Lamera hampir lupa bahwa Hujan memang seaneh itu. Lamera kemudian memandangi kumpulan anak cewek yang merupakan teman sekelasnya, mereka yang tadinya bermain voli kini membubarkan diri, sebagian menuju kantin dan sebagian lagi ke kelas, niat Lamera yang ingin bermain voli pun tak terwujud dan ia kembali duduk di pinggir lapangan basket sambil bersandar di tiang ring basket

"Ah, si Gita kok lama banget di kantin nya?" tanya Lamera

Hujan mengangguk-angukkan kepalanya, tidak lama kemudian muncul Gita Yireka yang membawa pesanan Hujan dan Lamera, kalian jangan berpikiran bahwa Hujan menindas gita, bukan begitu sebab mereka bertiga selalu pergi ke kantin sendirian secara bergilir membawa pesanan setiap hari, tidak ada yang protes sebab itu kesepakatan bersama. Coba tebak siapa yang memberi usul? Ya kamu salah jika tebakanmu Lamera dan benar jika Hujan. Alasan Hujan memberi usul itu untuk mematahkan stigma bahwa cewek harus selau barengan seiap pergi kemana pun walau awalnya kedua temannya itu dipaksa oleh Hujan.

"Untung aja Pekanbaru gak sepanas biasanya kalau enggak kulitku tambah hitam karena nungguin kau," kata Lamera.

Hujan pun berkata, "Merah kau memang sudah hitam."

Gita yang baru muncul menambahkan, "Paling hitam di antara kita bertiga lagi."

Wajah Lamera cemberut mendengar pengakuan ketiga temannya entah kenapa mereka semua lebih sering mengatakan fakta-fakta menyakitkan dibanding saling memuji.

Gita menyerahkan kantiung plastic berisi makanan pada Lamera "Ni punya kau."

"Makasih Jelek," kata Lamera.

Gita memutar bola mata mendengar hal itulalu memberi kantung plastic yang satunya lagi pada Hujan, Hujan menerimanya dengan senang hati lalu membuka kantung plastik dan menemukan oreo, "Aku gak mesan oreo."

Gita menggerak-gerakkan kepalnya, "Tadi Aldan yang ngasih katanya kau suka oreo."

Hujan mendadak tersenyum tipis karena mengingat Aldan yang semasa berpacaran dulu suka memberi oreo padanya, "Wah oreo, gratis lagi," terdengar tawa kecil.

Tatapan Lamera mendadak tidak suka, "Jangan sampai gagal move-on Cuma kaena mantan ngasih oreo gratis."

"Tenang aja, aku gak bakal gagal move-on do." Hujan berucap sambil mengunyah oreo.

Gita menumpukan dagu di atas lututnya sambil memandang Hujan, "Aldan juga nanyain kau."

"Dasar."

Mendengar hal itu Hujan kembali menatap langit yang terlihat cerah, tidak lagi mendung, tebakannya benar bahwa hujan tidak akan turun, ah, benar-benar hari yang sempurna apalagi ada oreo gratis dari Aldan, Hujan harus berterimakasih nanti.

Gita menatap Hujan yang kini mengunyah oreo lagi, Hujan benar-benar bahagia sepertinya, tapi Gita harus memberi tahu hal ini, "Aldan lagi ngelihatin kau, sekarang."

Hujan mengedarkan pandangannya lalu menemukan Aldan yang berdiri dibawah pohon rindang, Aldan tengah mengamatinya dengan sorot mata yang tidak bisa didefinisikan oleh Hujan, tapi yah, Hujan tidak peduli.

"Serem gak sih? Kayak Stalker yang di lookismo itu," ucap Gita.

Hujan menaikkan alis sebelah kirinya, "Lookismo? Kayaknya gak ada cerita tentang stalker deh."

"Ada. Kau yang belum baca mungkin," kata Gita.

"Iya, mungkin." Hujan mengangguk.

Hujan kemudian melihat ke pohon rindang Aldan masih berdiri di situ, Hujan ingin mengucapkan terimakasih secara langsung pada Aldan yang memberi oreo walaupun Aldan sudah selingkuh darinya Hujan tertap merasa harus mengucapkan terimakasih sebab membeli oreo itu kan pakai uang.

Hujan melambaikan tangannya sambil menatap Aldan, "Aldan sini deh," teriaknya dengan agak keras sebab jarak mereka memang jauh.

Aldan yang di seberang sana memandang Hujan dengan tatapan tidak mengerti, Aldan memang tak mendengar begitu jelas apa yang dikatakan oleh mantan pacarnya itu tapi Aldan tahu bahwa Hujan menginginkan dirinya di sana, Aldan menyeringai tipis, ia membatin, Pakai oreo aja udah luluh? Aldan kemudian menghampiri Hujan yang menyambutnya dengan wajah ceria.

"Makasih ya oreo nya."

Aldan mengangguk, "Iya, sama-sama."

Beberapa saat waktu berlalu  dan hanya ada keheningan, sebelum Hujan pun memecahkan keheningan itu, "Ya udah aku cuma mau bilang makasih ngapain kau di sini?" tanyanya dengan santai tidak dengan nada tajam nan menusuk seperti Lamera.

Aldan yang mendengar itu sontak begitu kaget dan kemudian mundur dan berbalik arah meninggalkan Hujan yang tersenyum bahagia.

Apa sekarang kamu setuju kalau Hujan itu aneh?

Iya  kamu setuju, tapi jangan beritahu Hujan nanti ia bahagia walau baru putus dari kekasihnya, kan nanti malah terlihat lebih aneh lagi.   

{}

A.N.

Kalau di Pekanbaru emang gitu, suka nambahin kalimat pakai kata-kata do, lah, ni, orang ni {teman-teman yang lain atau teman sekelas}


Salam kobaran api, Agni.

24 Juni 2018


Hai finito le parti pubblicate.

⏰ Ultimo aggiornamento: Jun 24, 2018 ⏰

Aggiungi questa storia alla tua Biblioteca per ricevere una notifica quando verrà pubblicata la prossima parte!

HujanDove le storie prendono vita. Scoprilo ora