Alternate universe
Dazai berlari menyusuri lorong rumah sakit. Bau antiseptik beberapa kali menyapa indera penciumannya. Saat kakinya berdiri didepan pintu putih yang dia kenal. Barulah dirinya merasa aman.
Sekarang bukan waktu kunjung, jadi rumah sakit sepi. Diam - diam, Dazai beringsut ke kamar Odasaku. Namun, ketika dia meletakkan tangannya di daun pintu, seseorang memanggilnya. Dokter Yosano sedang berjalan cepat kearahnya.
"Dokter" kata Dazai, sedikit malu karena tertangkap bolos di jam kerjanya.
"Hari ini aku..."
Tanpa repot - repot mendengar penjelasan Dazai yang isinya hanyalah kebohongan. Dokter Yosano memberi isyarat kepada Dazai untuk duduk di lorong.
Duduk disalah satu kursi keras berwarna putih di koridor. Wanita itu memandang Dazai lekat-lekat.
"Bagaimana perasaanmu ?"
"Kacau" jawab dazai jujur. "Tapi baik-baik saja" sambungnya lagi.
" Dengar. Kau tahu selama dua tahun ini odasaku-san telah berjuang melawan nyeri di sumsum tulang belakangnya, kan? Sebenarnya cideranya waktu itu tidak hanya mengenai sumsum tulang belakang, tapi paru-paru dan juga hatinya mengalami kebocoran. Selama ini Odasaku-san berusaha keras merahasiakannya padamu. Hanya saja, kupikir kau berhak mengetahuinya. Aku ingin kau menunjukkan padanya bahwa kau kuat menerima kondisinya saat ini dan kemungkinan kepergiannya."
"Bukankah kalian hanya harus mencari pendonor untuknya ?"
Dazai merasa kesal dengan Dokter di depannya. Dokter ini berkata seolah dia telah menyerah menangani penyakit Odasaku.
" Mencari pendonor sumsum tulang belakang itu tidaklah mudah. Hanya keluarga yang memiliki kecocokan dengan tulang sumsumnya. Dan jika pendonor itu orang asing, maka hanya satu dari sekian juta orang. Pendonoran tulang sumsum tidak bisa dilakukan sembarangan. Jika tidak dilakukan dengan tepat hanya akan memperparah kondisinya."
Setelah mengatakan itu, Dokter Yosano berdiri, menepuk bahu Dazai, dan berjalan menjauh tanpa mengatakan apa - apa lagi.
Dazai duduk dalam diam sebentar. Merenungi kata - kata Dokter Yosano. Dia tidak tahu berapa lama dia termenung sebelum akhirnya dia berdiri dan memutar daun pintu memasuki bangsal tempat Odasaku berbaring.
Hari ini Dazai bahkan tidak berpura-pura ceria seperti biasannya. Saat daun pintu itu diputar, odasaku mengangkat wajahnya , tersenyum kearah pintu. Seolah-olah ini hari biasa, dimana Dazai datang sepulang bekerja.
Mata lelah Odasaku mengawasi Dazai yang berjalan mengambil tempat duduk didekat sisi kasur.
"kurasa kau sudah tahu" kata Odasaku pelan.
" Cideramu triple" kata Dazai. "Dan rasanya ultrasakit."
"Rasanya seperti dihajar Chuuya."
"kau sudah sangat lama tidak dihajar Chuuya. Kau pasti lupa rasanya."
"Memang. Tapi aku tidak ingin dihajar Chuuya. Bagaimana dengan kerjamu ?"
" Dalam beberapa bulan lagi mereka akan memindahkanku ke salah satu cabang di luar negeri."
"Kerja bagus Dazai."
Dazai hanya tertunduk sejenak.
"Odasaku. Kau sudah dua tahun dirawat disini. Kenapa kita tidak pernah membicarakan cideramu waktu itu. Jika saja ka-"
" Kau hanya akan menyalahkan dirimu sendiri, Dazai."
"Tidak akan" jawab dazai menatap Odasaku.
