Pergi

8 0 0
                                        

Ku tatap lagi bus ini, nomor nya sama dengan nomor yang ada di tiket ku. Bus tujuan Medan. Ini pertama kali nya aku pergi jauh dari kampung ini untuk waktu yang lama dan sendirian. Berat sekali meninggalkan daerah yang ditempati sejak kecil. Tapi tekad ku sudah bulat. Ku lirik ke arah orang tua ku, wajah bapak ku tegar sedang ibu terisak sedikit. Aku cium tangan kanan kedua orang tua ku, aku pamit. Aku menaiki bus yang akan mengantarkan aku jauh dari sini, kota yang berbeda.

Bus ini penampilan nya tidak menjanjikan, kaca depan nya yang retak, debu dimana-mana serta cat yang pudar, tampak rapuh. Bus kelas ekonomi, uang hasil tabungan ku pas untuk kelas ekonomi. Katanya aku akan 18 jam lama nya di bus ini. Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa. Ku lihat lagi orang tua ku dari dalam bus. Aku melambaikan tangan. Dalam hati berdoa Ya Rabb jagalah kedua orang tua ku di kampung, jagalah hamba juga di perantauan, semoga impian ku terwujud.Aku sendirian saja berangkat. Aku takut sebenarnya, tapi aku tidak mau menyianyiakan kesempatan ini. Dalam hati aku berkata Allah selalu bersama ku.
Bus mulai melaju, aku melambaikan tangan ke orang tua ku, sakit sekali melihat mamak ku menangis,  sebenarnya beliau beberapa kali membujuk agar aku tidak pergi ke Medan, tapi demi impian ku, demi masa depan ku, aku tetap teguh pergi ke Medan. Bus semakin melaju, stasiun bus sudah jauh kami tinggalkan. Aku menangis sejadi-jadi nya. Orang yang disampingku berbertanya, aku tetap melanjutkan tangisan ku. Hingga akhir nya aku tidur

Aku duduk di dekat jendela bus, ku pandang jalan yang dilewati bus ini. Pikiran ku jauh pergi.aku lihat masih jam 14.10 di jam tangan ku.Aku memang berangkat dari kampung malam hari agar sampai Medan siang atau sore. Masih ada tiga jam lagi. Perasaan ku campur aduk. Tapi aku mengingat niatan ku, aku ingin jadi orang sukses. Menjadi nelayan itu baik, menjadi ibu rumah tangga pun baik. Tapi aku punya impian agar ilmu ku dapat berguna bagi masyarakat di desa, aku ingin mendirikan sekolah juga agar orang dikampung ku tidak hanya menjadi nelayan yang kerja susah tapi penghasilan nya sangat sedikit. Meskipun suatu saat aku akan menjadi seorang ibu, aku ingin menjadi ibu hebat dan berpenddidikan

Masyarakat disana bekerja sebagai nelayan. Gadis seumuran ku kalau di desa itu sudah wajib menikah. Teman-teman yang seusia ku dan berkelamin wanita yang ada di kampung ku sudah menikah semua. Aku di kampung itu gadis usia 18 tahun yang belum menikah di desa itu.
"Halah, wanita saja kok muluk-muluk mau sekolah tinggi"
"Kamu sadar diri lah,kamu itu orang miskin, mau uang kuliah dari mana?"
"Sudah lah, kau menikah saja, nanti kau jadi perawan tua"
"Buat apa kuliah kalau pada akhir nya gelar mu tidak dipakai saat kau sudah menikah, kau hanya buat makanan, tidak ada yang lain"
Hampir semua orang yang ada di kampung itu berbicara seperti itu padaku. Orang tua ku pun awal mya begitu juga, tapi aku bujuk secara perlahan. Aku giat belajar sampai sampai aku meminta bantuan guru sekolah ku untuk memohon kepada orang tua ku agar dapat kuliah di Medan. Banyak orang yang bertanya kenapa gadis ini begitu semangat nya untuk bersekolah. Saat aku baru duduk di bangku SMA aku awal nya juga malas-malasan untuk belajar, karena kau berfikir untuk apa, toh nanti nya aku seperti ibu ku memasak di dapur, cuci piring, nyapu rumah.
Smartphone milik ibu guru Tuti, guru baru disekolah ku merubah pola pikir ku. Tanpa sengaja ibu Tuti memainkan Smartphone nya. Aku sangat penasaran, aku bertanya apa itu, aku saat itu tidak tau. aku menanyakan pada ibu Tuti
"buk, apa ini? Sambil menunjuk
"Oh ini Handphone"
"Handphone mamak dan bapak ku gak kayak gini buk"
"Handphone mamak dan bapak kamu gimana bentuk nya"
"Ukurannya kecil, warna layar nya kuning, ada permainan ular nya buk"
"Hem, berarti itu Handphone jenis lama"
"Handphone ibu jenis baru?"
"Kamu polos sekali, ayo kita selfie".
"Apa itu selfie buk?"
"Berfoto"
Semenjak saat itu aku merasa dekat dengan buk Tuti , beliau selalu memperhatikan akademik ku. Aku jadi semangat belajar. Suatu malam, malam yang menjadi titik terbuka mya pikiran ku adalah, ketika aku disuruh buk Tuti untuk belajar di rumh nya karena khawatir aku kesulitan saat ujian. Ibu Tuti menyuruh aku menunggu nya, di ruang tamu ada kotak hitam lumayan besar dan hitam dan ternyata itu Televisi, Televisi yang ada di kampung ini biasanya besar besar. Setelah belajar karena terlalu larut malam, buk Tuti menelepon orang tua ku agar mengizinkan aku menginap.
Aku masih sangat penasaran dengan kotak hitam itu.
"Buk, apakah ini kotak bisa hidup"
"Tentu saja, nyalakan saja kalau mau nonton"
Aku langsung kegirangan dan mendekat ke televisi, aku pikir pikir lagi, bagaimana cara menyalakan nya, tidak ada tombol nya"
"Buk, ini tombol bulat ada garis di dalam nya gak ada buk"
"Tombol bulat di dalam nya ada garis"
"Iya buk, yang biasanya kalau mau hidupin tipi ada itu nya buk, di tekan"
"Oh tombol power on nya, tombol nya ada di samping, lagian ini ada remote nya" sambil tertawa ringan
Televisi menyala dan aku menonton siaran yang di pilih kan oleh ibu Tuti. Ada film bersahabat meraih impian nya, dengan gigih, dengan kerja keras, dan mereka tidak mempunyai banyak uang, dan juga sama sama orang kampung. Film tersebut sangat berpengaruh. Semenjak malam itu aku senang sekali menonton film motivasi dan kadang membaca buku motivasi, dan pikiran ku terbuka tentang artinya pendidikan. Ibu Tuti menjadi jembatan nya, aku mononton film dan baca buku semua nya pinjaman dari Ibu Tuti. Suatu saat aku berfikir, kalau sepertinya Ibu Tuti adalah orang kaya, tapi kenapa mau jadi guru. Pernah sekali ku tanyakan, Ibu Tuti menjawab "bukan masalah uang, saya memang orang berada, tapi banyak penerus generasi yang harus di selamatkan di daerah kampung,ini lah alasan saya pilih kampung ini. Aku bangga sekali mendengar perkataan ibu Tuti, aku terinspirasi juga.

Aku
"Dek, bangun dek ini sudah di stasiun"
Aku terbangun, ternyata supir bus yang membangunkan aku, aku ketiduran. Kepala ku berat, mungkin karena menangis.
"Iya bang, iya, ini udah di Medan ya bang?"
"Iya lah, ini udah sampai Medan"
Aku berkemas dan mengingat apa saja barang bawaan ku. Setelah semua barang telah ku ambil, aku segera mencari becak, becak ini yang akan membawakan aku membawa ku ke asrama putri. Mahasiswa bidik misi disediakan asrama oleh pihak kampus sehingga aku tidak perlu khawatir mencari kos di daerah Medan. Asrama nya tepat berada di kampus.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 23, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Hello TomorrowWhere stories live. Discover now