Sore ini cuaca sangat cerah, tak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu basah dengan rintikan hujan. Renita mengurung dirinya di dalam kamar sambil mendengarkan lagu indie kesukaannya. Ia berulang kali memilih baju yang cocok untuk dipakai pada malam hari hingga sadar bahwa semua pakaian sudah menumpuk diatas kasurnya.
Hatinya berdebar, ternyata lagu indie tak cukup membuatnya semuanya tentram. Ia hanya duduk dan melihat kaca lemari. Memikirkan hal yang akan terjadi pada malam nanti dan sisa umurnya. Lalu mengukur seberapa besar keyakinan pada hatinya.
"Ren, cepet mandi!" tegur Mama sambil mengetuk pintu
"Iya, ma"
Renita sadar, bahwa ada hal yang lebih baik ke depannya untuk Mama dan masa depan keluarganya. Di usianya yang sudah mendekati 30 tahun, memang seharusnya ia yakin dengan tunangan ini. Tapi ia tak pernah menyangka bahwa teman hidupnya adalah Raka, sahabatnya.
"Apa kamu yakin, ren?" bisik Renita di depan cermin
Baginya, menolak sebuah hubungan di usia akhir sudah bukan masanya meskipun ia memiliki kriteria untuk pasangan hidup tapi menolak tunangan ini adalah masalah besar. Tak ada alasan lagi untuk menolak keinginan Mama. Setelah adiknya membujuk renita untuk segera menikah, maka hilang sudah alasan Renita untuk tetap melajang.
Tiba-tiba hp Renita berbunyi,
"Hallo?"
"Aku datang sama papah, mungkin sampai jam 7 malam"
"Iya hati-hati, Ka"
"OK"
Begitulah di setiap percakapan Renita dengan Raka. Entah apa yang membuat pria itu berani untuk menjalani hubungan dengan Renita. Padahal mereka adalah sahabat dekat dan saling mengetahui kisah percintaan masing-masing.
Sebelumnya, Renita selalu memohon kepada Mama untuk tidak mengatakan hal yang aneh pada Raka karena ia tahu bahwa Mama sangat menyukai Raka. Bahkan kali pertama Raka datang ke rumah bersama sahabatnya, Mama hanya memandang Raka sampai masuk kembali ke ruang tamu.
Bagi Mama, dia adalah pria idaman dan hadiah terbaik bagi Renita. Perandaian itu yang selalu di katakan Mama. Karena itu usaha Mama tidak berhenti sampai perandaian saja, bahkan Mama sering mengobrol bersama Raka dari pada sahabatnya yang lain.
Renita selalu berpikir, bahwa ide menikahi Raka adalah hal yang bodoh. Sebagai seorang sahabat sudah pasti mengetahui kekurangan masing-masing. karena itulah perasaan Renita pada Raka tak pernah lebih dari seorang sahabat. Hal itupun yang diperlihatkan Raka kepada Renita.
Tapi suatu malam yang sangat biasa, terjadi obrolan antara Mama dan Raka yang menyebabkan pertunangan ini terjadi. Raka benar-benar membuatnya gila, bukan karena cinta. Mungkin Raka bisa saja nekad. Bahkan hingga sore ini, Renita tak pernah mendapat jawaban dari Mama tentang apa yang mereka bicarakan malam itu.
Ia masih ingat kemarin malam Raka menjemputnya di kantor dalam keadaan basah kuyup dengan motor yang ia naiki. Hal itu membuat kaget Renita karena ia tau bahwa Raka tak bisa mengendarai motor hingga membuat mereka bertengkar di depan kantor.
"Kamu gak lagi bercandakan bawa motor kesini, bukannya.....?" tanya Renita dengan dahi mengerut.
"Aku serius ko, buktinya aku ada disini. Mana aku juga pakai seragam ojek online jadi bisa sekalian narik"
"Apa?!! Raka, are you seriously?"
"Serious...."
"Raka, please! Kita sudah tua. Aku gak suka kalau kamu bercanda kaya gini. Liat coba, pakaian kamu jadi basah. Besok kan masih hari kerja, Ka!"
"Seorang penulis punya waktu libur sendiri, Ren" jawab Raka mengelak.
"Iya, tapi....." tiba-tiba Raka memasangkan helm ke kepala Renita
"Sakittt!!"
"Cepet naik, kasian ini motor kedinginan" ajak Raka
"Aku gak mau naik! Kamu saja sendiri pulang. Lagian kamu gak pernah jemput aku pulang terus tiba-tiba kaya gini ga jelas"
"Tadi Mama nyuruh aku ngejemput kamu, cepet dong"
"Yaudah aku pulang sendiri saja. Nanti aku yang bilang ke Mama" tegas Renita sambil menyimpan kembali helm
"Jangan begitu dong, Ren. Aku mau....."
"Mau apa? Kamu gak biasanya kaya gini"
"Aku mau ngelamar kamu besok"
" Astagfirullah. Bentar aku mau nelpon ustad Ade mungkin kamu kesurupan"
"Aku serius, Renita. Papah sudah di apartemen"
"What?!"
Renita sadar bahwa usaha Mama benar-benar berhasil. Mungkin lamaran adalah pintu awal dari perasaan yang baru. Meski ia tak yakin mampu melewatinya bersama Raka. Karena selama mereka bersahabat selama itu pula perasaan tak pernah berjalan lebih.
You make me be crazy, Ka. Apakah ini karena ketulusan cinta? Atau kita yang saling merasakan kesepian saat ini?
YOU ARE READING
Our Sunshine
Romancemenikah dengan sahabat adalah trend dan keinginan beberapa wanita. tapi beda halnya dengan renita. kini ia harus dihadapi dengan siatuasi mendadak ketika raka mendadak melamarnya. apakah ketulusan itu nyata? ataukah persahabatan itu membawa cinta un...
