Part 1

26 1 0
                                        

Di kota yang penuh dengan asap metropolitan dengan hamparan para korupsi. Aku seorang diri merantau di ibu kota. Panas, macet, polusipun sudah biasa menjadi pemandangan di kota besar ini. Hanya dengan berbekal uang seadanya yang aku bawa dari desa, aku lalui dengan beriburibu harapan yang aku bangun dari desa kecilku.

Trap....trap....trap.... nafas sesak yang mulai mengebu-ebu tetap kurasakan dengan peluh yang tiada berhenti berjatuhan. Sungguh benar-benar membuat aku tidak bisa berfikir. Betapa banyaknya orang berbondong-bondong untuk bisa tinggal disini.

Aku berhenti sejenak di sebuah halte yang ramai. Untuk sekedar mengistirahatkan kakiku yang dari tadi berjalan dari terminal bus pusat kota. Aku memang harus benar-benar hemat disini sampai aku mendapatkan tempat perkerjaan.

Sungguh jauh sekali perjalananku ke rumah teman paman. Terletak agak jauh dari pusat kota. Sambil kulihat gedung-gedung mewah dan tinggi.

"Tidak bisa dipungkiri bahwa kelak apabila aku sukses disini, aku bisa merubah perekonomian di desa."gumamku dalam hati sambil tersenyum. Memang jarang orang yang bermalas-malasan di kota metropolitan ini. Semua harus berjuang untuk bertahan hidup dan harus bersaing untuk diakui. Tidak hanya pejabat-pejabat tinggi tapi pedagang asonganpun ikut bersaing. Sungguh pemandangan yang tidak biasa aku lihat.

Hampir 15 menit aku istirahat, ku jalankan lagi kakiku menuju tempat teman paman. Senja terkakhir hari ini mulai habis. Burung-burung terbang bersama kelompok masing-masing. Tak ada yang tahu apa yang terjadi. Bahkan sampai rumput melambai-lambai tak ada yang menengok sedikitpun.

Wajah yang sayu. Berdiri agak tegap. Menghadap langit dan terus berharap. Mata yang sudah tak kuat membendung air mata. Gemetar telapak tangan yang kotor seraya mulut berkata "pak....bu....kasihinilah kamiiii...". Sungguh ku tak tega melihat sepasang bola mata itu. Dengan kedua tangan yang diangkat sambil mellihat orang didepannya.

Akupun teringat dengan pesan ummi sebelum berangkat, "Bila nanti disana kamu sedang kesusahan, jangan sampailah kamu mengangkat tanganmu untuk meminta belas kasihan kepada oranglain. Lebih baik kamu mengangkat tangannu kepada Sang Pencipta. Ingat Nak.... Allah adalah Maha Kaya. Lebih baik memberi daripada meminta sekalipun kamu hanya mempunyai sedikit uang".

Sosok orang yang paling aku sayangi dan cintai. Orang yang penuh sabar merawatku hingga besar. Orang yang bekerja keras di ladang menjadi buruh untuk membiayai sekolahku hingga tamat SMA. Sampai barang-barang berhargapun dijual olehnya. Inginku melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Tetapi aku tidak kuasa membebankan ummi lagi.

Bapak sudah lamaa meninggalkan kami. Semenjak aku duduk di bangku SD kelas 1 tepat di tanggal kelahiranku. Bapak lebih mementingkan dirinya sendiri. Dia lebih memilih hidup dengan seorang janda kaya daripada hidup dengan kami. Begitu tegarnya seorang wanita ini. Walaupun hidupnya hancur. Tetapi dia berusaha tidak membuat masa depan anak semata wayangnya menjadi suram. Sungguh sangat mulia. Saat itupun aku berjanji tidak akan pernah mengecewakannya. Wanita yang tiada henti mengajarkanku seorang diri mengenalkanku tentang islam.

Tak terasa air mataku menetes, mengingat perjuangannya. Ku ambik selembar uang dari jaket kumelku. Ku kasihkan kepada pengemis itu sambil ku menerka air mataku dan ku lanjutkan perjalananku.

Tak terasa aku sampai daerah yang aku tuju. Sedikit sulit untuk menemukan alamatnya. Karena gang-gang kecil, rumah-rumah yang berdempetan. Akhirnya aku mencoba menghubungi nomer yang ada di kertas pemberian paman. Tak berselang lama tersambung, "Halo, Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh?" kata lelaki paruh baya dengan suara seraknya. Tanpa kupikir lagi langsung kujawab "Halo, Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh. Maaf mengganggu waktunya, apa benar ini nomer pakde Ibrahim temannya paman Lukman?". "Betul sekali. Ohh ini ponakannya lukman yang dari desa to?". "Betul pakde. Maaf saya sudah sampai di jakarta, Sekarang saya sudah berada di alamat yang pakde. Cuman saya bingung, gang di sini banyak sekali dan tidak ada namanya. Jadi saya agak susah untuk menemukan rumah pakde". Dengan nada tertawa "Ohhh kamu jadi kesini hari ini ternyata. Saya kira tidak jadi, karena hari sudah memasuki adzan maghrib, baiklah saya akan jemput kamu. Sms posisi kamu sekarang ya". "Baik pakde. Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh". "Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh" dengan nada yang lembut di jawabnya. Segera ku kirim posisiku saat ini. Memang hari sudah larut malam. Tidak lama adzan berkumandang. Aku menjawab adzan itu dengan nikmat. Setiap nafas, Ku curahkan rasa syukur ini kepada Sang Illahi. Tanpa nikmatnya yang diberikan hari ini, aku tidak akan sampai di jakarta dengan selamat.

YANG TERTULIS DIDALAM LAUHUL MAHFUDZStories to obsess over. Discover now