Aku tersenyum simpul menatap kerumunan orang di hadapanku. Gemuruh tepuk tangan nampak terdengar memekakan telingaku. Selepas dengan berhentinya tepukan tangan, kerumunan orang itu mulai berpencar meninggalkanku yang tengah duduk termenung di sebuah sofa, yang di letakan di sebuah panggung cukup besar di ruangan tersebut. Pelayan-pelayan toko nampak mulai membersihkan lantai dimana kerumunan orang tadi berkumpul.
"Mbak syazi saya boleh minta tanda tangan di buku saya gak? Sekalian, ehm, selfie juga.. hehe" suara wanita yang tadi menjadi moderator di acara bedah buku perdanaku membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum sekilas sembari mengangguk dan mengambil pulpen yang ia sodorkan.
"Nanti kalau mbak ada rencana -ehm jadiin buku ini ke layar lebar, hubungin saya aja ya mbak.. saya siap" celetuk wanita tadi sembari kembali menyodorkan sesuatu, yang kali ini kulihat kartu namanya.
"Buku saya sold out aja saya udah seneng mbak, belum kepikiran sih buat jadiin buku ini ke layar lebar-," jawabku sambil memberikan buku dan pulpen yang selesai kutanda tangani. "-tapi saya ambil deh kartu namanya, siapa tau jadi kenyataan beneran" lanjutku lagi. Aku mulai membereskan barang bawaanku, bersiap untuk pamit dan pergi.
"Eh mbak,-" gerakanku terhenti saat orang tadi kembali memanggilku, "-selfie nya kan belum" ucapnya dengan polos yang kemudian dilanjut dengan acara memamerkan gigi bak iklan pasta gigi.
"Oh iya, lupa" aku kembali duduk dan mulai bergaya di depan kamera.
"Makasih ya mbak.. Saya pamit duluan, masih ada janji" kali ini aku benar benar berdiri dan pamit untuk lekas meninggalkan tempat tersebut.
"Hati-hati mbak.. inget ya mbak, hubungin saya kalau mau cari pemain film buat bukunya." Orang tersebut kembali mengingatkanku akan keinginannya itu. Aku hanya mengangguk pelan untuk menyenangkan hatinya, dan lekas pergi.
Twins-novel perdanaku, akhirnya terpampang di seluruh toko buku di Indonesia sejak 2 bulan yang lalu. Sebulan penuh aku berkeliling toko buku di sekitar pulau jawa untuk mempromosikan bukuku dan berusaha untuk membedahnya. Menyebarkan pemikiran kritisku kepada orang-orang yang bahagia membaca bukuku. Rasanya menyenangkan sekaligus, hampa.
"Syazi," langkahku terhenti menatap seseorang di hadapanku, membuat pikiranku kembali melayang ke 6 tahun yang lalu. Saat kisah dalam buku perdanaku dimulai.
***
perkenalkan semua.. Aku Fida, kalau penasaran atau suka sama ceritanya kasih bintang atau komen boleh dong.. dan cerita ini sebenernya terinspirasi dari 13 reasons why, tapi secara keseluruhan bakal beda kok, walaupun sama sama mengusung social issues in high school. dan aku sebenernya udah lama ga nulis. Baru mulai lagi buat nulis, jadi kalau kata katanya sedikit gimana gitu komen aja yaa.. buat masukan juga. hope you are enjoy the story!:))
YOU ARE READING
WHY?
Teen Fictionkenapa kamu terlihat bahagia, namun memutuskan untuk mengakhiri hidup? Aku Syazi. Menyamar sebagai Syaza saudara kembarku yang mengakhiri hidupnya. mencoba mencari tahu tentang siapa ia sebenarnya, dan mencari alasan mengapa ia melakukannya.
