Prolog~

275 34 16
                                        

Alka Naira tiba-tiba berhenti saat kakinya berpijak dekat dari pagar sekolah. Jantungnya benar-benar dibuat lari maraton karena hadirnya pria titisan joker yang sedang entengnya berdiri dipos satpam dan berceloteh panjang lebar. Alka berani bersumpah kalau kemarin dia sudah berdoa beberapa kali agar pria itu tak perlu hadir disekolah, entah dia sakit malaria, diabetes, demam berdarah, darah tinggi atau sakit jiwa sekalipun Alka tak peduli. Atau perlu pria itu bisa saja tiba-tiba dipindahkan bersekolah kemana saja yang penting jauh dari jangkauan Alka. Andai saja itu semua bisa terkabul tapi sialnya nyata yang ada pria itu sudah berdiri disana, ditempat dimana mau tidak mau harus dilewati Alka.

Dengan semangat yang sudah terkuras habis Alka berjalan lemas melewati pagar. Alka berharap pria abnormal itu tak peduli dengan kedatangannya.

“Oy Alka!”

Demi Tuhan, Alka sedang tidak mood berinteraksi dengan pria berotak tempurung kelapa itu.

“Emm?” percayalah Alka hanya sanggup menghadiahi pria didepannya ini sebuah gumaman.

“Lu udah bosen gunain lidah lu? Kalau bosen, bilang.” Alka ingin kalem untuk hari ini saja kenapa sulit sekali rasanya, pria ini benar-benar memancingnya mengabsen nama-nama penghuni kebun binatang lagi rupanya.

“Lu mau apa emang?”

“Gak, cuma nyapa.”

'Masih pagi Alka masih pagi jangan meledak dulu.'

Saga aka Sagara, jika ada penghargaan untuk pria paling nyinyir atau siempunya omongan paling kasar didunia sudah pasti ditujukan untuk Saga. Saga itu Taufik Hidayatnya Jogja, mengikuti segala olimpiade tapi dimata Alka itu tak penting tetap saja dia otak kelapa!!!!

Bukan hanya Alka yang sering menjadi ajang penerima nyinyir dan perkataan kasar Saga tapi hampir seluruh siswa-siswi sekolah ini pernah merasakan betapa tak punya hati pria bernama Saga itu.

Dia pernah sengaja berjalan dilapangan saat pertandingan basket berlangsung hanya untuk mengumpat siswa yang dinilainya cuma pamer tampang daripada keahlian.

Dia sering lewat dikerumunan siswi dan sengaja nyerocos

'Dasar centil!' lalu berlalu begitu saja.

Tapi tunggu dulu, Sagara bisa dijinakkan oleh satu orang yaitu;

“Pagi Alka.”

Alka berbalik memastikan siapa yang menepuk pundaknya.

“Nai tolong yah, singamu ini dikandangin lagi. Nanti berabe dibiarin keliaran gini.”

“Bacot banget nih macan bulu tegak.”

Rinai melangkah hingga berdiri dihadapan Saga, memberi satu sentilan didahi pria itu.

“Nai....”

Alka merasa diatas angin sekarang, untung si Nai bisa dateng tepat waktu kalau tidak dia sudah diseret pak Sukirman ke ruang BP sekarang karena bergelut dengan kembaran harimau Sumatera itu.

Rinai mengalunkan lengannya pada leher Saga dan menyeret pria itu pergi dari sisi Alka.

“Kasi makan kangkung Nai biar jinaknya awet.”

Reina Renjani, gadis satu kelas Alka yang perlu diberi Nobel untuk kempuannya menjinakkan seorang Sagara.

Mereka berdua selalu dekat terlepas dari ribuan perbedaan diantara mereka.

Saga yang terkesan kasar beda dengan Rinai yang selalu menjaga bicaranya dan sopan seolah-olah tidak pernah ingin menyakiti seseorang dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.

Rinai tahu segala hal tentang Saga bahkan benar-benar ikut andil saat Saga terpuruk karena mengkonsumsi narkoba.

Saga pernah punya masa kelam sebelum bergelut di dunia badminton, meskipun begitu Saga bukan termasuk anak-anak yang terjebak pergaulan bebas karena hancurnya keluarga, dia punya keluarga idaman dengan dua kakak laki-lakinya.

Hanya saja tidak ada yang pernah tahu bagaimana Saga dulu selain Rinai.

“Nai itu bukan teman, sahabat, saudara, pacar. Dia lebih dari sekedar itu.” Alka masih ingat untuk pertama kalinya mendengar Saga berbicara begitu lembut ketika Alka bertanya Rinai itu siapa dalam hidupnya. Alka masih ingat saat itu dia mentraktir Saga teh poci—mungkin saja kepalanya menjadi lebih dingin waktu itu.

KhatulistiwaWhere stories live. Discover now