Sparkle

1.2K 162 9
                                        

Pemuda itu bangun pagi sekali, ingat jelas kalau hari ini ia memiliki banyak tugas. Ia bersiap cepat-cepat, dan segera menyapu lantai sebelum penghuni rumah besar ini semuanya bangun.

Ia tidak sendiri, sudah ada beberapa maid yang menyiapkan sarapan di dapur juga beberapa butler lain di halaman---memotong rumput dan menyirami tanaman.

Kediaman besar ini mulai ramai saat Tuan Muda bangun. Tatapannya polos, ditambah dengan rambut hitamnya yang acak-acakan---kata para maid, wajah Tuan Muda saat bangun selalu segar.

Pemuda itu diminta membantu yang di halaman, sementara kegiatan bersih-bersih di dalam biar digantikan yang lain. Ia mengangguk, lalu segera keluar rumah untuk menyiram beberapa tanaman.

"Selamat pagi, Jimin," sapa Tuan Muda yang sudah keluar rumah.

"Pagi, Tuan Muda," balas pemuda itu, mematikan kran di dekatnya.

"Bagaimana malam kemarin bersama sepupuku?"

"Tidak seru sama sekali," pemuda itu refleks menyahut. "Oh, maafkan aku."

"Aku masih pakai baju tidur, tidak perlu bicara formal begitu, dong."

Jimin tertawa kecil. Diantara mereka berdua---Jimin sendiri dengan Tuan Mudanya---kalau salah satu dari mereka tidak berpakaian formal maka percakapan pun tidak boleh formal. Tuan Mudanya yang meminta Jimin melakukan itu. Juga, rahasiakan dari yang lain, ini antara kita berdua saja, tambahnya.

"Lalu, sapaanmu tidak benar sama sekali. Kenapa pakai Tuan Muda? Kau sudah janji, lho."

"Baik, baik, biar kuulangi. Selamat pagi, Yoongi," Jimin menyapa ulang, meletakkan slang air sembarangan seraya memasang senyum pagi secerah matahari miliknya---yang sudah diakui oleh pemilik kediaman sebagai salah satu pembunuh secara tidak langsung yang berakibat fatal pada kesehatan jantung dan sebaiknya dihindari atau jangan biarkan dia melakukannya.

Tuan Muda, atau yang lebih akrab dipanggil Yoongi, balas tersenyum. Pemuda berparas manis itu kembali ingat tentang yang ayah dan kakaknya katakan tentang senyum cerah Jimin. Lebih baik baca ulang paragraf diatas kalau mau lebih paham.

"Berlatih pedang bersama sepupuku tidak seru sama sekali?"

"Bukan latihannya, tapi lelucon yang ia lontarkan pada kami. Katanya akan menghibur. Belum lagi, kami sama sekali tidak ada yang tertawa karenanya, lalu latihannya jadi keras karena mungkin dia kesal tidak ada yang merespon leluconnya," Jimin membereskan slang airnya sembari bercerita dengan raut kesal.

Yoongi tertawa, manis sekali. Dan meskipun suaranya pelan, butler lain yang sibuk melakukan tugas masing-masing disekitar mereka berhenti sejenak untuk sekedar menatap raut manis tuannya.

"Rasanya senyummu itu bisa menghentikan waktu, Kak," terdengar separuh gerutuan separuh pujian dari samping Yoongi. Detik berikutnya, ada gumpalan cahaya berwarna keabu-abuan tepat di samping pemuda manis itu, yang kemudian berubah menjadi sosok bocah cilik dengan mata bulat yang nampak lugu.

"Oh, Jungkookie, selamat pagi."

Bocah itu merentangkan lengannya, lalu menguap lebar. "Pagi, Kak Yoongi. Tidurmu nyenyak?"

"Tentu saja," Yoongi mengusap rambut kecoklatan milik bocah disampingnya. Dengan gesit, Tuan Muda itu menggendong Jungkook diantara kedua lengannya, lalu mengendusi pipi tembam milik si bocah.

sparkleWhere stories live. Discover now