Malvado

24 1 2
                                        

[Raynn]

.

.

Cast :

Alex Parsevon – Yuna Marhelsen – Randy Marhelsen

.

.

"Jika dilihat, kau yang paling jahat, Alex."

.

.

Alex Parsevon, seorang playboy.

Yuna meremas sendoknya sedari tadi, mata coklat itu menatap garang pada sosok tiang berjalan yang kini sedang duduk bersama temannya. Disekeliling pria itu terlihat banyak wanita, bahkan tak jarang sesekali wanita-wanita itu mengecup pipi Alex. Bibir atas Yuna semakin terangkat, memamerkan mimik kesal saat pria yang ia sebut tiang berjalan itu, yang sedang tersenyum manis kepada beberapa gadis yang lewat.

Yuna murka.

Dasar pria kelinci!

"Sendok kantin bisa hancur, Fa."

Yuna menoleh dengan wajah ter-horror-nya kearah pria yang menegurnya. Randy, adiknya, yang dikenal sebagai sosok yang jutek dan berlidah tajam. Dia memang adik yang tidak sopan.

Randy memandang ngeri wajah Yuna yang tak bisa dikondisikan karena masalah hati. "Cukup, jangan memasang wajah annabelle."

"Hei Randy!" Yuna dengan geram menodongkan sendok kepada Randy di depannya dan menggerakkannya beberapa kali. "Kau lihat buaya disana? Lihat caranya tersenyum menggoda begitu, lelaki buaya darat!"

Randy mengerutkan dahinya. Buaya darat?

"Maksudmu Alex?"

"Jangan sebut nama itu, kita sudah berjanji kan?" Yuna menatap Randy seolah ingin mengulitinya. Randy mendengus. Jika membahas buaya darat yang berkedok wajah malaikat itu, Yuna pasti selalu bertingkah seolah itu adalah masalah yang besar.

Siapa lagi?

Alex, pria yang sangat mempesona dan tampan dengan sifat ramah dan asyik yang selalu sukses membuat semua gadis bertekuk lutut padanya. Dia menjadi pemain wanita sekarang, bahkan pacar temannya sendiri ia jadikan target. Jadi, sangat wajar bagi Alex untuk memiliki banyak musuh. Meskipun begitu, ia bisa melawan musuhnya dengan jurus karatenya. Tetapi tetap saja, bagi Yuna, lelaki itu tak bisa dibiarkan.

Yuna kesal, karena pria itu juga menargeti sahabatnya, Reina, untuk dijadikan mainan penghiburnya. Yuna tahu Reina menyukai si Playboy itu, dan berpikir mungkin Alex serius padanya. Tetapi itu hanyalah omong kosong belaka. Reina hanya dijadikan mainan, seperti wanita lainnya.

"Sekarang, aku trauma dengan playboy saat mendengar cerita Reina. Padahal kupikir, si Playboy itu bisa berubah!" Yuna menyendoki nasi dipiringnya dan memakan makanan pesanannya dengan kasar. Randy hanya diam memperhatikan.

Yuna menatap Randy, mengeluarkan semua uneg-unegnya. "Kau tahu kan, perasaan wanita itu bagaimana? Dipermainkan seperti itu, bahkan memiliki wanita disaat ia menjalin hubungan dengan wanita lain. Bukankah itu menyakitkan? Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Reina."

"Lalu bagaimana denganmu?"

Gerakan tangan itu terhenti. Randy menatap Yuna yang bahkan tak berani menatapnya. "Kau memikirkan Reina, dan tidak memikirkan perasaanmu disaat tunanganmu berperilaku seperti itu?"

"Ha...haha." Yuna tertawa dan menatap Randy. "Kau pikir, seberapa kuat aku menahan dan mencoba mengabaikan perasaanku sendiri?"

Randy menatapnya dalam diam. Yuna meletakkan sendoknya lalu menunduk. "Kau tahu, Randy. Aku memiliki saran untukmu. Ini pesan dari satu-satunya kakakmu yang seksi ini, oke? Dengarkan baik-baik."

MalvadoWhere stories live. Discover now