Sekarang Aira yang masih bimbang, dimana pelabuhan hatinya yang sebenarnya, bukannya dia tidak setia...
Namun tak mudah untuk menentukan, mana yang disayang, dan mana yang dicinta.
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
Cring... Cring-Cring...
Oh Sialan... jangan sekarang... lorong gelap yang terpapar cahaya lilin kini berkedip-kedip, jantungku berdebar mendengar suara lonceng yang mendekat. Pertanda Kagura...
Dengan panik aku mematikan korekku, mengendap-endap menghindari arah datangnya suara lonceng tersebut,
Cring...
Suara lonceng terakhir terdengar, lalu tidak terdengar suara lagi. Cahaya lilin kembali seperti semula.
Huft... aku menghembuskan napas dengan berat, lalu melanjutkan ekspedisi. Baru beberapa langkah aku sudah mendengar suara tangisan... Crying Banshees...
Ada-ada aja sih cobaan... gumamku berjalan mendekat.
Dasar Buta... Aku meledeknya dalam gumaman. Lalu tangisannya berhenti. Dengan panik aku menghentikan langkahku. Sial, aku lupa... Aku mengawasi gerak-gerik gadis itu. Bodohnya aku, seharusnya aku mengendap-endap, dia kan punya telinga. Dengan kaku, dia memutar badannya ke arah ku.
!!!
"Hiks..." Tubuhku membeku mendengar suara isakkan tangisnya.
"D-Doko ni... iru no...?" Dia melangkah mendekat, aku terkesiap terkejut. Dia pun terkejut dan menghentikan langkahnya. Tubuhku masih membeku.
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
"KYAAAAAAAAAAAAAAA!!!" Sedetik kemudian aku mendengar ledak tawa teman-teman di sebelahku. Aku terdiam, lalu kami semua terdiam.
"WAHAHAHAHAHAHAHA! Gilaaaa Takuttt!" Aku tertawa, lalu kami semua tertawa bersama.