Precious memories

20 1 0
                                        

Waktu mungkin terus berganti, tahun pun begitu, tak ada bedanya pula pada musim dan semua yang ada, namun mungkin ada satu yang tak berubah seiring berjalannya waktu dan segala siklus yang berputar. Cinta sejati. Kalian mungkin takkan percaya tapi itu nyata. Bagaimana cinta sejati mampu bertahan selama itu. Selama waktu yang tidak bisa di nyatakan dalam bentuk jam, menit atau detik. Yang tidak tau kapan tepatnya akan berakhir. Yang aku sendiri pun tak yakin akan waktu itu, apa ada akhir untukku ?
Mataku masih asik menatap penuh puja kearah sosoknya yang nampak cantik dengan balutan gaun pengantin yang indah, di tambah Tiara kecil di atas kepalanya. Sungguh aku pun tak percaya bahwa waktu ini akan tiba, walaupun mungkin telah terjadi. Sosok yang dulu ku kenal dengan sikap konyolnya kini tumbuh dengan sangat baik dan menjadi sosok wanita dewasa yang cantik dan cerdas. Meski kadang tingkah konyol itu masih melekat dalam dirinya. Mataku menatap sekitar, memindai satu persatu tamu yang hadir, mereka tampak bahagia dengan momen indah ini, sang wanita yang berdiri di antara para tamu dengan senyum merekahnya. Seolah kata ratu sehari itu berlaku baginya sebab kini seolah semua mengabur dan fokus hanya padanya, begitu indah, cantik dan anggun di saat bersamaan. Tak ada riasan berlebih hanya riasan tipis namun semakin mengeluarkan aura kecantikan yang di milikinya. Senyumku tak kalah lebar darinya. Penuh dengan kesyukuran dan bahagia untuknya. Wanitaku selama 10 tahun terakhir ini. Wanitaku yang cantik dan manis. Wanitaku yang hanya dia.
05-07-2009
Pagi itu masih seperti pagi yang biasanya. Aku dan ocehan mamaku tentang disiplin dan segala aturan tetek bengeknya hanya karena aku bangun sedikit terlambat tidak seperti biasanya. Padahal jarum jam belum menunjukkan pukul tujuh. Dan sekolahku baru di buka pukul tujuh. Mulutku penuh dengan roti bakar dan olesan selai coklat yang telah di siapkan mama untukku. Tak lupa segelas susu hangat untuk menemani rotiku. Ku lihat mama menyiapkan makanan untuk papa yang kini sibuk dengan telfon genggam di telinga kanannya. Sibuk berbicara entah apa, sesuatu yang pasti tidak aku mengerti di usiaku yang masih kecil dan hanya makanan, minuman dan les yang aku tau.
"Cepat habiskan sarapanmu sayang, lalu berangkat dengan papa, mama tidak mau kamu telat. Mengerti?" Ujar mama sembari beranjak duduk di depanku menikmati sarapannya sama sepertiku. Yang hanya ku balas anggukan pelan sembari masih tetap mengunyah sarapanku.
Sesi sarapan telah berlalu beberapa menit lalu, kini aku telah berjalan memasuki sekolahku dengan tas ransel yang sengaja aku tenteng. Mataku menatap sekitar memperhatikan teman-temanku yang juga berjalan memasuki kelas. Perhatianku teralihkan saat sebuah suara meneriakkan namaku dengan lantangnya hingga membuat semua orang menatap kearahku, atau lebih tepatnya kearah seseorang yang ada di balik punggungku.
"Kevin, heish aku sudah memanggilmu dari tadi." Ujar perempuan kecil itu dengan rambut kuncir duanya. Matanya berkedip-kedip konyol membuatku mendengus. Ini masih pagi dan gadis begundal ini sudah membuat keributan walaupun bukan itu maksudnya. Ia hanya menyapaku, namun dengan suara yang sedikit bertenaga.
"Hai dian". Jawabku dengan pelan dan melanjutkan langkahku dengan gadis kecil bernama Dian itu di sampingku dengan segala suara bising yang di ciptakan. Entah itu bersiul atau suara gantungan tasnya yang sesekali berbunyi saat beradu dengan kulit tasnya. Entahlah hidupku sangat penuh dengan suara-suara saat gadis ini berada di sampingku. Tiada hari tanpa hari tenang kecuali hari Minggu tentunya, itu pun jarang kalau gadis kecil ini tidak pergi main ke rumahku.
"Kevin, ini." Ia menyodorkan sebungkus lolli pop padaku dengan senyuman merekah.
"Dari mana kamu mendapatkannya? Seingatku bapak penjualnya sudah tidak berjualan lagi di sekolah kita." Tanyaku yang hanya di balas senyum lebar olehnya dan kedua alis yang ia mainkan. Baiklah abaikan ekspresi konyolnya dan mari lanjutkan saja. Mataku masih menatap koridor dan permen lollipop di tanganku bergantian. Ini jenis permen dengan hadiah stiker tempat-tempat indah di berbagai penjuru negeri. Aku sering membelinya hanya untuk mengumpulkan stiker-stiker ini, namun akhir-akhir ini bapak penjualnya sudah berpindah dan tak pernah lagi terlihat berjualan di depan sekolah. Terakhir aku memakannya beberapa Minggu lalu dan berakhir dengan omelan Mama karena harus pergi ke dokter gigi karena gigiku sakit. Dan hebatnya gadis begundal ini mendapatkan permen yang kini berada di genggamanku.
Waktu pelajaran pertama telah selesai. Kami semua sibuk menikmati bekal yang kami bawa dari rumah. Lagi dan lagi gadis begundal itu duduk di depanku. Lebih tepatnya di bangku depanku yang kosong sebab temanku yang mendudukinya telah pindah tempat ke tempat temanku yang lainya. Aku hanya mendiaminya dengan sibuk membuka kotak bekalku. Kali ini mama membawakanku nasi goreng dengan ikan ayam dan sedikit buah anggur di tempat kecil yang ada di sudut kotak bekalku. Ku ambil sesuap nasi sebelum sebuah suara lagi-lagi menginstrupi ku dengan decakan dan pujian. Mataku beralih menatap kearahnya yang kini sibuk mengunyah dengan mulut penuh.
"

Woahhh Kevin itu sangat enak." Ujarnya dengan pipi yang menggembung karena makanan yang ia makan. Membuatku mengernyit tidak bisakah dia lebih jorok lagi dari ini?. Apa dia tidak sadar bahwa dia adalah perempuan. Sementara aku diam dia masih sibuk mengoceh tentang masakan mamaku dan masakan mamanya yang ia bilang memiliki rasa yang hampir sama. Bagaimana dia bisa tau rasa masakan mamaku? Jangan tanya dia tentu akan mengambil seenaknya dari tempat bekalku mencomot sedikit ayam dan nasi gorengku. Tanda persahabatan. Itu yang dulu ia katakan saat aku menggerutu karena dia mengambil makananku. Sudah sangat sering hingga tanpa aku sadari aku akan memberikan sedikit laukku atau bekalku yang saat itu aku bawa padanya, dan dia akan memberiku seulas senyum yang akan membuat matanya membentuk bulan sabit. Seperti virus, senyum itu juga akan menular padaku yang akan ikut tersenyum membalasnya walaupun hati dongkol karena makanan. Namun tidak pernah sekalipun aku membencinya atau benar-benar kesal. Dan waktu itu akan terus berlalu. Berulang ulang dengan kisah-kisah baru.
Hari Minggu telah tiba, bukan berarti libur untuk belajarku hanya sekolah. Belajar tetap belajar bagiku terutama bagi Mama yang selalu mencekokiku dengan buku-buku pengetahuan sekalipun harusnya ini waktu bermain untukku. Namun tidak ada kata tidak atau penolakan, hidupku telah di atur dari lahir. Sebagai anak tunggal dari keluarga ini aku telah di tempa sedemikian rupa agar dapat meneruskan bisnis papaku. Tidak ada kata memperlakukan keluarga besar. Harus ada piala dan penghargaan lainnya sebagai pembuktian yang akan Mama ceritakan pada sanak saudara sebagai citra keluarganya agar di anggap tinggi dan berkelas. Entahlah pemikiran orang dewasa terkadang sulit di mengerti.
"Kevin antarkan ini ke Tante Levina." Ujar Mamaku sembari mengulurkan piring yang terdapat beberapa buah kue bolu kukus. Kaki kecilku melangkah menuju pintu depan sembari menentang sepiring kue yang ku bawa. Tidak jauh hanya berjarak beberapa rumah saja. Tante Levina salah satu teman Mama dan juga Tante dari gadis begundal itu. Awal bertemu juga saat Mama mengajakku berkunjung ke rumah Tante Levina. Dunia memang sempit. Baru juga aku akan membuka pagar rumah, mataku langsung gagal fokus saat ku lihat dia datang bersama ayahnya dengan penampilan yang errrr sedikit. Ada apa dengan helm itu? ya Tuhan.
"Hai cevin!" Sapanya dengan senyum lebar dan mata mengedip genit, masih duduk di boncengan ayahnya dengan helm kebesaran yang merosot kebelakang dan tali pengikat (Retention System) yang berada di tempat yang seharusnya. Bukannya di dagu malah di hidungnya.
"Selamat pagi paman." Sapaku hormat kearah ayah gadis begundal mengacuhkan sapaannya.
"Pagi Kevin, ada apa pagi-pagi kemari?" Tanyanya sembari beranjak membantu gadis begundal itu turun dari motor ayahnya. Well, dia dan senyum konyolnya masih menatapku dengan mata berbinarnya.
"Mama menyuruhku membawa ini untuk Tante Levina paman." Jelasku sembari menunjuk sepiring kue dengan daguku.
"Ah, ayo masuk." Ujar paman sembari membukakan pintu gerbang untukku dan gadis begundal yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku masih dengan senyum bodohnya.
"Itu pasti enak Cevin. Aku baru saja dari taman jalan-jalan dengan ayahku." Jelasnya sembari berjalan di sampingku memberiku info bahwa dia baru saja pulang dari jalan-jalan terlihat dari baju piyama yang masih melekat di tubuh kecilnya. Pagi yang indah pasti baginya sampai belum mandi dan masih acak-acakan.
"Omong-omong namaku Kevin bukan Cevin." Ujarku berdiri menghadapnya dengan wajah yang tetap datar.
"Itu agar terlihat imut Cevin." Ujarnya sembari menepuk pundak ku pelan dengan senyum jahilnya.
"Terserah" Ujarku pelan melanjutkan langkahku masuk kedalam rumah menemui Tante Levina.

"Dia.....N"Where stories live. Discover now