Hari demi hari selalu Lukas jalani bersama Laksa. Mereka selalu begitu, mereka selalu saja begitu. Siapapun yang melihat mereka akan selalu begitu.
Seperti pagi ini. Seperti biasa Lukas dan Laksa berebut kamar mandi, entah mengapa mereka sangat menyukai kamar mandi di yang ada di bagian lantai 2 bersebelahan dengan kamar mereka. Padahal rumah mereka memiliki 4 kamar mandi.
"Lo dibawah napa sih Kas kan kemarin lo dah mandi disini." rengek Laksa sebal melihat kembarannya itu selalu merebut singgasananya.
"Lo aja sana yang ke bawah gue mah ogah." Lukas menggeser tubuh Laksa secara paksa membuat Laksa terdorong ke tembok dan Lukas berhasil masuk ke dalam kamar mandi itu.
"Bwleee..." Lukas menjulurkan lidahnya mengejek Laksa yang saat ini memasang wajah garang.
"Bareng aja gimana?" Tawar Lukas.
"Cihh. Ogah, mending gue mandi ke bawah aja. Dasar penjajah." Laksa membalikkan tubuhnya berlari kecil menuju tangga.
"Beneran gamau bareng Sa." teriak Lukas menggoda Laksa.
"Nggak sudi gue." balas Laksa tak kalah dari teriakan Lukas.
Baik Lukas maupun Laksa kini sudah masuk ke dalam kamar mandi mereka masing-masing. Dan tidak lama kemudian mereka bertemu lagi di dalam kamar.
"Sa, lu tau ngga kolor gue yang warna ijo gambar keroppi?" tanya Lukas sambil mengobrak abrik lemari pakaian dalamnya.
"Gak." jawab Laksa singkat.
"Yahh, ngga ada nih Sa. Gimana dong.?" Lukas seperti hampir putus asa mencari celana kolornya itu hingga ia melihat ke arah kasur dan mendapati kain berwarna hijau di bawah ved cocernya tadi.
"Nah ini, gue lupa kemarin malem gue copot nih kampret." Lukas memegang celana kolornya dengan bangga.
"Jorok lu." maki Laksa membuat Lukas tersenyum jahil dan menempelkan celana kolornya itu tepat di bagian muka Laksa.
"Lukasss. Lo gila apa bau banget sih kolor lo. Hweekk. Hweekk. Lepasin gue kampret"
"Gak akan gue lepasin kita kan kembar satu dari kita jorok lainnya juga harus jorok." Lukas tersenyum jahat melihat kembarannya itu sedang memberontak berusaha melepaskan tangannya dari muka Laksa.
"Gila, tu kolor ngga lo cuci berapa bulan bau banget lo jorok tau ngga." Kata Laksa sembari mengusap usap wajahnya.
"Yee masih wangi gini kok, baru juga 2 minggu." Lukas tersenyum polos sambil memandang celana kolornya itu. Laksa malah bergidik melihat kembarannya itu.
Tak lama kemudian mereka sudah siap memakai seragam OSIS putih abu-abu dengan rapih ditambah dasi abu-abu dengan garis putih dua di bagian bawahnya. Dan bertuliskan SMA Fortune.
"Gutten Morgen Bunda" sapa Lukas dan Laksa bersamaan kepada wanita paruh baya bernama Ellisa yang biasa mereka panggil "bunda" yang kini sedang menyiapkan sarapan untuk keduanya.
"Gutten Morgen Ayah." sapa mereka bersamaan lagi. Kepada laki laki bernama Antares yang biasa mereka panggil "ayah".
"Kalian berdua ya, jangan suka rebutan kamar mandi kalian tahu kan kalau kamar mandi itu licin. Kalian mau kepleset apa ?" Omel Ellisa kepada kedua anaknya.
"Laksa ngga lari-lari ngga rebutan. Lukas tu yang jerit-jerit sendiri kaya perawan." mendengar ucapan anaknya itu Ellisa melotot.
"Ngomong apa kamu tadi.." Ellisa menghentikan kegiatan mengoles margarin di lembar roti tawar milik suaminya. Disisi lain Antares dan Lukas tertawa jahil melihat Laksa di marahi oleh bundanya.
***
Di lain tempat dalam waktu yang bersamaan, Kinan perempuan berparas cantik,berpostur ideal sedang membenarkan sepatunya. Setelah selesai ia menghadap kaca lemarinya dan tersenyum sambil memakai sebuah bando berwarna putih di rambutnya.
"Kinan, sarapannya udah siap." panggil seorang wanita di lantai bawah. Wanita itu bernama Kasih yang biasa Kinan panggil "mama".
"Iya ma, Kinan ke bawah."
Tidak lama kemudian Kinan sudah sampai di bawah mendapati mamamya kini sedang mengaduk susu yang ada di gelas berwarna bening itu.
"Ma, papa pulang kapan ?"
"Minggu depan kayanya. Emang kenapa ?"
"Pengen nitip sesuatu." kata Kinan menimbulkan binar-binar di kedua maranya.
"Apa ?" tanya Kasih penasaran.
"Adadeh ih, mama kepo." ledek Kinan sambil mengunyah roti tawarnya.
"Kinan, mama 2 hari lagi harus ke Semarang temuin client, kamu nanti nginep di rumah tante Ellisa dulu yaa." kata-kata Kasih membuat Kinan menghentikan kegiatannya untuk sesaat.
"Berapa lama, ma?"
"Cuma 3 hari itu udah sama perjalanannya, mungkin jum'at mama udah sampe rumah." Kinan mengunyah makanannya sambil mencerna kata-kata Kasih.
"Tapi mama pulang sebelum papa pulang kan.?"
"Iya, jum'at mama sampai rumah lagi kok." Kinan mengangguk sambil mengunyah roti nya. Mereka selalu menikmati pagi seperti ini walau tanpa Fadli (Ayah Kinan) dan Kindra (Kakak laki-laki Kinan).
***
Yuhhuuuu. Semoga kalian sukak sama cerita aku yaa. :)
Jangan lupa votement yaa readers yang baik.....
:)
:)
:)
:)
:)
YOU ARE READING
Between Lukas & Laksa
Teen FictionAPAKAH SELAMANYA YANG KEMBAR ITU AKAN SELALU MENDAPATKAN HAL YANG SAMA?
