N a y a P O V
Mei 2016
Angga, aku tidak ingat betul bagaimana aku mengenalnya. Yang aku ingat dia salah satu teman dari teman yang juga berteman denganku. Aku hanya mengenalnya sekilas pada saat itu. Sama sekali tidak terlintas bahwa dia merupakan salah satu orang penting untuk hidupku. Kesan pertamaku tentang Angga adalah smart. Dia salah satu mahasiswa perguruan tinggi impianku, Universitas Indonesia dengan jurusan yang selalu aku idamkan. Kesan keduaku terhadapnya adalah family man. Di saat semua orang merasa mampu menaklukan dunia untuk dirinya sendiri, dia memilih berjuang untuk kedua orang tuanya. Berbakti. Semua yang ia raih dan dapatkan selalu untuk ayah dan ibunya. Semua yang akan ia lakukan dan ia pilih selalu mempertimbangkan kepentingan kedua orang tuanya. Terima kasih Angga, kamu memiliki dua poin yang telah membuat aku head over heels to you!
" Kenapa cewek kalo pacaran terlalu nuntut untuk jalan berdua, hangout, nonton, makan dan lainnya? Dia pernah nggak sih mikir cowoknya lagi nabung untuk bahagiain orang tuanya atau paling enggak mikir lebih baik uangnya ditabung buat biaya pernikahan. Dangkal banget kalo mikir hubungan cuma buat hura-hura bahagia di saat belum ada kepastian." Angga nyerosos dengan mata dan tangan masih terpaku pada layar laptop.
" Picik amat pikiran lu Kak, itu cewek bukan nuntut buat jalan sih dia cuma pengen menghabiskan waktu bareng orang yang dia sayang. Lu kalo ngomong kayak gitu depan cewek lain udah abis kali dibilang pelit. Jangan harap dia bakal respect lagi sama lu."
" Dih gua serius napa, tapi enggak bisa nolak juga sih... apalagi kalo dipaksa, takut dia ngambek terus gua ditinggal. Hehehe." Dia terkekeh, memamerkan dertan giginya yang rapi. Manis. Tiga poin! Senyum atau ketawanya Angga itu teduh.
" Omongan lu nggak salah sih, apalagi lu udah kerja gini. Gimana bisa punya waktu buat main-main kayak gitu ya.. tapi jangan dianggep dangkal juga sih cewek tuh dengan diajak main atau pergi merasa dikasih waktu dan bikin dia seneng, nggak harus buang-buang uang kalo emang yang lu garis bawahin itu materi. Cukup jalan dan nikmatin waktu berdua kemana kek di taman kek di rumahnya kek."
" Nah, gua prefer buat ke rumahnya kenal sama keluarganya."
" Pede amat lu diterima keluarganya kalo ke rumahnya mulu."
" Iya sih gua kemaren-kemaren juga nggak dibolehin main, makannya kemaren tuh nggak cocok jadi bubar."
" Kak, jangan terlalu idealis sama prinsip lu sih, kapan bisa nerima perempuan yang emang ditakdirin egois, merasa benar, selalu ingin dibenarkan dan manja. Hahaha."
" Gua nggak kaku-kaku amat kok, gua suka kok cewek manja. Gua cuma nyari perempuan yang mau diajak berjuang sama gua dari nol dan paham gua mau bahagiain orang tua gua dulu. Intinya dia pengertian dan nggak rewel plus nggak ribet keinginannya."
" Susah gila nyari yang gitu!" Aku mendorong bahunya merasa kesal dengan ucapannya barusan.
" Ya kalo susah, gua berjuang aja terus sendiri."
" Lu harapannya terlalu besar kak, hati-hati kalo udah terlanjur sayang dan dikecewain karena nggak sesuai kriteria terus cekcok bubar deh, susah move on! Hahaha."
" Ye ngeledek!" Angga melepas pandangannya ke arahku sambil mengacak rambutku pelan. Empat poin! Angga itu suka ngasih perlakuan yang ajaib bikin melting.
" Udah kejadian yaaa jadi kategorinya bukan ngeledek tapi berusaha ngasih preventif biar lu nggak terjebak lagi."
" Udah nggak usah dibahas gua suka kebawa emosi ntar gua. Pacar pertama dan terakhir tuh suka nggak stabil gua dengernya."
" Terakhir dari maneee!"
" Hehehe. Kan sekarang nyarinya istri."
" Oh iya harapan orang yang udah mau wisuda dan kerja adalah nikah ya, beda ya."
" Bahagiain orang tua dulu, baru nikah soalnya cewek sekarang kadang susah diajak buat paham kalo pasangannya pengen berbakti dulu, susah juga buat bikin dia paham kalo dia prioritas tapi aku masih punya tanggung jawab juga dong ke ortu."
" Teori dari mana dah, nggak semua kayak gitu kali!"
" Teori gua, emang lo enggak?" Matanya lurus memandang manik mataku. Deg!
" Ya gua mah belum waktunya mikirin itu."
" Nah satu lagi, cewek sekarang ngegampangin masa depan." Matanya menyipit sinis dengan senyum meledek.
" Udah cepet kerjain aja sana revisinya buruan! Udah malem, gue mau pulang Kak!"
*****
YOU ARE READING
Rangka Hati
ChickLitSudah adilkah hatiku? Sudah benarkah posisimu pada hidupku? Sudah jujurkah perasaanku pada keadaan ini? Jika sudah, mengapa aku tetap merasa kehilangan? Aku yakin betul bahwa aku tidak menyakiti hatimu dan telah mengamankan perasaanku. Selama ini ak...
