Arin sudah siap dengan semua peralatan yang ia bawa. Dengan diiringi langkah pasti, gadis muda itu berjalan menghampiri teman-temannya yang sudah berada di depan bangunan kosong tak berpenghuni. Arin mengeluarkan beberapa kaleng cat yang ia bawa dari rumah, kemudian kaleng itu ia letakkan diatas rumput yang menghijau. Dengan cekatan, jari lentiknya mampu mengubah dinding polos nan usang menjadi sebuah mahakarya yang sempurna.
“Bagus juga.”
Arin terkejut. Ia menoleh kebelakang. Ada seorang pemuda disana. Pemuda berpawakan tinggi kurus, berkulit kuning langsat tengah tersenyum memandangi coretan indah yang dianggap sebagai karya Arin. “Maaf, anda siapa?”
“Assalamu’alaikum, perkenalkan nama saya Rahman. Saya tidak sengaja lewat sini, dan melihat karya anda. Ini bagus.” Pemuda itu memuji karya Arin dengan ikhlas. Tak terlihat paksaan saat pemuda itu mengapresiasi karya yang Arin torehkan.
“Apa kau menyukainya?” tanya Arin ragu. Ia penasaran, apakah pemuda tampan itu menyukai karyanya atau tidak.
Pemuda bernama Rahman itu terdiam sejenak. Ia bergeming sambil menatap hasil karya Arin. “Iya saya suka,” Arin tersenyum senang. “Tapi..”
Dahi Arin berkerut. “Tapi apa?”
“Ini akan terlihat sempurna jika kau bisa membuatnya menjadi lebih indah.”
“Kau bilang ini sudah bagus. Lalu apa lagi?”
Rahman tersenyum lepas. “Bagaimana jika kau mencari jawabannya sendiri. Apakah kau mau?” Rahma justru balik bertanya.
“Dimana aku bisa mendapatkan jawabannya?” rasa penasaran Arin terus melanda. Rahman hanya menunjuk tanpa bersuara. Jari telunjuknya ia arahkan pada suatu tempat, yang ia anggap sebagai jawaban dari pertanyaan gadis manis berambut panjang itu. Sepertinya Arin kebingungan. Ia berusaha memahami apa yang diinginkan Rahman, meski kenyataannya Arin tak lagi bertanya pada Rahman tentang apa maksud dari semua perkataannya. Setelah memberikan jawaban, Rahman berpamitan pada Arin. Ia pun pergi meninggalkan Arin dan karyanya di bawah gundukan awan memerah sore itu.
Lintasan teka-teki seorang pria yang baru dikenal Arin, membuatnya ingin segera mencari jawaban dari pertanyaannya tersebut. Dan benar, tak lama setelahnya, Arin sudah masuk kedalam bangunan seperti apa yang dijelaskan Rahman tadi. Disana, Arin melihat seorang pemuda yang ia ketahui namanya tengah mengumandangkan adzan di salah satu langgar yang ada di desanya. Ia takjub begitu mendengar suara lantang pemuda itu yang mampu menyejukkan hati.
“Kau datang juga rupanya. Kenapa kau tidak ikut sholat berjamaah?” tanya Rahman pada Arin, yang saat itu sedang sibuk mencari jawaban dari pertanyaannya sendiri.
Arin menggeleng cepat. “Sebenarnya aku belum mendapatkan jawaban itu. Hanya saja, aku menemukan graffiti itu,” Arin menunjuk pada kaligrafi yang ditempel pada dinding langgar. “Itu apa? Apa arti dari tulisan itu? Kau tahu bagaimana membuatnya? Aku ingin juga membuat itu.” Seru Arin penuh percaya diri.
Rahman mengangguk pelan. Pemuda itu mencontohkan kaligrafi sederhana untuk Arin. Sepertinya gadis itu ingin membuatnya juga. “Coba saja, barangkali kau bisa membuat itu.”
Beberapa menit kemudian, Arin pergi meninggalkan Rahman dengan membawa secarik kertas yang berisi contoh dari kaligrafi. Hasrat Arin tengah menggebu-gebu untuk segera menggambar sesuai dengan contoh yang ada di tangannya. Tapi ini sudah malam. Arin terlalu lelah untuk hari ini. Ia bisa menggambarnya esok di sore hari.
YOU ARE READING
Siapakah yang Berhasil Merubahku?
Short StoryHijrah bukan perkara mudah. Hijrah bukan soal asal berubah. Arin, seorang boomber graffiti yang telah berhasil memaknai hijrah pun harus tetap beristiqomah~
