-Satu-

26 5 0
                                        

Kriiittt...

Bunyi derak pintu kelas berengsel tua itu menggema di seluruh ruangan. Langkah berat namun perlahan. Mengendap-endap seakan tak ingin seorangpun mengetahuinya.

Seorangpun.

Termasuk bocah laki-laki yang tengah ia buru. Bocah laki-laki dengan luka sayatan pisau dipundaknya. Luka yang terjadi karena bocah itu mencoba kabur darinya.


Lukanya cukup dalam, bocah itu tidak akan lari terlalu jauh dengan luka menganga di pundaknya. Akan sangat mudah baginya jika hanya mencari seorang bocah. Terlebih penciumannya yang tajam dengan mudah membaui darah segar yang merembes keluar dari pundak bocah itu, memberi warna merah segar pada kemeja putihnya.


Sesaat ia diam. Mendengarkan dengan saksama suara desahan napas seseorang. Terengah-engah dan terkesan tertahan.


Perlahan kakinya melangkah menuju meja praktikum di barisan paling belakang. Sebuah pekikan kecil nan samar namun membuatnya semakin yakin dengan keberadaan bocah itu.

Bau anyir yang semakin kuat ketika ia mendekat membuat langkahnya tak terhenti. Sudut bibirnya sedikit terangkat membuat seringai kecil menyeramkan tercetak di wajahnya.Lelaki itu membuat sebuah gerakan cepat dengan satu langkah ke arah suara tadi.

Dan..


"Kena kau!"


***


"Saera-ya, apa kau tau cara menjawab ini?."

Seorang gadis berkacamata dengan rambut yang dikucir ekor kuda dan poni yang menutupi dahinya menyodorkan sebuah soal Aljabar.

Saera menerima soal tersebut dan memperhatikannya. Saera mencoba mengerjakannya dan mengajari gadis berkacamata itu dengan cermat dan hati-hati.


"Hmm, kenapa sepertinya sangat mudah?."Tanya gadis itu heran.


"Memang sangat mudah. Kau hanya harus menukar angka ini ke sisi ini, menyamakannya kemudian menghitungnya." Jelas Saera dengan gamblang.


"Baiklah, akan ku coba. Kamsahamnida, Saera-ya."


"Ne."

Jawaban singkat diikuti senyuman yang tersimpul diwajahnya, mata yang juga penuh kebahagiaan. Siapa yang tak tertarik dengan gadis berparas cantik, berhati baik dan cerdas seperti dirinya.

Sejak kecil ia dikagumi banyak orang, hingga sekarang pun ia masih jadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.


Tak lama kemudian seisi kelas berubah tenang. Seorang laki-laki dengan kemeja biru muda dan celana hitam. Rambut yang disisir rapi dan sepatu kulit yang mengkilap memasuki ruang kelas sambil menenteng beberapa buku.

Ia berjalan dengan sedikit pincang ke depan kelas, membuat semua anak memperhatikannya dengan saksama kemudian ia menaruh buku-bukunya dimeja.


"Seperti biasa kita mulai pengabsenan. Ah Sung Ri..."


"Hadir."


"...Han Tae Won..."


"Hadir."


"...Kang Sae Ra..."


"Hadir."


"...Min Yoon Gi..."


"..."


Tak ada jawaban. Semua anak diam. Beberapa malah sibuk mengobrol dengan temannya.

Ya. Menyedihkan memang. Siswa dikelas ini saling tak acuh, mereka tak perduli pada orang lain dan hanya memikirkan diri mereka sendiri.

Sungguh ironis, ketika kau menjumpai manusia menyedihkan dengan ego yang berputar disekelilingnya. Orang yang miskin dan tidak populer terbuang disini. Tidak diperdulikan. Bahkan tidak dianggap.


Yoongi adalah seorang introvert. Ia tidak pernah membuka diri pada siapapun kecuali Saera. Banyak anak mengatakan bahwa Yoongi adalah anak sombong yang merasa bahwa semua orang dan dunia ini berporos padanya.

Ia adalah typikal anak yang cerdas, hanya saja ia lebih suka tidur saat pelajaran. Semua orang tau itu dan mereka menyebutnya Mr. Arogant.

"Kemana Yoongi?." Tanya Mr. J.

Semua anak masih diam dan beberapa diantaranya menggelengkan kepalanya. Sikap mereka cukup menjadi jawaban untuk Mr. J bahwa Yoongi tidak masuk tanpa izin dan membuatnya menorehkan tinta merah dibuku absen hari ini.

Saera menoleh kearah bangku disudut ruangan.

Kosong.

Itu tempat duduk Yoongi. Tak ada siapapun disana. Bocah laki-laki berambut hitam itu biasanya menaruh kepalanya dimeja sambil memejamkan matanya disaat seperti ini.

Meski Saera tau bahwa Yoongi tidak terlalu menyukai sekolah, tapi ia tidak pernah meninggalkan pelajaran tanpa izin.


"Saera-ya, kenapa sedari tadi kau memperhatikan bangku Yoongi?" Tanya seorang gadis yang duduk tepat disebelah Saera.


"A..aniya, aku hanya masih tidak mengerti kenapa anak itu tidak masuk tanpa izin." Balas Saera sekenanya.


"Ah, aku baru ingat kalau anak sombong itu dekat denganmu. Apa kau tidak tahu kemana dia?"


"Ani. Mungkin dia sakit, aku juga tidak tahu. Aku akan ke rumahnya nanti." Ucap Saera meyakinkan meski ia sendiripun tak yakin apa yang terjadi pada Yoongi.


***

Hmm.. atas permintaan beberapa teman aku coba update lagi dengan cerita yg berbeda hehe

Maafkan, untuk OUR sedang dalam tahap edit, jadi mungkin bakal dihapus dan diupdate dari awal..

Makasih buat yg udah mau baca, I hope you like it guys 😊

Komentar dan saran dari kalian sangat diperlukan 😉

Love

Kei❤

One MissingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang