"A-ampun!"
"Masih berani minta ampun? Cih."
Lelaki bertubuh kurus itu mengepalkan tangannya, dan dari telapak tangannya muncullah sebuah cambuk yang terbakar oleh api.
Ia mencambuk lelaki yang tengah bertelanjang dada di hadapannya itu, tanpa memedulikan pekikan sakit dan teriakan meminta ampun dari si korban.
"Udahlah Bos, jangan diterusin lagi."
Tapi lelaki itu malah mengabaikan ucapan si lelaki gembil di belakangnya dan lanjut mencambuki mangsanya.
"Suruh berhenti lagi," bisik lelaki berkulit gelap yang sedari tadi berdiri di samping si lelaki gembil.
"Lo aja gih sono!" balas si lelaki gembil.
"Lo yang udah senior aja takut, gimana gue yang baru aja direkrut kemaren coba?!"
Park Jihoon--si lelaki gembil--mengusak rambutnya kasar. "Andaikan ini di sekolah aja gue masih bisa berhentiin. Masalahnya ini udah di wilayah teritorinya, Jin."
Keduanya menghela napas pasrah.
Park Woojin sibuk mengipasi lehernya yang sudah banjir keringat. Padahal baru sehari ia direkrut, tapi rasanya ia sudah ingin menyerah.
"Muka manis ga menjamin perilakunya manis," bisik Woojin pelan.
Jihoon mengangguk menyetujui.
Kembali lagi pada si lelaki bercambuk api. Ia menghentikan cambukkannya dan bertanya lagi dengan wajah datarnya.
"Udah tau letak kesalahan lo di mana?"
Si korban pencambukkan menggeleng.
Cambuk di genggaman menghilang, digantikan dengan sebuah bola api yang langsung menghantam dada si korban, tepat di atas bekas cambukkannya.
"Pake otak lo!"
Jihoon dan Woojin meringis saat lelaki di depan mereka itu kembali melontarkan bola api dari tangannya.
"Apa yang udah lo lakuin tadi di sekolah?!"
Jihoon mengeluarkan kipas lipat dari dalam saku celana sekolahnya. "Gile makin hari makin panas aja ini sarang setan," gumamnya.
"Ya gimana ga panas, si petinggi sarang setannya aja lagi marah besar," celetuk Woojin.
Iblis senior dan Iblis newbie itu hanya dapat melihat Tuan Besar mereka yang masih asik menyiksa lelaki Taiwan bertubuh tinggi yang sekujur tubuhnya telah dipenuhi luka bakar.
"Kenapa deh si Bos sampe marah besar gitu?" tanya Woojin penasaran.
Jihoon mengangkat bahunya. "Paling ada sangkut paut sama doinya."
Kening Woojin berkerut. "Si Bos punya pacar?"
"Ya menurut ngana?"
"Menurut gue sih--"
"JAWAB!"
Kedua Iblis itu memandangi Bos mereka yang telah berubah wujud menjadi Iblis seutuhnya. Tubuh dengan kulit putih bersih si lelaki yang terbalut oleh seragam telah digantikan dengan eksistensi makhluk merah besar bertanduk kambing yang bertelanjang dada.
"Haduh hubungin pawangnya coba Jin. Bisa berabe kalo sampe ketauan Master Daniel lagi," titah Jihoon sembari memukulkan kipas lipatnya pada Woojin.
"Nama kontak pawangnya si Bos 'sodu' bukan?" tanya Woojin yang sedang mengotak-atik ponsel sang Bos yang dititipkan padanya.
Jihoon langsung merampas ponsel si Bos dari genggaman Woojin dan menghela napasnya.
"Mantap, pawangnya si Bos peka," gumam Jihoon. "PAK BOS INI CALON IBU NERAKANYA CALLING-CALLING NIH!"
YOU ARE READING
Anomaly
Fanfictiondedicated for the precious birthday boy, uri bae--kiyowo--jinyoung.
