Setelah hujan kemarin malam, pagi ini terasa sangat cerah seakan-akan matahari tersenyum pada bumi, seorang gadis melangkahkan kakinya penuh gembira, dengan seragam hitam putih khas sekolahnya dan rambutnya yang digerai gadis itu nampak cantik sekali, dia menghindari lubang-lubang yang digenangi air hujan agar sepatunya tidak basah.
Gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya "masih pagi banget ini.. pantesan aja suasananya gak terlalu rame.."ujarnya.
Asmia Hasna namanya, gadis yang terlahir dari keluarga sederhana yang hidup bahagia, pandai dan cantik jelita.
Mia biasa ia dipanggil, ia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, dia tinggal bersama Hafifa dan Delia dua sahabat kecilnya juga bersama Naufal Hasan paman mudanya Mia.
Keempat orang itu hijrah dari kampungnya menuju kota untuk mendapat pengalaman dan pendidikan yang lebih, memang dikampung juga tidak kalah maju hanya saja karena lingkungan di kampung mereka tidak terlalu minat pada bahasa dan teknologi keempat orang itu ingin membawa perubahan ketika kembali ke kampung mereka nanti.
Mia melepaskan jam tangannya dan tidak sengaja jatuh ke pinggir genangan air di lubang jalan.
"Huuh.. untung gak masuk ke air.."kata Mia mengusap dadanya.
Mia menekuk lututnya hendak mengambil jam tangannya tapi tiba-tiba...
Buuurrr..
Sebuah mobil tiba-tiba lewat dengan kecepatan penuh dan air digenangan itu mengenai Mia, Mia membuka mulutnya lebar-lebar melihat dirinya dari bawah ke atas.
"Aaaaaaahhhh..."pekik Mia, untung saja tidak ada orang jadi dia tidak merasa malu.
Mia mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Hafifa atau yang biasa dipanggil Ifa.
"Oy.. ada apa Mi?"
"Fa.. lo ke sekolah bawa seragam double ya.. gue butuh.."
"Lo Kenapa Mi? Suara lo kayak orang yang nahan nagis tahu gak.."
"Ya kalau tahu kenapa nanya..."
"Ya kenap___"
"Udah jangan banyak tanya pulsa gue abis.."
Mia terpaksa ke sekolah dengan pakaian kotor dan basah, ia kesal sekali pada pengemudi mobil merah yang membuatnya begitu, Mia merutuki pemilik mobil itu supaya jika bertemu maka pengemudi mobil itu akan terpeleset jatuh tepat didepannya.
Mia melihat sekolàh masih sepi ia bisa bernafas lega karena sekolah masih sepi dan tidak akan terlalu malu, Mia menunggu Ifa dan Delia datang, dia duduk di bangku yang ada di dekat pohon beringin besar beberapa langkah dari pintu gerbang.
Mia mendengar suara gerbang dibuka Mia berpikir itu Ifa dan Delia ia berbalik lalu berkata "untung kalian cepet datang gue kedingi.... eh???"
Mia mendelik ketika melihat sosok laki-laki yang beberapa hari ini membuat baper dirinya, Hamdan itulah nama lelaki yang kini menatapnya keheranan.
"Itukan Hamdan, sepupunya Caca yang caca bilang dia suka sama gue.."
Hamdan menghampiri Mia, Mia langsung ingat pada seragamnya yang kotor.
"Lo.. kenapa? Ini baru senin pagi loh Mi, tapi pakaian lo udah kotor kayak gitu?"tanya Hamdan.
Mia hanya menunduk malu lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Hamdan tersenyum kecil lalu melepas jas khusus sekolah SMA 24 miliknya dan memberikannya pada Mia.
"Lo pake ini dulu, kalau mereka lihat seragam lo kayak gitu bisa dihukum lo apalagi kalau kelihatan sama si Sari lo bakalan di out dari list calon ketos di sekolah ini.."
Hamdan benar, jika Sari bidgar kebersihan di organisasi OSIS datang pagi sekali bisa-bisa yang dikatakan Hamdan benar-benar akan terjadi, Mia menerima jasnya Hamdan lalu Hamdan pergi meninggalkan Mia.
Mia tersenyum melihat punggung Hamdan yang mulai menghilang, Ifa yang baru datang memgang bahu Delia kaget.
"Lia.. kayaknya kita kelamaan deh, nih anak dah gila aja gimana donk ini??"tanya ifa khawatir.
Mia yang mendengar itu menghilangkan senyumannya "apaan sih lo fa, ngomong ngelantur aja.."ketus Mia.
"Enggak Fa dia belum gila."ujar Delia mengelus dada.
"Yeh lu sama aja.."
Ifa mengarahkan pandangannya pada Jas yang sedang dipegang Mia lalu tersenyum menggodanya "aah Mi.. kali ini siapa yang lo pikat sama kecantikan lo Mi??"tanya Ifa memainkan alisnya.
"Gue cantik?? Alhamdulillah..."kata Mia.
"Loh itukan jas yang khusus dipake anggota OSIS kok lo megang sih?"tanya Delia baru sadar.
Mia menegak lalu menggaruk-garuk belakang kepalanya mulai salah tingkah dan akhirnya tidak bisa bicara apa-apa.
"GUYS..."kata seseorang dari belakang Delia dan Ifa, itu Alsa pimpinan BestFF, genk Mia dkk.
Tentang BestFF, itu adalah grup yang dibentuk oleh Alsa and friends semenjak zaman SMP dulu anggotanya terdiri dari Alsa gadis pintar dan bawel, Mia gadis cantik dan cengeng, Vita gadis yang juga cantik kadang suka rudet, Cici gadis fiktor*, Tisa idoy versi remaja perempuan, dan Ghita si jahil yang jahilnya kebangetan.
Alsa mendelik "eh? Itukan jasnya si Hamdan kenapa ada di lo?"tanya Alsa mengambil jas Hamdan.
Mia mulai panik ia mencari alasan untuk pergi dari sana, Mia menarik paksa pakaian yang dipegang Ifa dan berkata "Fa, thanks ya udah bawain, hm gue cabut mau ganti baju dulu.. dan Ca, lo bilangin makasih sama Hamdan.. udah gue cabut ya.. bay.."
Delia menyipitkan matanya "kita harus cari tahu ada apa sama Mia dan Hamdan.."
Ifa dan Alsa saling pandang lalu menggelengkan kepala mereka.
"Gimana kalian mau gak?"tanya Delia.
"Ogah.. meningan gue liat video klipnya exo.."kata Alsa meninggalkan tempat.
"Yeh.. lo gimana Fa?"tanya Delia.
"Gue juga ogah meningan nonton Dilan..."Jawab Ifa meninggalkan Delia.
Delia memandang kepergian Ifa dan Alsa lalu berkata "ya udah kalau gak mau, gue ke kelas aja.."
***
Hay...
Ini adalah pembaruan dari fourteen, sengaja aku hapus cerita itu karena jalan cerita nya gak terlalu nyambung..
(Bilang aja emang gak nyambung author.. hahaha..)
Jangan lupa krisarnya ya.. votenya juga..
Pengingat:
-sebagian cerita ini diambil dari kisah nyata dan imajinasi author jadi apabila ada kesamaan nama atau apapun mohon dimaafkan.
Terima kasih.
YOU ARE READING
Our
Teen FictionOur adalah kisah manis dan pahitnya persahabatan yang dilalui oleh BestFF dimana keegoisan dan kepedulian akan menjadi pilihan tersulit bagi mereka. Ketika satu dari yang lainnya memutuskan untuk berpisah BestFF pun hancur dan bubar namun Mia menemu...
