Beberapa hari ada di kelas baru ini membuat Skala tidak tahan, sangat membosankan. Satu menit seperti satu tahun rasanya. Semua murid yang ada di kelas ini terasa begitu asing untuk Skala. Semua murid sangat jaim, sangat bersahabat dengan buku, sangat terbalik dengan sikap asli Skala. Gadis penakluk angka, itulah julukan yang tepat untuk Skala, tapi gadis ini sangat tidak suka membaca buku.
"Pagi, anak anak" sapa Bu Siti, guru matematika sekaligus wali kelas X IPS 2 .Murid murid yang mendengar suara itu, seketika berhenti melakukan aktivitasnya dan segera duduk di kursi masing masing.
"Pagi bu" jawab semua murid serempak.
"Pagi ini, kita akan memilih ketua kelas dan seksi yang lainnya" Beberapa murid takut untuk dipilih menjadi ketua kelas, termasuk Skala. Untuk menghindari itu, Skala menyibukkan dirinya mengerjakan soal penuh angka.
"Indi, kamu Ibu calonkan untuk jadi ketua kelas ya"
"Engga bu"
"Iya bu, pilih Indi aja" Suasana kelas sangat ramai, Skala merasa terganggu dengan itu.
"Oke, calonnya satu lagi nih, siapa yang mau?" Mata Bu Siti mencari cari mangsa dari sudut ke sudut kelas.
"Saya aja bu, nama saya Arga" Cowo gendut yang mempunyai tingkat kepedean sangat tinggi. Skala merinding melihatnya. Apa banget sih, batin Skala.
"Oke Arga" Bu Siti sangat bahagia karena dia tidak perlu capek untuk mencari mangsa.
"Pemilihan ketua kelas aja lama banget, jam pelajaran matematika kepotong nih" dumel Skala.
"Kamu kenapa? Kok sewot gitu, yang lain suka jam pelajaran matematika kepotong tapi kenapa kamu ga suka? Memangnya kamu suka pelajaran matematika ya?" mendengar gaya bicara Arga, ternyata selain gendut dia juga cupu.
"Gua suka matematika, udah gak usah kepo lagi. Balik sana ke tempat duduk lu." Arga sedikit kecewa dengan jawaban Skala, yang mengusirnya. Saat itu juga, Arga pergi meninggalkan Skala dan kembali ke tempat duduknya.
Setelah satu jam lebih musyawarah, akhirnya ketua kelas terpilih dan tentunya ketua kelas itu bukan Arga
"La, lu setuju ga sih sama ketua kelas kita? Gua kan maunya yang jadi ketua kelas itu si Gibran, tapi kenapa jadi Ara?" Merasa di diemin, Hansa pun kesal dan seketika memarahi Skala.
"La, lu kenapa diem aja sih? Kalo ditanyain itu jawab. Jangan diem aja." Menurut Skala itu tidak penting untuk dibahas. Yang paling penting itu, bukan dirinya lah yang menjadi ketua kelas.
"Kenapa lu maunya Aldi? Karna Aldi ganteng? Pikiran lo cogan mulu." Mendengar jawaban Skala seperti itu membuat Hansa badmood, Hansa cemberut dan langsung meninggalkan Skala.
Baperan,batin Skala.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 13.45 , semua murid berhamburan keluar kelas dan menuju lobi termasuk Skala karena hari ini Skala sudah janjian dengan Mario, pacar baru Skala. Walau baru 1 minggu sekolah, Skala sudah berhasil memikat lawan jenis. Mario, cowo ganteng, berkulit kuning langsat, dengan mata coklatnya, serta gaya rambut seperti cowo korea yang menambah kesan cool.
"Hai, kamu Skala kan? Kamu nunggu siapa?" Skala yang sedang sibuk dengan ponselnya, terkejut karena mendengar suara yang sudah tidak asing lagi. Skala tidak menjawab apapun. Skala hanya melihat Arga sejenak, kemudian sibuk lagi dengan ponselnya.
"Hmm.. Yaudah kalo ga mau jawab. Aku duluan ya." Skala hanya membalas anggukkan kepala.
"La, ayo naik."
"Apaan si lo? Tadi katanya mau duluan tapi kenapa sekarang malah ngajak bareng?" Jawab Skala tanpa melihat siapa lawan bicaranya itu.
"Kok kamu gitu sih? Ini aku Mario"
Mario? Mampus gue, harus jawab apa nih, batin Skala.
"Eh, Kamu. Aku kira cowo aneh itu. Maaf ya" Jawab Skala sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Makanya kalo diajak ngomong jangan fokus ke handphone. Emangnya cowo aneh yang kamu maksud itu siapa sih?" Jawab Mario, curiga dengan cowo yang dimaksud pacarnya itu.
"Ha? Engga ko, bukan siapa siapa. Udah yuk jalan aja" Jawab Skala sambil naik ke atas motor besar warna hijau milik Mario.
KAMU SEDANG MEMBACA
About Us (SAD)
RomanceSebenernya hubungan kita itu apa? Aku suka kamu, tapi bagaimana dengan dia? -SAD sebenarnya ada apakah diantara mereka bertiga??
