Chapter 1 : Petir Kegelapan

29 0 0
                                        


Plakkk..


Seorang pria bertubuh tegap menampar keras seorang wanita dihadapannya hingga wanita itu jatuh tersungkur ke bawah jalanan aspal yang basah akibat hujan deras beberapa jam lalu.. Wanita itu memekik menahan kesakitan sambil memegangi pipi kirinya yang memerah karena bekas tamparan keras dari pria tadi, airmata perlahan menetes dipelupuk matanya hingga tanpa sadar sudah membanjiri pipi wanita cantik itu..

"Nangis aja terus, kenapa lo cuma bisa nangis? Apa cuma itu yang bisa lo lakuin, hah? Perempuan lemah sial" bentak pria dihadapannya itu tanpa berniat sama sekali membangunkan wanita yang telah ditamparnya dengan kasar beberapa menit lalu.

Wanita itu tidak menjawab, terlihat bahunya naik turun menandakan ia sedang menangis hebat, hanya saja wajahnya tertutupi oleh rambut hitam panjang miliknya.. Sesaat pria itu terdiam, kemudian ia menarik rambut panjang milik wanita dihadapannya itu hingga wajah cantiknya menengadah keatas dan mata mereka pun bertemu.. Terlihat jelas raut wajah kemarahan dari pria itu, mulutnya terkunci rapat rahangnya mengeras dan nafasnya memburu disertai mata yang memerah menandakan kemarahan yang sangat dahsyat dan mungkin akan ada tindakan lain setelahnya..


Plakkk..


Lagi. Kali ini pria itu menampar pipi kanan wanita itu yang masih dalam keadaan mulus dan kini keduanya sudah memerah seperti kepiting rebus.. Wanita itu tetap diam dan menahan rasa sakit yang menggelayuti kedua pipinya itu dirasakannya kini kedua pipinya terasa sangat panas dan pedih tamparan keras dari seorang pria memang tidak bisa dianggap biasa saja.. Wanita itu masih menunduk menangis sambil sesekali memegangi pipinya bajunya yang sudah berantakan itu ia biarkan begitu saja seakan tak peduli lagi dengan keadaan dirinya kini..

Tapp... Tappp...




Pria itu perlahan melangkah pergi meninggalkan wanita itu namun seketika ia berhenti pada langkah kaki keduanya, ia menoleh sejenak memperhatikan keadaan wanita dibelakangnya itu yang masih terduduk lemas dibawah jalanan aspal yang basah.. Keadaannya sangat menyedihkan, rambut panjangnya yang tergerai berantakan dan basah disertai dengan baju dress ungu cantik yang kini telah bercampur dengan lumpur yang mengotori sisi bawahnya, sepatu highheels setinggi 5cm yang sudah tergeletak berantakan disamping kiri dan kanan wanita itu.. Sekilas ada senyum sinis terlukis dari raut wajah pria bertubuh tegap dihadapannya itu..

"Ini hukuman untuk lo yang bisa-bisanya ngeganggu Mika, perempuan sial! Sekarang jangan pernah lo muncul lagi dihadapan gue dan Mika! PAHAM!"





CETARRR.....





"AAAAHHHHHHH...." 

Suara petir membangunkanku dari mimpi buruk yang sangat ingin aku lupakan. Mimpi yang sangat mengerikan yang mulai membelengguku setiap malam ketika aku tertidur, ini sudah terjadi sejak lama lebih tepatnya 5 tahun yang lalu. Entah apakah ada yang salah dari dalam diriku atau aku yang memiliki dosa besar sehingga Tuhan menghukumku dengan cara seperti ini, setiap malam aku selalu dihantui oleh mimpi buruk yang tak pernah sirna ini setiap malam mereka membekapku dalam kegelapan dan seperti membekukan seluruh tubuhku pada kejadian terkutuk itu. Perlahan aku mengatur nafasku, seluruh tubuhku dibanjiri keringat dingin jantungku seakan sedang berlarian dan berlomba untuk segera keluar dari tubuhku ini. 

Perlahan kesadaranku mulai kembali kulihat sekeliling kamar tempatku tertidur daann.. ahh sial.. aku baru sadar kalau aku sedang berada di hotel otak ku pun berputar mengingat apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu, aku baru saja tiba di kota Surabaya untuk memenuhi undangan rapat dengan perusahaan Sanjaya Group yang ingin melangsungkan kerjasama MOU dengan perusahaan tempatku bekerja. Aku menatap layar ponselku kulihat waktu menunjukkan pukul 5 sore dan terdapat beberapa pesan dari teman kantorku disertai dengan panggilan tak terjawab beberapa kali.


"Shin jangan lupa malam ini jam 7 kamu ada janji makan malam dengan pimpinan dan beberapa staff Sanjaya Group. Persiapkan diri dan gunakan pakaian yang baik"



Begitulah isi dari banyak pesan yang masuk ke ponselku. Yah aku hampir lupa bahwa aku disini sedang memenuhi tugas dari pimpinanku untuk menggantikannya bertanggung jawab dalam rapat kali ini termasuk acara makan malam ini, menurutnya acara makan malam ini sangat penting untuk membangun relasi dan meningkatkan citra baik bagi perusahaan. Baiklah kali ini akan kutunjukkan kemampuan terhebatku, lihat saja nanti..




Aku beranjak dan melangkahkan kakiku ke kamar mandi..









Namaku Shina, Shina Iriana Wijaya. Aku tidak tahu kenapa orangtuaku memberiku nama yang begitu panjang bagiku tapi yang kutahu, dibalik namaku yang begitu panjang terselip doa-doa dan harapan dari orangtuaku untuk kebaikanku dan masa depanku, harapan yang tak pernah putus selama aku masih hidup dan menggunakan nama terindah ini. Aku bekerja disalah satu perusahaan swasta yang terkenal di Indonesia bahkan hingga di Asia, Eropa, dan Amerika perusahaan terkaya yang sangat berperan penting bagi kemajuan negara ini penyokong dana pajak terbesar dan menjadi salah satu daya tarik para investor asing untuk melakukan kerjasama dan mengunjungi Indonesia. Perusahaan besar yang bergerak dibidang teknologi bernama Arjuna Tech, disana aku bekerja sebagai sekretaris itulah yang membuatku selalu pergi ke luar kota menemani pimpinanku atau terkadang menggantikannya ketika beliau berhalangan hadir. 



Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara, 2 adikku adalah kembar 1 laki-laki dan 1 perempuan bernama Sheilla dan Shandy mereka masih duduk di bangku SMA. Sedangkan ibuku bernama Shinta dan ayahku bernama Saputra Wijaya, keluargaku bukanlah keluarga yang kaya raya dulu kami hidup dengan sangat sederhana hingga akhirnya aku bisa menjadi seperti sekarang ini berkat kerja keras dan doa dari mereka yang telah bersusah payah memperjuangkan apapun yang terbaik untukku. Sekarang aku hanya ingin terus membanggakan mereka dan membuat mereka bahagia ya.. hanya keluargaku saja yang kubutuhkan, aku tidak membutuhkan siapapun lagi hidupku sudah bahagia dengan adanya Tuhan dan mereka disampingku untuk mendukungku, aku akan terus bekerja keras untuk mereka.

DestinyStories to obsess over. Discover now