Part 1

2 1 0
                                        

Drrrttt....Dddrrttt

"CEPAT BANGUN. SUDAH WAKTUNYA SEKOLAH! JANGAN MALAS, LA!" Teriak seorang pria dari arah jendela kamarku. Dia Johan, Johan Samuel.

"Brisik sekali! Dan lagi, jangan masuk lewat jendela orang, tidak sopan sekali!" Ucapku cetus dengan muka berantakan. "Dan lagi, kau membuat mejaku berantakan"

"Sudah. Jangan banyak alasan, cepat mandi dan ayo sarapan di rumah ku. Keluargaku sudah menunggumu.

"Iya."

****

Namaku Laura, Laura Floren. Umurku 17 tahun, siswa SMA tentunya. Aku tinggal di Italia sendiri, didalam apartemen kecil yang hanya berisi kamar.

Aku sejak kecil sudah ditinggal orang tuaku. Dulu aku di asuh dengan tetanggaku, keluarga Johan tentunya. Ketika besar, aku memutuskan untuk menyewa apartemen sendiri. Orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya, mereka tinggal di Prancis.

Dengan uang yang dikirim oleh orang tuaku, aku berusaha untuk terus melanjutkan sekolah dan hidup di Italia sendirian. Dengan rasa kesepian di tinggalkan oleh orang tua.

***

"Selamat pagi." sapaku kepada seluruh anggota keluarga Johan, yang sudah ku anggap menjadi keluarga ku sendiri.

"Pagi. Ayo duduk sini, semua sudah menunggu." Dia adalah Luciy, Lucyana Grande. Anak tertua keluarga Johan.

"Ayah dan Ibu sudah berangkat?"

"Sudah." Johan duduk di sebelahku sambil menatap wajahku. Sontak itu membuat aku malu dan memalingkan wajah. "Kenapa?"

"Tidak! Lupakan."

"Laura, apa kau melupakan sesuatu lagi?" Tanya Johan sambil memakan hidangan yang sudah di siapkan kakak nya.

"Tidak, aku rasa sudah ku masukkan semua."

"Sini kuperiksa. Kemarikan tas mu." Johan menarik tas dan langsung menggeledah isi tas ku. "Ini, sudah lengkap." Ucapnya.

"Kan sudah kubilang, sudah aku siapkan semua." Ucapku sambil merapihkan buku yang sempat di acak acak Johan.

"Sudah, cepat makan dan berangkat. Johan, nanti antar Laura seperti biasa."

"Iya."

***

"Aku berangkat. Terimakasih makanannya."

"Sana, antar Laura." Lucy memukul punggung Johan sembil tersenyum kecil.

"Tanpa kau suruh, pasti aku antar."

"Hati hati di jalan."

***

"Johan, kenapa kau tidak sekolah?" Tanya ku sambil menatap wajah Johan.

"Pentingkah aku sekolah?" Ucapnya ketus sambil balik nenatap wajahku.

"Penting dong. Dengan sekolah, kamu bisa mendapatkan pekerjaan." Aku memejamkan mata seolah olah bangga dengan yang aku ucapkan.

"Urusi saja dirimu sendiri, hilangkan kecerobohan mu, baru kamu boleh menasihatiku."

"Fuh, aku tau aku ceroboh. Enggak perlu di bilangin juga kalik."

Johan menghela nafas dan menaruh tangannya di atas kepalaku. Dia mengusap kepalaku lembut dengan tangannya.

"Sudah, jangan marah. Kita kan sahabat sejak kecil." Ucapnya menggoda ku sambil tersenyum kepadaku.

"Iya iya."

***

"Sudah sampai. Aku pulang dulu." Dia pergi sambil melambaikan tangganya. Tentu saja aku membalas lambaikan tangan itu.

"JANGAN LUPA, NANTI KETIKA AKU PULANG MASAK PASTA YA!" Teriakku dari atas teras pintu sekolah.  Johan hanya tersenyum kepadaku.

***

"Laura!" teriak seseorang dari arah pintu masuk. "Pacarmu rajin sekali, mau mengantarmu berangkat sekolah."

"Tidak, kami tidak pacaran. Dia tetanggaku." Dia Adel, Adelia Rose. Teman sejak aku baru masuk ke SMA ku ini. Umurnya hampir sama sepertiku, cuman....Dia lebih tinggi dariku.

"Del, tugas dari Pak Win....Kamu sudah selesai?"

"Sudah dong. Aku dapat contekan dari Brily, tehe."

"Pintar sekali. Aku liat ya nanti."

"Beres deh."

______________________________________________

Jangan lupa vote, comment,
and follow me😳
______________________________________________

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 16, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Last UniformWhere stories live. Discover now