Prolog

64 5 1
                                        

Pencet bintang nya dong gass😂~~
Happy Reading!

-----------------------------------------------------------

Kepala ku mengangguk seraya menyelaraskan dengan dentuman musik yang kian mengeras. Hari semakin larut, namun tidak di sini. Semakin tinggi bulan maka akan semakin ramailah suasana nya.

Mata ku sempat melirik beberapa orang di lantai dansa. Tubuh mereka meliuk kian kemari seringan udara malam. Dan yah di sini lah aku berada.

Seorang pelayan menghampiriku dengan beberapa minuman di tangannya. Aku tersenyum saat melihat pesanan ku berada tepat di salah satu tangannya yang penuh.

"Berhati-hatilah tuan. Saya tidak ingin  anda kembali kehilangan kesadaran," ujar pelayan tadi seraya meletakkan minuman yang ku pesan.

Aku tertawa renyah saat menatap betapa raut wajah pria yang lebih tua beberapa tahun dari ku itu. Wajah nya seakan mengatakan ia mulai bosan dengan rasa cemas nya.

"Tenang saja, kali ini aku pasti bisa mengalahkan minuman ini," jawabku santai.

"Berani sekali kau minum tanpa mengundang kami!" sebuah seruan yang mengalihkan pandanganku pada dua orang pemuda di balik punggung si pelayan.

"Haruskah?" tanyaku datar saat melihat siapa yang datang menghampiri meja ku.

"Dasar anak ingusan tak tahu malu. Jelas kami ini perlu berada di sini. Coba kau pikir siapa yang akan membantumu nanti nya. Tentu saja-"

"Dia yang akan membantuku," potong ku dengan telunjuk yang mengarah pada pelayan yang masih setia di meja kami.

Ya, kami, karena dua pria tadi sudah mengambil tempat mereka di hadapanku. Bahkan mereka tak segan memesan beberapa makanan pada pelayan itu.

Tanpa banyak bicara pelayan tadi meninggalkan kami bertiga dengan tiga gelas kecil beserta minuman ini.

"Mari kita mulai!" seru pria dihadapanku ini.

Ia membuka penutup minuman itu dan mulai menuangkannya pada gelas kami. Setelah beberapa proses pengaduan tiga gelas selesai, kami langsung meneguk minuman itu hingga tandas.

Lima menit kemudian...

"Akhh..."

"Kau gila, jelas kedua bocah itu tak akan pernah mengetahuinya hingga akhir. Seperti yang sudah mereka rencanakan," racauku di tengah kesadaran yang makin menipis.

"Tidak mungkin, mereka pasti akan tahu pada akhirnya," pria dihadapanku mulai membantah dengan kondisi yang tak jauh berbeda.

"Bukankah itu sangat kejam jika mereka tetap tidak mengetahui siapa orang tua kandung mereka sampai episode terakhir," pria di sampingnya juga ikut memberikan pendapat dengan air mata yang siap meluncur.

"Bagaimana dengan Kak Ros yang masih terus menjomblo dan belum memiliki pasangan. Pasti dia sangat kesepian," pemuda dihadapanku kembali meracau.

"Haha, kau pikir hanya dia yang kesepian. Di sini juga ada seseorang yang baru saja kesepian bukan?" aku mulai menggoda kedua pria tadi.

"ah, ku rasa kau benar. Siapa pula yang ingin memiliki anak seperti dua bocah botak itu. Tidak akan ada," pria yang sebelumnya membantah itu kini mengangguk takjim.

"Tidak semuanya botak. Salah satu dari mereka memiliki sehelai rambut yang manis," mulutku kembali membela seseorang yang tengah kami bicarakan.

"Ya, rambut yang sangat menerapkan prinsip hemat."

"Apa kalian sudah gila?" pelayan yang tadi melayani kami tiba-tiba saja menegur kami.

"Hai, Rob. Apakah kami tampan?" sapaku pada pelayan yang kini telah berganti pakaian. Jam kerjanya telah selesai, itu artinya kami bebas memanggil namanya kini.

Beberapa pengunjung wanita yang lewat semakin sering melirik ke arah meja kami. Beberapa dari mereka bahkan telah seperti kepiting rebus saat melihat kami.

"Terserah kalian mau berkata apa. Sekarang biarkan aku bertanya. Kalian yakin bisa mabuk hanya karena sekaleng susu beruang yang bahkan belum kalian habiskan?!" pelayan bernama Roby itu menatap kami tak percaya.

"Siapa yang mabuk?" tanya ku pada nya.

"Tentu saja kau, Tuan Rajatora," pemuda dihadapanku kembali berkicau.

"Aku? Lalu kalian bagaimana?" tunjukku pada kedua pria tampan itu.

"Kami tampan," jawab keduanya santai lalu tertawa bersamaan.

"Ya kalian tampan, tapi otak kalian sedikit bergeser. Apakah semua remaja jaman sekarang seperti kalian?" tanya Roby seperti gumaman.

"Hanya pria tampan yang bisa melakukannya, Rob," jawabku pasti.

Terdengar helaan napas panjang dari Roby. Ia tampak tak habis pikir oleh tingkah kami di tempat ia bekerja. Wajah nya seakan berkata, bagaimana mungkin para pewaris keluarga ternama memiliki tingkah gesrek seperti ini?

"Baiklah, ini saatnya pulang bayi-bayi besarku!" ujar Roby seraya memanggil beberapa orang berpakaian hitam ke arah kami bertiga.

"Kami akan lebih sering mampir, Rob," ujar kami bertiga bersamaan sebelum di bawa oleh pria berpakaian hitam itu.

"Ku harap juga begitu," gumam Roby.

**TBC**
Hallo gass!!
Balik lagi ya bareng Dicky, Yara dkk di lapak ncek. Udah lama ga sih koncek hiatuss. Tapi kita mulai lagi yaa dari awal. Dan ini dia prolog hasil revisi selama beberapa bulan ini.

Salam Cinta
-Koncek Ijo-

DiYaStories to obsess over. Discover now